
Tok tok tok.
Ceklek.
Pintu di buka dari luar. Devan sudah tau siapa yang telah berani masuk tanpa se izinnya.
''Ada apa sayang?'' tanya Devan.
''Apa kamu tadi melihat mata Cezy yang sembab Van?'' tanya Salsa yang berjalan mendekat ke arah Devan.
''Hem, iya. Kata Cezy dia terlalu lama tidur makanya matanya menjadi sembab,'' ucap Devan yang masih fokus pada laptop yang ada di depannya.
''Apa kamu percaya begitu saja?'' tanya Salsa mengangkat sebelah alisnya.
''Memangnya kenapa?'' tanya Devan balik.
''Apa kamu tadi bilang ke dia kalau kita punya hubungan?'' tanya Salsa, Devan hanya menganggukkan kepalanya pertanda benar.
''Pantas saja,'' ucap Salsa.
''Kenapa? Ada apa?'' tanya Devan melihat Salsa dengan penuh tanda tanya.
''Dia sedang patah hati,'' ucap Salsa memijit pelipisnya.
''Patah hati?'' tanya Devan mengerutkan keningnya.
''Iya dia patah hati karna kita punya hubungan spesial, bukan hanya atasan dan bawahan,'' ucap Salsa menjelaskan.
''Kan aku sudah pernah bilang jika Cezy menyukaimu,'' ucap Salsa.
''Tapi bagaimana bisa?'' tanya Devan bingung.
''Ya bisa aja lah. Kamu itu tipe dia banget, duren,'' ucap Salsa.
''Apaan sih Sa,'' ucap Devan.
''Beneran Sayang. Kamu itu tipe Cezy banget. Chaca yang bilang sendiri jika Cezy suka sama duda. Dan aku tadi bertanya pada Cezy tentang perasaannya kepadamu, dan benar saja dia mengakuinya. Namun Cezy juga akan segera melupakanmu,'' ucap Salsa.
''Ada-ada saja,'' ucap Devan memijit pelipisnya.
Setelah kejadian hari itu, Cezy terlihat menghindar dari Devan. Ia selalu menundukkan pandangannya saat bertemu dengan Devan.
*
__ADS_1
*
1 minggu pun berlalu, kini Devan dan Salsa sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Salsa ingin sekali menyuruh sekretarisnya untuk mengurus semuanya, tapi semua itu tidak bisa ia lakukan karna sekretarisnya pernah menaruh hati kepada calon suaminya. Ia tak mau jika Cezy merasakan sakit hati terlalu dalam. Biar bagaimana pun Salsa juga masih punya hati nurani. Salsa sudah menganggap Cezy sebagai adiknya sendiri, walaupun Salsa tak bisa melepaskan Devan untuk Cezy.
''Jangan terlalu lelah. Nanti kamu bisa sakit,'' ucap Devan dengan penuh perhatian.
''Aku ngak lelah kok. Aku terlalu bersemangat saja Van,'' ucap Salsa tersenyum ke arah Devan.
''Gimana undangannya? Udah di sebar semua?'' tanya Salsa kepada Devan.
''Udah beres sayang. Kamu tenang aja,'' ucap Devan.
''Besok kita fitting baju Van,'' ucap Salsa.
''Baiklah,'' ucap Devan menurut.
*
*
Di perusahaan Bora Group.
Chaca yang saat ini tengah ikut suaminya ke kantor mendapat undangan dari sahabatnya. Undangan pernikahan Salsa dan Devan sudah sampai di tangan Chaca.
''Itu namanya sudah jodoh sayang. Lepas dari kamu jodoh ke sahabat kamu,'' ucap Ronald menimpali.
''Berarti jodoh Salsa lewat aku ya?'' tanya Chaca tiba-tiba.
''Hem, bisa di bilang seperti itu,'' ucap Ronald yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Setiap hari Ronald mengurus perusahaan Bora Group. Perusahaannya sendiri ia titipkan kepada asisten sekaligus sahabatnya yaitu Reno. Ronald sangat percaya dengan kemampuan Reno yang bisa di andalkan.
Hari pun semakin sore, Ronald mengajak istrinya untuk pulang ke rumah. Ia takut jika istrinya kelelahan, apalagi sekarang usia kehamilannya sudah 8 bulan.
''Sayang gimana baby boy? Apa mereka ingin mengajak daddynya main bola hari ini?'' tanya Ronald mengelus perut besar Chaca.
''Mereka aktif banget Dad, sampai-sampai aku kualahan sendiri,'' ucap Chaca.
Chaca merasa anak yang sedang di kandungannya saat ini adalah anak yang super aktif. Mereka tak pernah berhenti menendang-nendang perut Mommy nya. Chaca juga sangat bahagia karna merasakan perutnya mengalami gerakan-gerakan dari dalam.
''Jadi anak yang sholeh sayang, yang nurut sama Mommy dan Daddy,'' ucap Ronald mengelus perut Chaca.
''Aamiin,'' ucap Chaca mengamini doa terbaik dari suaminya.
__ADS_1
Chaca tak sabar ingin bertemu dengan malaikat-malaikat kecilnya. Betapa lucu dan menggemaskannya baby boy mereka. Apa mereka seperti Mommy Chaca atau seperti Daddy Ronald? Tapi yang pasti baby boy mereka adalah jelmaan dari 2 manusia tersebut. Entah nanti mirip dengan Ronald atau dengan Chaca.
*
*
Ronald dan Chaca baru sampai di teras rumahnya. Namun Cezy tiba-tiba datang lalu memeluk Chaca dengan erat. Ronald yang tak ingin ikut campur urusan mereka segera masuk ke dalam rumah.
''Kak, dia mau nikah,'' ucap Cezy yang menangis sesenggukan.
''Siapa?'' tanya Chaca yang tak tau dengan cerita Cezy Salsa dan Devan. Chaca hanya tau jika Cezy mencintai seorang duda di kantornya.
''Pak Devan Kak. Dia mau nikah sama sahabat Kakak itu loh,'' ucap Cezy yang masih memeluk Chaca.
''Jadi selama ini kamu mencintai duda seperti Devan. Apa kamu tau siapa Devan itu? Devan adalah mantan Kakak Cez. Yang benar saja kamu mencintainya,'' ucap Chaca tak habis fikir dengan jalan cerita Cezy.
''Aku ngak peduli walaupun dia mantan Kakak atau bukan. Yang penting dia tampan dan seorang duda. Cezy sudah jatuh hati kak sama dia,'' ucap Cezy kesal kepada Kakaknya.
''Tapi kamu harus membuang rasa cinta konyolmu itu. Karna Salsa akan segera menikah dengan Devan,'' ucap Chaca menatap tajam adiknya itu.
''Gimana aku bisa melupakannya Kak, kalau tiap hari kita bertemu. Bahkan ruangan kita bersebelahan. Aku ngak bisa Kak,'' ucap Cezy dengan mengusap air matanya yang terus menerus jatuh.
''Kamu harus bisa Cez. Sebentar lagi dia milik orang lain. Apa kamu mau menjadi pelakor, hah?'' tanya Chaca yang tersulut emosi. Cezy yang mendengar Kakaknya marah, hanya bisa diam.
''Mending sekarang kamu pulang ke rumah Mama. Aku akan pikirkan solusinya nanti,'' ucap Chaca memijat kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Chaca meninggalkan Cezy yang masih diam mematung di tempatnya.
''Mikirin hidup orang rasanya pengen gila,'' ucap Chaca yang masih mengomel sendiri saat masuk ke dalam kamarnya. Ronald yang mendengar istrinya mengomel ingin sekali bertanya kenapa, namun ia urungkan.
Setelah sampai di kamar, Chaca segera mengambil baju ganti dan berlalu ke kamar mandi tanpa mengucap satu patah kata. Selang beberapa saat ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sudah basah.
''Mas, apa Cezy bisa bekerja di kantor Mas?'' tanya Chaca kepada Ronald. Chaca mendapatkan ide saat berada di kamar mandi tadi.
''Hem, sebenarnya tidak ada sih lowongan pekerjaan. Tapi untuk adik sendiri, akan aku carikan,'' ucap Ronald.
''Terima kasih Sayang,'' ucap Chaca memeluk tubuh Ronald dengan erat.
''Apapun akan aku lakukan demi membuat kamu tersenyum sayang,'' ucap Ronald mengusap rambut lurus Chaca.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Nulis bab ini benar-benar membutuhkan banyak ide. Karna othor lagi kurang enak badan guys. Jadi fikirannya kurang fokus😊