I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 8


__ADS_3

''Memangnya kenapa? Bukankah itu faktanya,'' ucap Devan sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku juga heran dengan sikap Devan yang tiba-tiba seperti ini.


*


*


Pov Devan


Sejak malam dimana Nona Chaca menyatakan perasaannya kepadaku. Ada rasa nyaman yang menyelimuti hati ini. Jika berdekatan dengannya jantung terasa lebih cepat berdetak dari biasanya. Bahkan otak kecil ku pun tak bisa bekerja seperti biasa.


Aku mengenalnya mungkin masih beberapa bulan. Tapi tak sulit juga untuk jatuh cinta kepada sosok seperti Nona Chaca. Bukan hanya cantik, dia juga memiliki hati yang baik. Walaupun di luar sifatnya dingin kepada semua orang, tapi hatinya memiliki sifat yang begitu hangat.


Aku berusaha untuk membalas cintanya. Karna harapanku hanya kepada Nona Chaca. Cinta pertamaku begitu mudah mengkhianatiku, Dan sekarang Tuhan menggantinya dengan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Jadi aku pasti dengan mudah mencintainya.


''Stop Devan jangan mendekat!'' ucap Nona Chaca kepadaku.


''Why?'' tanyaku.


''Kamu malah bertanya kenapa? otak kamu di mana? saya atasan kamu, jadi jaga perilakumu,'' ucap Nona Chaca dengan tatapan membunuh. Mungkin grogi saat sedang bersamaku di kamar hanya berdua.


''Bukankah kita akan menikah?'' ucapku dengan senyum merekah di bibirku melihat Nona Chaca dengan tangan yang sudah bergetar.


''Kita batalkan saja pernikahannya,'' ucap Nona Chaca di luar dugaanku. Aku menatapnya dengan datar, aku seperti sedang di permainkan oleh atasanku sendiri. Tak tau kenapa aku begitu marah saat dia berkata seperti itu. Aku pun langsung meninggalkan kamarku tanpa berkata apapun.


''Huh, ternyata kamu juga sama saja. Hanya bisa mempermainkan perasaan orang,'' ucapku saat berada di teras rumah. Baru beberapa menit yang lalu aku memujinya, tapi sekarang dia sudah menghancurkannya.


Aku segera mengambil rokok yang ada dalam saku celanaku, dan langsung menyalakan rokok tersebut. Selama bekerja dengan Nona Chaca aku tidak pernah merokok. Tapi hari ini aku begitu marah saat Nona Chaca begitu mudah membatalkan pernikahannya.


*


*


Mereka sedang menikmati makan siang bersama. Hening, yang ada hanya suara dentingan sendok dan piring. Ibu Marwah melihat anaknya yang saling diam berpikiran yang tidak-tidak.


''Maaf kalau Ibu sedikit lancang. Ibu mau tanya, apa kalian sedang bertengkar? karena Ibu lihat dari tadi tidak ada yang bersuara,'' ucap Ibu Marwah penasaran.


''Enggak kok bu,'' ucap Devan mendahului Chaca ingin bicara.


''Syukurlah kalau tidak,'' ucap Ibu Marwah.

__ADS_1


''Bu setelah makan Chaca ingin bicara dengan Ibu,'' ucap Nona Chaca lembut.


''Iya Nak,'' ucap ibu mengiyakan.


''Jangan-jangan mau membicarakan pernikahan yang di batalkan itu. Bagaimana kalau nanti Ibu sedih, dan penyakitnya kambuh lagi,'' batin Devan dalam hati.


Setelah selesai makan bersama, Ibu Marwah dan juga Nona Chaca sekarang berada di ruang tamu. Kelihatannya Nona Chaca benar-benar ingin membatalkan pernikahan itu. Tampak raut sedih di wajahnya.


''Bu, maaf sebelumnya,'' ucap Nona Chaca terlebih dahulu.


''Maaf untuk apa nak?'' ucap Ibu Marwah yang dari tadi perasaannya sudah tak menentu.


Devan yang menguping di balik tembok jantungnya berdetak kencang. Takut kalau Nona Chaca memang benar-benar membatalkan pernikahannya.


''Maaf Bu, Chaca ngak bisa lama-lama di sini,'' ucap Nona Chaca kepada Ibu Marwah.


''Kenapa?'' tanya Ibu Marwah.


''Chaca besuk harus kembali kerja bu, kalau di tinggal lama-lama ngak bisa,'' ucap Nona Chaca tak enak.


''Oh mau kerja toh, iya ngak papa Nak, Ibu kira kamu mau ngomong hal penting yang lain. Nanti sama Devan kan?'' tanya Ibu Marwah.


Gleg


''Dia mau ke Jakarta sendiri? apa dia masih marah sama aku?'' gumamku pelan.


''Tapi perjalanan dari sini ke Jakarta ngak deket Nak, biarkan kamu di antar calon suamimu ya,'' ucap Ibu Marwah.


''Em itu Bu--- belum selesai Nona Chaca berbicara. Tiba-tiba Devan keluar dari persembunyiaannya.


''Bener kata Ibu,kiita kesini sama-sama, kesana juga harus sama-sama,'' ucap Devan dingin.


''Terserah kamu,'' ucap Nona Chaca yang juga tak kalah dingin kepada Devan.


''Kalian ini kenapa sih?'' tanya Ibu Marwah penasaran.


''Ngak papa Bu, Chaca siap-siap dulu ya,'' ucap Chaca berlalu ke kamar Devan. Devan mengikuti Chaca dari belakang. Ia juga masuk kedalam kamar yang di masuki Chaca.


''Kamu kenapa sih ngikutin aku mulu,'' Chaca mengomel di dalam kamar.

__ADS_1


''Siapa yang mengikuti anda, saya juga mau siap-siap. Apa anda lupa kalau kamar ini kamar saya?'' ucap Devan datar. Chaca segera bersiap-siap. Memoles sedikit make up di wajahnya, sedangkan Devan memperhatikan atasannya itu.


''Kenapa kamu memperhatikanku sampai segitunya,'' ucap Nona Chaca melihat Devan dari pantulan kaca.


''Kamu cantik,'' ucap Devan langsung menutup mulutnya.


''Aku sudah tau! dan jangan harap aku akan melanjutkan pernikahan kita. Karena pernikahan itu tidak akan terjadi,'' ucap Nona Chaca. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali segera menikah dengan Devan.


''Pernikahannya akan tetap di lanjutkan,'' ucap Devan berjalan ke arah Nona Chaca. Ia segera duduk di sebelah Chaca.


''Jangan harap!'' Ucap Nona Chaca.


Cup


Bibir mereka bertautan. Ciuman lembut di layangkan Devan ke bibir Chaca.


''De --- belum Chaca selesai bicara bibir mereka saling menempel lagi. Lagi lagi Chaca di buat mabuk oleh pesona Devan. Devan menarik tengkuk nya dan memperdalam ciumannya.


''Eugh,'' suara lenguhan Chaca membuat gelora Devan bangkit. Mereka tak sadar kalau posisinya saat ini sangatlah in*im. Chaca berada di bawah kungkungan Devan, sedangkan Devan berada di atas Chaca. Devan lagi lagi tak mau melepas bibir se*y milik Chaca.


''Devan,'' ucap Chaca pelan, nafasnya sudah naik turun, rasanya enggan untuk melepaskan bibir mereka. Sedangkan tangan Devan sudah bergerilya mencari gu*ung kembar milik Chaca. Membuka kancing kemeja Chaca satu per satu, hingga terlepas semua. Mata Devan sampai tak berkedip menatap gu*ung yang sangat besar menurutnya. Ia segera melahap satu persatu gu*ung tersebut. Nafasnya memburu, biar bagaimana pun dia juga laki-laki normal. Ia menatap dalam-dalam wajah Chaca lemah di bawahnya.


''Maaf,'' ucap Devan.


''Untuk?'' tanya Chaca.


''Untuk semuanya. Aku tidak bisa melakukannya sebelum menghalalkanmu. Aku ingin kita melanjutkan pernikahan kita. Dan aku sudah membuka hatiku untukmu,'' ucap Devan dengan serius. Chaca tersenyum. Ternyata pilihan hatinya tidaklah salah, Devan ingin melakukan hal itu jika mereka sudah menikah membuat Chaca tambah mencintai Devan.


''Terima kasih Van,'' ucap Chaca menutup dadanya yang sejak tadi di buka oleh Devan.


*


*


*Hadeudang hareudang hareudang๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Author ngak bisa membuat yang lebih panas lagi ya temen-temen.


Buat gini aja di badan udah panas dingin, apalagi lagi LDR sama misua๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚โค

__ADS_1


__ADS_2