I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 50


__ADS_3

''Sayang aku hari ini ada meeting dengan perusahaan Salsa. Papa menyuruh aku mewakili meeting itu. Kamu di rumah aja ya, ngak usah ke perusahaan,'' ucap Ronald.


''Kalau aku ikut Mas Ronald boleh ngak? aku bosen Mas di rumah mulu,'' ucap Chaca dengan wajah memelas.


''Oke, kamu boleh ikut Mas. Tapi jangan ganggu meetingnya ya,'' ucap Ronald.


Mereka segera bersiap-siap menuju perusahaan Bora Group terlebih dulu. Karna Meeting di adakan pukul 11 siang di Restoran senja.


''Mas aku udah cantik belum sih? kayaknya aku akhir-akhir ini gendutan deh Mas. Lihat pipiku jadi cubby kek gini,'' ucap Chaca yang masih berdiri di depan cermin.


''Kamu selalu cantik sayang. Walaupun kamu gemukan, Mas tambah sayang kok sama kamu,'' ucap Ronald memeluk istrinya dari belakang.


''Mas jangan gini, geli ah,'' ucap Chaca.


''Apa kamu mau melanjutkan adegan tadi malam?'' bisik Ronald di dekat telinga Chaca. Hingga membuat bulu kuduk Chaca meremang.


''Masss,'' Chaca mencubit perut Ronald.


''Ayo kita berangkat sekarang, kalau di kamar terus lama-lama aku ngak bisa jalan,'' ucap Chaca langsung berjalan keluar dari kamar. Ronald hanya tertawa pelan. Ia segera menyusul Chaca yang sudah berada di meja makan untuk sarapan pagi.


''Mau sarapan nasi goreng atau roti?'' tanya Chaca.


''Makan kamu boleh?'' tanya Ronald dengan mengedipkan matanya.


''Ya udah aku makan sendiri aja,'' ucap Chaca mengambil nasi goreng hampir 1 piring penuh.


''Yank makan kamu kok banyak sih, tumben,'' ucap Ronald.


''Kenapa? kamu ngak suka kalau aku makan banyak? kamu takut kalau aku gendut? iya,'' tanya Chaca dengan kesal.


''Ngak gitu yank maksud aku. Biasanya kan makan kamu dikit kalau sarapan,'' ucap Ronald.


Sementara Chaca sudah tidak nafsu makan. Ia meletakkan sendok di piringnya dengan keras.


''Kayaknya aku salah ngomong deh,'' batin Ronald yang terus memperhatikan tingkah istrinya.


''Mas suapin ya,'' ucap Ronald mengambil nasi goreng lalu menyuapi istrinya, namun Chaca segera menghindar.


''Ngak usah, udah ngak nafsu,'' ucap Chaca datar.


''Sayang, Mas minta maaf karna ngak bisa ngontrol mulut Mas, sekarang kamu makan ya. Habis ini kita berangkat,'' ucap Ronald lemah lembut.

__ADS_1


''Kita berangkat sekarang!'' ucap Chaca berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke garasi.


''Kenapa akhir-akhir ini mood dia berubah ubah ya. Apa dia mau datang bulan?'' batin Ronald bertanya-tanya. Tidak mau istrinya menunggu lama, Ronald segera menyusul istrinya.


Ronald segera melajukan mobilnya menuju perusahaan Bora Group terlebih dulu. Di sepanjang perjalanan Chaca hanya diam saja, tanpa menoleh ke arah Ronald.


''Mas aku pengen bubur ayam tadi,'' rengek Chaca tiba-tiba.


''Kita beli yang di depan kantor aja ya sayang. Udah kelewat jauh nih. Oke,'' ucap Ronald.


''Ngak usah!! ngak jadi!!'' ucap Chaca kesal. Ronald yang tak mau istrinya terus-terusan merajuk, ia segera putar arah dan berhenti di depan penjual bubur ayam tersebut.


''Mas aku mau 3,'' ucap Chaca dengan senyum bahagia di wajahnya.


''Tigaaa?'' tanya Ronald memastikan.


''Iya, aku mau tiga,'' ucap Chaca lagi.


Setelah membeli bubur ayam, Ronald segera melajukan kembali mobilnya.


''Mas aku makan di mobil ya. Udah ngak sabar nih, udah laper bangetttt,'' ucap Chaca, sementara Ronald hanya mengangguk pasrah.


Chaca segera membuka bubur ayam tersebut. Ia tak sabar ingin segera menyantapnya, masih beberapa menit berlangsung, tiga bungkus bubur ayam tersebut sudah ludes habis di makan oleh Chaca.


''Ini kayaknya bukan istriku deh. Kenapa dia jadi begini,'' batin Ronald menatap istrinya heran.


Selama ini Chaca selalu menjaga porsi makannya. Namun berbeda dengan akhir-akhir ini, Chaca lebih sering makan dengan porsi yang banyak dan ngemil tiada henti.


Setelah sampai di perusahaan Bora Group mereka segera turun dari mobil. Ia berjalan beriringan ke dalam perusahaan.


*


Jam hampir menunjukkan pukul 11 siang. Itu artinya Ronald akan segera berangkat ke Restoran Senja. Ia tak mau jika telat sedikit saja.


''Sayang, kita berangkat sekarang!'' ajak Ronald.


''Sebentar aku ke toilet dulu,'' ucap Chaca. Setelah selesai mereka menuju Restoran Senja untuk meeting bersama perusahaan Salsa.


Setelah beberapa saat, mereka telah sampai di Restoran Senja.


''Kamu duduk di sini ya Sayang. Aku meeting dulu. Kamu jangan kemana-mana, tunggu aku sampai selesai,'' ucap Ronald lalu meninggalkan Chaca.

__ADS_1


Chaca segera memesan 2 porsi ayam bakar madu dan lemon tea. Chaca sendiri juga heran, kenapa akhir-akhir ini dia merasa selalu lapar. Padahal pagi tadi ia memakan 3 bungkus bubur ayam.


Sementara di tempat yang sama tapi di meja yang berbeda, Ronald menunggu kedatangan Salsa. Tak berselang lama Salsa datang dengan sekretarisnya.


''Selamat siang Pak Ronald, Maaf membuat anda menunggu lama,'' ucap Salsa.


''Tidak masalah Nona Salsa, silahkan,'' ucap Ronald menyuruh Salsa duduk. Sebenarnya ia bukan tipe orang yang suka menunggu. walaupun hanya beberapa menit. Menunggu menurutnya adalah hal yang paling membosankan. Jika saja Salsa bukanlah sahabat istrinya sudah sejak tadi ia meninggalkan tempat tersebut.


*


''Kebelet nih,'' ucap Chaca lalu berdiri menuju toilet yang ada di Restoran tersebut. Setelah selesai ia segera keluar dari toilet, tapi betapa terkejutnya setelah ia keluar, ia malah bertemu, berhadapan langsung dengan seorang pria yang sangat di bencinya.


''Chaca,'' gumam pria itu.


Chaca berjalan begitu saja melewati Devan. Rasanya ia muak bertemu lagi dengan Devan. Cukup saat di Rumah Sakit dulu dan berakhir perang dunia dengan Ronald karna ia masih ketahuan memikirkan Devan.


''Chaa,'' ucap Devan menarik tangan Chaca.


''Lepasin!! atau aku akan teriak,'' ancam Chaca.


''Teriak, teriaklah yang kencang jika perlu. Aku hanya ingin kita seperti dulu lagi Cha,'' ucap Devan, Chaca hanya menyunggingkan senyum sinisnya.


''Seperti dulu? seperti dulu yang mana? apa seperti saat kamu mengkhianatiku?'' tanya Chaca.


''Jangan membahas itu lagi Cha. Aku mohon. Aku memang salah, tapi apa aku tak pantas untuk di maafkan,'' ucap Devan.


''Aku sudah memaafkanmu Van. Jadi jangan ganggu hidupku lagi. Dan 1 lagi, maaf kita tidak bisa seperti dulu,'' ucap Chaca lalu meninggalkan Devan.


Chaca kembali ke tempat duduknya, sementara Devan masih berada di tempatnya tanpa bergeming sedikit pun.


''Mita, kamu cari Devan! kenapa dia lama sekali,'' bisik Salsa kepada sekretarisnya. Mita langsung berdiri dan mencari Devan ke toilet. Mita melihat Devan yang tengah melamun sambil berdiri mematung.


''Pak Devan,'' panggil Mita.


''Pak Devan,'' panggil Mita lagi dengan sedikit berteriak.


''Oh iya apa?'' ucap Devan yang kaget mendengar suara Mita.


''Pak Devan kok malah melamun di sini sih, udah di tungguin tuh sama Nona Salsa,'' ucap Mita.


*

__ADS_1


*


__ADS_2