I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 39


__ADS_3

''Aku sama sekali ngak percaya. Aku akan menceraikanmu setelah anak itu lahir,'' ucap Devan berlalu meninggalkan Monica yang masih mematung di tempatnya.


''Devan!! tunggu.'' Monica terus mengejar Devan yang berlari menjauh darinya. Tiba-tiba...


Bruggh


Monica terjatuh saat menuruni anak tangga yang ada di tempat tersebut.


''Devan tolongggg,'' ucap Monica lemah. Ia merasa perut dan pinggangnya sangat sakit. Devan yang mendengar suara orang jatuh pun langsung berbalik. Ia melihat Monica yang sudah tersungkur di tanah.


''Mon! Monicaa!!! bangun,'' ucap Devan menepuk nepuk pipi Monica agar monica sadar, tapi Monica terus memejamkan matanya.


Dan tak sengaja Devan melihat ada darah di kaki Monica. Devan langsung mengangkat Monica lalu di bawa ke rumah sakit dekat tempat tersebut.


''Bangun Monn!'' ucap Devan yang terus menyadarkan Monicq, tapi Monica masih setia menutup matanya.


''Lebih cepat pak.'' Perintah Devan kepada sopir taxi tersebut.


Selang beberapa saat Devan sampai di Rumah Sakit. Ia segera menggendong Monica masuk ke dalam Rumah Sakit.


''Suster tolong sus,'' panggil Devan yang saat ini menggendong Monica. Suster segera membawa Monica ke ruang IGD dan Devan menunggunya di luar. Selang beberapa saat Dokter yang memeriksa Monica keluar dari ruangan IGD.


''Gimana keadaannya Dok?'' tanya Devan. Ia malas sekali menyebut Monica dengan sebutan istri. Memang dari awal menikahi Monica adalah suatu kesalahan terbesarnya.


''Apa bapak keluarganya?'' tanya Dokter perempuan yang memeriksa Monica.


''Iya Dok, bagaimana keadaan Monica?'' tanya Devan.


''Maaf pak saya tidak bisa menyamatkan janin yang ada di rahim pasien. Kandungannya masih terlalu lemah, di tambah lagi pasien baru saja terjatuh, dan itu membuat pasien keguguran,'' ujar Dokter.


''Jadi Monica keguguran Dok? terus keadaan Monica sekarang bagaimana?'' tanya Devan.


''Saat ini pasien sedang dalam pengaruh obat. Bapak bisa menjenguknya setelah pasien di pindahkan ke ruang rawat,'' ujar Dokter.


Jujur Devan saat ini bingung, harus sedih atau bahagia. Di satu sisi ia sedih kehilangan calon anaknya, di sisi lain ia bahagia karna sebentar lagi mengakhiri pernikahannya dengan Monica.

__ADS_1


Setelah Monica di pindahkan ke ruang rawat, Devan masuk ke ruangan yang di tempati Monica. Ia mendapati Monica yang saat ini menangis tersedu-sedu. Devan tak tau mengapa Monica menangis seperti itu? apa Monica terlalu sedih kehilangan anaknya atau bagaimana Devan juga bingung. Ia tak pernah mendapati Monica menangis sampai seperti itu.


''Mon,'' ucap Devan.


''Sekarang kamu puas sudah membunuh anak kita!! kamu puas kan!!!!'' teriak Monica seperti orang kesetanan.


''Kenapa kamu nyalahin aku, kamu yang jatuh sendiri,'' ucap Devan yang tak mau di salahkan oleh Monica.


''Aku jatuh karna mengejarmu Devan. Andai kamu mau mendengarkan penjelasanku, aku tak akan kehilangan anakku,'' ucap Monica dengan berderai air mata.


''Cukup Mon cukup!!! aku tau kamu tidak menangisi anakmu, tapi kamu takutkan jika aku menceraikanmu,'' ucap Devan marah.


''Aku aku . . .


''Sudah Mon cukup!!! kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi. Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu. Hubungan kita cukup sampai di sini saja. Aku akan menceraikanmu,'' ucap Devan lalu meninggalkan Monica yang masih diam di atas tempat tidur.


''Devan kamu benar-benar keterlaluan!!'' teriak Monica yang sudah tidak di dengar oleh Devan.


Devan berjalan keluar rumah sakit, keputusannya sudah bulat ia akan menceraikan Monica. Ia tak mau terus-terusan bersama jal*ng itu.


Hari itu juga Devan mendaftarkan perceraiannya ke pengadilan agama. Dan setelah resmi bercerai Devan akan kembali ke Jakarta memulai kehidupan baru di jakarta.


*


*


''Sayang, lihatlah di kursi sebelah sana.'' Ronald menunjuk sepasang suami istri yang sedang memangku anak kembarnya, mereka terlihat sedang asik menyuapi anak kembar mereka. ''Aku ingin suatu saat kita seperti itu,'' ucap Ronald.


''Aku akan mewujudkannya sayang,'' ucap Chaca tersenyum menggoda ke arah Ronald.


''Jangan pancing-pancing mas sayang. Kalau mas udah na*su, mas ngak tau tempat loh. Memangnya kamu mau mas makan di sini,'' ucap Ronald yang sudah terpancing hanya dengan melihat senyuman Chaca.


''Ih mulai mesum deh,'' ucap Chaca menekuk wajahnya. Ia tak tau apa yang di pikiran suaminya ini. Ia hanya tersenyum tapi kenapa Ronald malah tergoda, aneh bukan?


''Ehmm, Mas aku pengen tanya sesuatu,'' ucap Chaca ragu-ragu.

__ADS_1


''Tanya apa yank?''


''Mas udah pengen banget ya punya baby?'' tanya Chaca. Ronald menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


''Mas kan masih muda, mas ngak pengen gitu menikmati masa muda mas,'' ucap Chaca.


''Aku pengen menikmati masa mudaku hanya denganmu dan anak-anak kita nanti,'' ucap Ronald dan itu langsung membuat wajah Chaca bersemu merah.


''Kenapa kamu tanya seperti itu, apa kamu belum siap kalau kita punya baby?'' tanya Ronald serius.


''Em ngak gitu mas, aku udah pengen banget punya baby, apalagi umurku yang sudah hampir mendekati kepala 3. Aku cuma takut, mas belum ingin punya baby,'' ujar Chaca menundukkan kepalanya.


''Hey kamu kenapa? mas udah siap jadi papa muda sayang. Niat mas dari awal nikahin kamu, karna mas mau anak-anak mas lahir dari rahim kamu,'' ucap Ronald.


''Beneran? kalau habis honeymoon aku hamil ngak papa kan?'' tanya Chaca.


''Ya ngak papa lah sayang. Justru kita harus rajin membuatnya agar dia cepat tubuh di sini,'' ucap Devan sambil mengelus perut rata Chaca.


''Ih mas malu di lihatin orang tuh,'' ucap Chaca dengan wajah yang memerah.


''Biarin, mereka punya mata kok,'' ucap Ronald.


Chaca dan Ronald seharian menikmati indahnya pantai. Rasanya mereka enggan untuk kembali ke hotel.


Ini adalah liburan pertama Chaca semenjak ayahnya meninggal, ia tak pernah liburan sama sekali. Yang ada di pikirannya hanya kerja kerja dan kerja. Menurutnya kerja bisa melupakan ingatannya kepada ayah yang selama ini selalu ada untuknya.


''Pulang yuk, udah mau petang,'' ajak Ronald dan di angguki oleh Chaca. Sebelum pulang ke Hotel mereka menyempatkan mampir di Restoran untuk makan. Karna seharian ini mereka hanya makan 1 kali.


''Mau nambah?'' tanya Ronald yang melihat Chaca melahap makanannya seperti orang yang tidak makan 2 hari.


''Enggak mas, udah kenyang kok,'' ucap Chaca.


''Beneran udah kenyang? nanti malam lembur sampai pagi loh,'' ucap Ronald tersenyum jahil ke Chaca.


''Ishhh suamiku mulai mesum deh,'' ucap Chaca dengan wajah di tekuk.

__ADS_1


__ADS_2