I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 9


__ADS_3

''Terima kasih Van,'' ucap Chaca menutup dadanya yang sejak tadi di buka oleh Devan. Devan mengecup sekilas kening Chaca dan ia segera bangkit.


''Aku ke kamar mandi dulu,'' ucap Devan kepada Chaca. Chaca hanya menganggukan kepalanya.


Dengan terpaksa Devan mengakhiri hasratnya di kamar mandi. Ia akan menjaga Chaca sampai waktu halal untuknya.


''Ah siall, kenapa setiap berdekatan dengan Chaca kamu langsung on,'' umpat Devan.


Di lain tempat Chaca justru membayangkan yang tidak-tidak. Saat mereka berciuman hingga Devan berani melahap puncak gu*ungnya.


''Kenapa semakin kesini aku semakin dibuat gila olehnya,, aaaaa Devann aku ingin segera menikah denganmu.'' Hati Chaca menjerit. Entah kenapa Chaca di buat tergila-gila oleh pesona Devan. Walaupun mantan-mantan Chaca tak kalah tampan dari Devan tapi menurut Chaca Devan mempunyai pesona yang sangat kuat.


*


''Bu, Pak, Dev Chaca pamit dulu ya, Kapan-kapan Chaca janji akan main lagi kesini,'' ucap Chaca berpamitan.


''Iya Nak. Hati-hati ya di jalan,'' ucap Ibu Marwah.


''Iya Bu, Devan juga pamit,'' ucap Devan. Mereka menyalami keluarga Devan satu persatu. Setelah berpamitan mereka masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang.


Sejak kejadian tadi Chaca tidak berbicara sedikitpun kepada Devan. Mungkin Chaca salah tingkah mengingat kejadian tadi.


''Cha,'' panggil Devan.


''Hem,'' ucap Chaca yang masih menoleh ke jalanan.


''Kamu kenapa? kenapa sejak tadi diemin aku. Kamu marah sama aku karna kejadian tadi,'' ucap Devan.


''Ngak kok,'' ucap Chaca singkat. Chaca bingung dengan keadaan seperti ini. Chaca teringat tadi dia begitu gampangnya terlentang dan menikmati permainan yang di ciptakan oleh Devan. Devan menepikan mobil mereka.


''Kenapa berhenti?'' tanya Chaca menoleh ke arah Devan saat Devan menatap lekad-lekad wajah Chaca.


''Kenapa kamu menatapku seperti itu?'' tanya Chaca di buat salah tingkah.


''Kenapa diemin aku kayak gini. Ngak suka kalau aku ikut ke Jakarta? ya udah aku turun aja di sini kalau gitu.'' Ucap Devan ingin membuka pintu mobil. Chaca langsung mencegah Devan.


''Devan kamu kenapa sih, siapa bilang yang ngak suka kamu ikut ke Jakarta. Ngak ada kan? jadi jangan kayak cewek pms gitu. Dikit-dikit ngambek,'' ucap Chaca memutar kedua bola matanya.


''Lha terus kenapa kamu sejak tadi diemin aku,'' ucap Devan.


''Ya ngak papa. Aku lagi males ngomong aja,'' ucap Chaca asal.

__ADS_1


''Masa....Apa kamu menginginkan lebih saat adegan tadi?'' tanya Devan dengan pertanyaan mengejek.


''Apaan sih Van. Ngak usah sebut-sebut tadi ya. Kamu aja pilih berakhir di kamar mandi main sama sabun gitu kok,'' ucap Chaca tanpa di saring.


Gleg


''Kok kamu tau. Kamu ngintipin aku ya,'' tebak Devan


''Siapa juga yang ngintipin. Aku ngak tertarik sama sekali,'' ucap Chaca.


''Masa.... Kalau aku buka disini kamu ngak tertarik?'' ucap Devan memancing kemarahan Chaca.


''Apaan sih Van. Ih kenapa calon suamiku mesum begitu,'' ucap Chaca cemberut. Tawa Devan pecah saat melihat ekspresi Chaca.


''Nunggu halal ya. Yang halal pasti lebih nikmat,'' ucap Devan dengan senyum di wajahnya, tangannya juga mengelus lembut rambut Chaca.


''Iya. Ayo sekarang jalan nanti keburu sore loh.'' Ucap Chaca. Devan segera melajukan mobilnya membelah jalanan yang begitu senggang. Setelah perjalanan beberapa jam akhirnya mereka sampai di rumah Chaca.


''Van masuk dulu yuk, kayaknya mama ada di rumah,'' ucap Chaca.


''Kapan-kapan aja ya, capek banget soalnya,'' ucap Devan.


''Ayolah Van. Nanti aku pijitin deh,'' ucap Chaca.


''Ya ngak papa. Saling pijit memijit,'' bisik Chaca di dekat telinga Devan. Devan yang mendengar bisikan se*y itu seketika langsung on.


''Chaca. Ah sh*tttt,'' Devan menjambak rambutnya. Lagi-lagi Chaca memancing na*su nya. Jika sudah berhadapan dengan Chaca, Devan gampang sekali on nya. Hanya mendengar bisikan yang keluar dari mulut se*y Chaca saja Devan sudah meremang.


Devan segera melajukan mobil Chaca menuju rumah kontrakkannya.


*


*


Beberapa hari kemudian.


Devan dan sekretaris Chaca bernama Nina sedang berada di ruangan Chaca. Mereka tampak membicarakan suatu hal yang sangat penting. Terlihat dari raut wajah mereka yang sangat serius.


Tok tok tok


Pintu ruangan Chaca di ketuk dari luar, Chaca hanya mengeryitkan dahinya. Biasanya yang datang ke ruangannya hanya Devan dan Nina tapi saat ini mereka sedang bersama, jadi siapa yang mengetuk pintu tersebut, Chaca mulai bertanya-tanya.

__ADS_1


''Masuk,'' ucap Chaca datar.


Ceklek


Pintu di buka dan menampakkan sosok yang sangat Chaca kenal dan Chaca rindukan. Pria itu tersenyum ke arah Chaca sedangkan Chaca mematung tak berkedip.


''Nicco,'' ucap Chaca pelan. Ia segera berlari kearah Nicco dan memeluk pria itu dengan erat. Air matanya menetes begitu saja. Setelah lulus sekolah menengah atas mereka tidak pernah bertemu. Rasa rindu pasti ada di hati mereka.


''Kapan kamu pulang? kenapa tidak pernah menghubungiku?'' tanya Chaca beruntun. Sedangkan di sisi lain ada mata yang memperhatikan tingkah mereka. Hatinya memanas tangannya meremas kertas dengan sangat erat.


''Dia siapa?'' batin Devan bertanya-tanya.


''Kemarin aku sampai Jakarta,'' ucap Nicco masih dengan posisi berpelukan. Chaca juga tidak sadar jika di ruangan tersebut tidak hanya mereka berdua.


''Pak Devan, apa dia kekasih Nona Chaca? tampan sekali kekasihnya, benar benar beruntung Nona Chaca,'' ucap Nina kepada Devan dengan suara sangat pelan. Devan yang mendengar pujian Nina kepada Chaca dan pria tersebut langsung mengepalkan tangannya.


''Nicco silahkan duduk. Oh ya Nina, Devan, meetingnya masih 1 jam lagi kan. Kalian kembali dulu ke ruangan kalian masing-masing ya. Saya masih ada tamu yang sangat penting,'' ucap Chaca yang baru menyadari jika Devan dan Nina masih disana. Sebenarnya Chaca takut jika Devan marah kepadanya. Tapi Chaca segera menepis prasangka nya kepada Devan.


Devan langsung pergi dari ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun kepada Chaca. Ia segera masuk kedalam ruangannya dengan perasaan kacau.


''Siapa dia? apakah pria tadi terlalu penting di hidupnya sampai harus mengusirku dengan Nina. Astaga kenapa hatiku sakit begini,'' ucap Devan dengan memukul dadanya yang terasa sakit saat melihat Chaca memeluk pria lain.


*


''Cha aku punya kejutan untukmu,'' ucap Nicco tersenyum penuh arti.


''Kejutan apa?'' tanya Chaca penasaran.


''Nanti aja ya, mungkin kejutannya masih di jalan,'' ucap Nicco masih dengan senyumnya.


Nicco adalah sahabat Chaca waktu SMA dulu. Nicco lebih memilih melanjutkan Studynya ke Singapura. Sejak lulus SMA mereka tidak pernah bertemu, karena Nicco tidak pernah pulang ke Jakarta.


Tok tok tok


''Masuk,'' ucap Chaca.


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.

__ADS_1


Kasih kopi dan bunga agar author semangat berkarya😊


__ADS_2