
''Papa beri kamu waktu 3 tahun. Kalau kalian tidak ada rasa satu sama lain kalian tidak usah menikah,'' ucap Papa Sanjaya.
''Benarkah pa?'' tanya Ronald dengan mata berbinar. Setelah 3 tahun ia terbebas dari perjodohan gila ini. Pikirnya.
''Ya,'' ucap Papa Sanjaya.
''Tapi Papa tidak yakin jika kamu tak menyukainya. Chaca terlalu cantik dan pintar.'' Batin Papa Sanjaya tersenyum licik.
*
*
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam terus berputar. Dan hari ini Ronald akan bekerja sebagai asisten Chaca di perusahaan Bora Group. Sebenarnya ia tidak ingin berada di posisi seperti ini. Karna paksaan dari kedua orang tuanya dan amanah dari omanya ia harus melakukan ini semua.
''Gimana kalau yang namanya Chaca itu mukanya sudah tante-tante. Omegott aku ngak bisa membayangkan kalau aku menikah dengan tante-tante.'' Ronald mondar mandir di kamarnya. Ronald masih berperang dengan pikirannya sendiri. Ia takut sekali jika Chaca tua atau bisa di sebut muka boros.
Tok tok tok
Pintu di ketuk dari luar. Suara Mama Reni membuyarkan bayangan Ronald.
''Ro, ayo sarapan. Kan hari ini hari pertamamu bekerja.'' Ajak Mama Reni.
''Iya ma, Sebentar Ronald siap-siap dulu,'' ucap Ronald. Ronald memakai celana casual berwarna hitam, kemeja berwarna navy dan setelan jas senada dengan celananya. Rambut sedikit plontos khas Ronald kulit putih dan badan tinggi. Sungguh pesona Ronald tiada tanding. Banyak perempuan di kampusnya yang mengejar ngejar Ronald tapi Ronald bersikap biasa saja karna memang Ronald tidak menyukai perempuan yang suka mengejar laki-laki.
Setelah selesai bersiap-siap Ronald berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mama Reni, Papa Sanjaya dan seorang wanita paruh baya seumuran dengan Mama Reni.
''Pagi Ma, Pa.'' Sapa Ronald. Ia masih bertanya-tanya siapa wanita yang di sebelah mamanya ini.
''Pagi sayang. Oh iya Ro, kenalin ini Mama Luna calon mertua kamu,'' ucap Mama Reni antusias memperkenalkan Mama Luna kepada Ronald.
''Hallo Ronald, Ternyata kamu sudah besar ya. Chaca sangat beruntung mempunyai calon suami sepertimu,'' ucap Mama Luna. Ronald hanya tersenyum canggung saat Mama Luna berkata seperti itu. Apa Chaca terlalu jelek hingga Chaca sangat beruntung mempunyai calon suami sepertinya. Pikir Ronald.
''Ro, nanti kamu akan di antar oleh tante Luna ke kantor Chaca,'' ucap Mama Reni.
''Iya Ma.'' Ronald hanya mengiyakan.
''Sebenarnya seperti apa sih sosok Chaca. Semalam aku sampai tak bisa tidur hanya memikirkan wajahnya. Aku takut sekali kalau dia tidak sesuai dengan kriteriaku.'' Batin Ronald. Mereka menikmati sarapan bersama. Setelah selesai sarapan Ronald dan Mama Luna berpamitan.
''Pa, Ma Ronald berangkat dulu ya. Semoga kerjaan Ronald lancar.'' Pamit Ronald.
''Aamiin,,, Mama selalu doain kamu kok, semoga benih-benih cinta segera tumbuh di hati kalian.'' Goda Mama Reni.
__ADS_1
''Mama apaan sih.'' Ronald sebal jika di goda oleh Mamanya seperti ini.
Ronald dan Mama Luna berangkat menuju Bora Group. Mama Luna sengaja menjemput calon menantunya untuk memberi kejutan kepada Chaha.
''Gimana Ro? kamu sudah siap?'' tanya Mama Luna.
''Siap ngak siap harus siap tante,'' ucap Ronald berbicara datar.
''Rasanya aku ingin gilaa.'' Batin Ronald.
Setelah perjalanan beberapa menit, mobil yang mereka kendarai sampai juga di perusahaan Bora Group. Perusahaan yang lumayan besar. Batin Ronald.
''Ayo kita masuk.'' Ajak Mama Luna. Ronald mengikuti di belakang Mama Luna. Semua mata melihat ke arah mereka berdua tanpa ada yang berani bertanya. Setelah sampai lantai 22 mereka segera menuju ruang Chaca.
''Apa Chaca ada di dalam?'' tanya Mama Luna kepada Nina Sekretaris Chaca.
''Ada Bu, silahkan masuk,'' ucap Nina.
Mama Luna masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
Ceklek
''Hay sayang.'' Sapa Mama Luna.
''Mama bawakan asisten untuk kamu,'' ucap Mama Luna tersenyum.
''Asisten?'' tanya Chaca menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatap mamanya.
''Ya asisten baru buat kamu,'' ucap Mama Luna.
''Suruh dia masuk. Dan Mama silahkan pergi,'' ucap Chaca datar.
''Kamu ngusir mama?'' tanya Mama Luna kepada Chaca. Ia tak habis fikir di usir oleh anaknya sendiri.
''Aku lagi sibuk Ma, dan tolong jangan ganggu aku,'' ucap Chaca tanpa menoleh ke arah Mamanya. Sebenarnya Chaca masih tidak terima dengan syarat yang kemarin di berikan oleh Mama Luna.
''Oke kalau gitu Mama pulang,'' ucap Mama Luna, Mama Luna berbalik dan memanggil nama Ronald. ''Ronald silahkan masuk,'' ucap Mama Luna.
Ronald masuk kedalam ruangan Chaca. Sebenarnya hatinya saat ini tidak bisa di ajak tenang.
''Permisi Nona,'' ucap Ronald.
__ADS_1
''Silahkan duduk,'' ucap Chaca tanpa melihat ke arah Ronald. Ronald duduk di depan Chaca. Sedangkan Chaca masih sibuk dengan pekerjaannya.
''Cantik.'' Satu kata yang keluar dari batin Ronald.
''Ternyata umur bisa menipu seperti ini. Kalau saja aku tidak tau umurnya pasti aku akan tertipu dengan wajah cantik dan imutnya.'' Batin Ronald.
Beberapa menit kemudian, Chaca masih sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa jika ada seseorang yang berada di depannya.
''Ehm.'' Ronald berdehem memecah keheningan. Chaca yang mendengar langsung menatap lurus kedepan.
''Maaf, perkenalkan namamu.'' Perintah Chaca.
''Perkenalkan nama saya Ronaldhina Sanjaya. Biasa di panggil Ronald,'' ucap Ronald memperkenalkan diri.
''Selamat bergabung di perusahaan Bora group. Semoga kamu betah,'' ucap Chaca tanpa senyum yang menghiasi wajahnya. Berbeda saat pertama bertemu dengan Devan.
Saat ini Ronald sudah berada di dalam ruangannya. Ia sempat berfikir apa ketampanannya sudah hilang? Kenapa Chaca menatapnya biasa saja. Padahal biasanya wanita jika berhadapan dengannya pasti selalu merasa berhadapan dengan pangerannya.
''Apa kadar ketampanan ku sudah hilang. Sampai Chaca berekspresi datar seperti itu,'' ucap Ronald.
''Tapi papa ngak salah juga sih jodohin aku sama dia, bener-bener tipeku banget,'' ucap Ronald lagi.
Ronald bekerja dengan lancar hari ini. Dia tidak perlu tanya ini itu karna papanya juga pernah mengajarinya bekerja di perusahaan.
Tok tok tok
''Masuk,'' ucap Chaca dari dalam ruangan.
''Permisi Nona, Sudah waktunya makan siang. Sebaiknya nona istirahat.'' Ronald menunjukkan perhatiannya kepada Chaca.
''Silahkan makan siang Ronald. Aku masih kenyang,'' ucap Chaca.
''Tapi Nona belum makan, gimana nanti kalau Nona Sakit,'' ucap Ronald.
''Tidak usah mengkhawatirkan aku Ro. Silahkan kamu istirahat dulu.'' Chaca menolak dengan halus.
''Baiklah Nona, saya permisi,'' ucap Ronald.
Ronald berjalan menuju kantin. Ia tidak ingin mati kelaparan karna menunggu Chaca.
''Kenapa sikap cool ku hilang saat berhadapan dengannya. Jangan jadi murahan gini dong ro, biasanya kamu yang di kejar-kejar. Tapi sekarang malah mengejar.'' Batin Ronald dengan menyantap makan siangnya
__ADS_1
.
Jangan lupa tinggalkan kopi dan bunga biar othor tambah semangat ngehalunya😁