
''Segitu dekatnya Chaca dan Devan? Tapi kenapa Devan tiba-tiba di pindah ke perusahaan cabang? Aku benar-benar tidak bisa berpikir.'' Batin Ronald.
*
*
Di Bandara Ibu Kota
Chaca, Wilson dan Nicco berjalan ke ruang penjemputan. Ia menunggu Salsa di sana. Mereka tidak sabar ingin bertemu karna terakhir mereka bertemu saat mereka lulus sekolah menengah atas.
Seorang wanita cantik, berambut pirang, berkulit putih dan tinggi sedang berjalan sambil membawa koper yang ada di tangan kanannya. Kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya menambah kecantikannya.
''Salsaaaa.'' Teriak Chaca. Ia segera berlari kearah Salsa begitupun sebaliknya Salsa juga berlari kearah Chaca. Mereka berpelukan di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang.
''Aku rindu banget sama kamu,'' ucap Chaca memeluk Salsa dengan erat.
''Aku jauh lebih rindu Chaa,'' ucap Salsa membalas pelukan Chaca.
''Cuma Chaca aja nih yang di peluk, kita ngak?'' tanya seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Wilson.
''Wilson, Nicco,'' ucap Salsa lalu memeluk Wilson dan Nicco bersamaan.
''Aku rindu banget sama kalian,'' ucap Salsa mengusap sudut matanya yang berair.
Setelah acara pelukan mereka memutuskan pergi dari sana. Mereka ingin makan di dekat sekolah mereka yang dulu, mereka ingin mengulang kisah kasih di sekolah.
Setelah setengah jam perjalanan mereka sampai di depan sekolah mereka dulu, Mereka ingin menikmati mie ayam dan juga bakso ter enak yang pernah mereka makan. Sebenarnya Chaca bisa kapan saja makan di sana, tapi pasti berbeda karna sahabat-sahabatnya tidak ada.
Chaca memesan mie ayam dan juga bakso untuknya dan untuk ketiga sahabatnya.
''Masih ingat kan Cha dengan selera kita,'' ucap Nicco.
''Beress,'' ucap Chaca mengangkat jempolnya.
''Pak mie ayam dan bakso campur 4 ya. Yang 1 mienya separoh aja, Yang 1 ngak pakek daun sawi, Yang 1 ayamnya di banyakin Pak dan yang 1 nya lagi baksonya yang kecil-kecil aja,'' ucap Chaca memesan bakso.
''Siap Non, Di tunggu ya,'' ucap kang bakso yang sampai mencatat pesanan Chaca karna berbeda-beda selera mereka.
Setelah beberapa saat pesanan yang mereka pesan sudah ada di depan mereka. Chaca hanya menambahkan kecap dan sambal ke dalam mangkuknya, sementara Salsa hanya menggunakan kecap saja karna takut dengan rasa cabe, Wilson sama seperti Chaca yang hanya menggunakan kecap dan sambal berbeda dengan Nicco yang komplit.
Wilson mengambil ayam yang ada di mangkuk Chaca. Itu adalah kebiasaan Wilson saat sekolah dulu.
''Wilson kamu itu kebiasaan ya, ayamku selalu kamu makan,'' ucap Chaca sedih.
__ADS_1
''Dikit doang kok, aku kurang Cha ayam nya,'' ucap Wilson memelas.
''Nih ayamku makan aja, kenapa sih selalu merebutkan ayam,'' ucap Nicco memutar bola matanya melihat kebiasaan sahabat-sahabatnya.
Salsa hanya tertawa kecil melihat sahabat-sahabatnya tak pernah berubah.
''Nih Cha aku tambahin ayamku, Biar badan kamu tambah berisi.'' Salsa menaruh ayam-ayam suwiran kemangkuk Chaca
''No Sa, bawa badan segini aja udah berat jangan di tambahin lagi,'' ucap Chaca.
Mereka menikmati makan dan sesekali bersendau gurau. Mereka benar-benar rindu saat-saat masa sekolah.
Tringgg
Suara handphone Chaca berbunyi. Chaca segera mengambil hp nya yang ada di dalam tas. Ia menyipitkan matanya karna melihat nomor yang tak di kenalnya.
''Halo,'' ucap Chaca.
''Hallo Nona, Saya Ronald. Ada berkas yang harus anda tanda tangani Nona,'' ucap Ronald.
''Sekarang kamu ke sini saja Ro, kebetulan aku ngak jauh kok dari perusahaan sekalian jemput aku. Nanti aku sharelok,'' ucap Chaca.
''Baik Nona,'' ucap Ronald di balik telepon.
Chaca segera mematikan panggilan teleponnya dan men share lokasinya sekarang. Selang beberapa menit mobil yang di kendarai oleh Ronald sampai di sebuah warung kecil yang ada di depan sekolah. Ronald bingung apa benar di sini lokasinya. Ia turun dari mobil dan mengecek ke dalam warung tersebut dan benar Chaca ada di sana dengan teman-temannya yang berpenampilan bukan orang biasa.
''Selamat sore Nona.'' Sapa Ronald.
''Ronald kamu sudah sampai? mana dokumen yang harus aku tanda tangani?'' tanya Chaca.
''Ini nona.'' Ronald menyerahkan dokumen yang ja bawa tadi dari kantor.
''Dia siapa Cha?'' Bisik Wilson yang berada di sebelahnya.
''Dia asistenku,'' ucap Chaca sambil membaca dokumen yang akan di tanda tangani.
''Yang kemarin kemana?'' tanya Wilson memperhatikan penampilan Ronald.
''Dia di pindahi sama Mama ke perusahaan cabang,'' ucap Chaca.
'' Whyy?'' tanya Wilson.
''Hubungan kami belum mendapat restu,'' ucap Chaca. Nicco sampai tersedak saat mendengar ucapan Chaca.
__ADS_1
''Memangnya hubungan kalian apa?'' tanya Nicco penasaran.
''Kami berencana menikah bulan depan. Orang tua Devan sangat merestui hubungan kami. Tapi tidak untuk Mama. Mama bersikeras tidak merestui hubungan kami,'' ucap Chaca dengan sendu. Ia mengingat Mamanya yang mati-matian tak merestui hubungan mereka.
''Maafin aku ya Chaa. Bukan maksud ku untuk menggali lukamu,'' ucap Wilson.
''Ngak papa Wil. Aku malah senang bisa curhat lagi sama kalian,'' ucap Chaca dengan senyum yang di paksakan. Sedangkan di sebelah Chaca Ronald mendengarkan ucapan Chaca barusan.
''Ternyata hubungan mereka tidak di restui oleh tante Luna. Ya iya lah ngak di restui, orang Chaca di Jodohin dengan Ronaldhina Sanjaya yang tampan paripurna ini.'' Batin Ronald tersenyum bahagia.
''Ro, kamu mau makan?'' tanya Chaca membuyarkan lamunan Ronald
''Ti tidak Nona, saya masih kenyang,'' ucap Ronald dengan menerima dokumen yang tadi ia bawa.
''Tapi aku masih makan, tunggu sebentar ya,'' ucap Chaca.
''Baik Nona, saya akan menunggu di kursi sana,'' ucap Ronald menunjuk kursi yang kosong.
Chaca masih melanjutkan makan dan mengobrol. Ia bahkan melupakan orang yang telah menunggunya itu. Ronald di buat kesal oleh tingkah Chaca. Ia tidak pernah menunggu seorang wanita sampai seperti ini.
''Untung dia jodohku, Kalau ngak udah aku tinggal dari tadi.'' Batin Ronald mengomel.
Beberapa saat kemudian Chaca pamit terlebih dahulu karna merasa badannya terlalu capek hari ini.
''Aku pamit dulu ya, badanku rasanya capek banget.'' Pamit Chaca kepada teman-temannya.
''Hati-hati Chaa. Kapan-kapan aku akan main ke tempatmu,'' ucap Salsa.
''Pintu selalu terbuka buat kamu Sa,'' ucap Chaca tersenyum.
Setelah berpamitan dengan teman-temannya Chaca mengajak Ronald untuk pulang. Saat baru beberapa langkah Wilson selalu menggodanya.
''Hati-hati Cha. Awas kalau jatuh cinta lagi sama asistenmu.'' Goda Wilson.
''Apaan sih Wil, aku bukan penyuka berondong ya,'' ucap Chaca yang tak sengaja terdengar di telinga Ronald.
''Tapi kalian cocok lo walaupun yang satu masih berondong,'' ucap Salsa juga menggoda.
''Apaan sih kalian ini. Aku mau pulang,'' ucap Chaca lalu meninggalkan teman-temannya.
''Walaupun kamu bukan penyuka berondong tapi aku akan buktikan kalau kamu pasti bisa menjadi milikku selamanya Chaa.'' Batin Ronald. Ia segera menyusul Chaca yang sudah duluan ke mobil. Ronald melihat Chaca yang terus menguap dan bersender di kursi namun beberapa saat Chaca memejamkan matanya.
*
__ADS_1
*