I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 70


__ADS_3

''Kamu jahat Ro. Kamu jahat,'' ucap Berta menangis memukul dada bidang Ronald. Hati Ronald tersentuh saat melihat Berta menangis pilu seperti itu.


''Ber lupakan aku, di luaran sana banyak laki-laki yang lebih baik dari pada aku,'' ucap Ronald memegang kedua bahu Berta.


''Aku ngak mau Ro. Aku hanya mau kamu. Kamu tega sama aku. Aku udah bela-belain pulang ke Indo hanya untuk bertemu sama kamu, tapi apa balasannya. Kamu tidak menepati janjimu sendiri. Aku kecewa sama kamu,'' ucap Berta pergi dari hadapan Ronald.


Setelah Berta pergi Chaca mengajak Ronald juga pergi dari tempat tersebut.


''Aku akan merebutmu dari wanita itu Ronald. Aku yakin kamu masih mencintaiku,'' batin Berta tersenyum licik dan menghapus air mata buayanya.


Ronald mengemudikan mobilnya menuju rumah mereka. Di sepanjang jalan tidak ada yang berbicara. Chaca memilih diam. Sekarang ia tau siapa yang menelpon Ronald tadi pagi, pasti wanita tadi. Batin Chaca.


''Aku antar pulang ya,'' ucap Ronald.


''Iya,'' jawab Chaca. Ia tak ingin berbicara banyak. Ia ingin segera sampai di rumah dan menenangkan diri.


*


*


Di sebuah hotel.


Huek huek huekk.


''Kamu kenapa sih Sa, dari tadi pagi loh kamu kayak gini. Kamu makan apa aja tadi malam?'' tanya Devan memijit leher belakang Salsa.


''Aku lemes banget Van. Tadi malam kan makanan kita sama, kamu lupa?'' ucap Salsa dengan wajah pucat.


Devan heran kepada Salsa sejak tadi pagi memuntahkan semua yang ada di perutnya.


''Kamu belum ngapa ngapain kan sama Malik?'' tanya Devan penuh selidik.


''Maksud kamu apa Van?'' tanya Salsa yang tak tau dengan pertanyaan Devan.


''Ya kamu belum ngelakuin itu kan sama dia. Jujur aja sama aku. Kalau kamu udah ngelakuin itu, mungkin sekarang kamu hamil anak Malik,'' ucap Devan datar.


''Kamu ngak percaya sama aku?'' tanya Salsa kesal karna sudah di tuduh macam-macam oleh Devan.


''Ya walaupun aku percaya tapi kamu memang udah nglakuin itu dan sekarang hamil gimana dong,'' ucap Devan.


''Bukannya perhatian sama calon istrinya malah nuduh yang ngak jelas,'' gerutu Salsa meninggalkan Devan yang masih berada di dalam kamar mandi.


''Sa sa aku serius. Kamu udah nglakuin itu?'' tanya Devan menahan tangan Salsa.

__ADS_1


''Nglakuin apa sih Van? nglakuin apa?'' tanya Salsa yang senang sekali membuat Devan naik darah.


''Hubungan suami istri,'' ucao Devan.


''Hubungan suami istri itu yang seperti apa sih. Bisa praktekin ngak?'' tanya Salsa.


''Sa, aku lagi serius Sa. Jangan mancing emosiku kamu,'' ucap Devan yang sudah kesal.


''Kamu tenang aja. Aku masih perawan kok, masih aman, masih tersegel. Ngak kayak kamu,'' ucap Salsa.


''Kamu ngak bohong kan? berarti kamu ngak lagi hamil dong. Apa mungkin kamu masuk angin ya Sa. Tadi malem kan kita pulangnya udah malem banget,'' ucap Devan.


''Ya mungkin sih. Aku udah lama banget ngak masuk angin. Biasanya sembuhnya di kerokin Van,'' ucap Salsa.


''Terus?'' tanya Devan menatap Salsa yang seakan mempunyai rencana licik.


''Kerokin,'' ucap Salsa terdengar manja.


''Ngak. Aku ngak mau,'' ucap Devan melangkah meninggalkan Salsa.


''Van, kamu tega sama aku. Aku mual terus nih,'' ucap Salsa dengan muka memelas.


''Aku suruh pelayan perempuan di sini ya. Aku belum siap kalau lihat kamu tanpa memakai baju,'' ucap Devan pelan.


*


*


Reno langsung menghembuskan nafasnya kasar. Ia sudah tau apa masalah yang akan menimpanya nanti.


''Ini semua gara-gara Berta sialan,'' umpat Reno berjalan menuju lift. Ia akan segera pergi ke perusahaan Bora Group.


Reno adalah asisten sekaligus sahabat Ronald saat waktu kuliah dulu. Dari kuliah hingga saat ini hanya Reno sahabat yang paling mengerti Ronald.


Mobil Reno melaju menuju perusahaan Bora Group.


Reno berjalan memasuki gedung yang berlantai 22 itu. Wajahnya yang tampan dan cool membuat para karyawati terpesona dengan Reno.


''Aku tau aku tampan, apa di perusahaan ini tidak ada laki-laki yang tampan. Kenapa mereka memandangku sampai seperti itu,'' ucap Reno pelan saat memasuki lift.


Ting.


Pintu lift terbuka saat Reno sampai di lantai CEO perusahaan tersebut. Ia segera menuju ruangan yang bertuliskan CEO.

__ADS_1


Tok tok tok.


''Masuk,'' perintah seseorang yang berada di dalam ruangan tersebut.


''Ada apa Ro? Kalau kamu mau bahas Berta. Aku ngak mau. Dia yang memaksaku memberikan nomor handphone kamu,'' ucap Reno yang berjalan menuju kursi di depan Ronald.


''Jadi dia dapat nomor dari kamu? Padahal aku ngak curiga lo sama kamu. Tapi kamu sendiri yang bilang,'' ucap Ronald menatap tajam Reno.


''Ja jadi kamu menyuruhku kesini bu buat apa?'' tanya Reno gugup.


''Aku ingin membahas proyek kita. Tapi aku malah mendapatkan kabar yang lebih menarik,'' ucap Ronald meyunggingkan bibirnya.


''Aduh kenapa mulut ini lemes banget sih. Kenapa juga aku tadi langsung ngomong gitu. Pasti nanti ujung-ujungnya gajiku yang jadi taruhannya,'' batin Reno merutuki kebodohannya.


''Ro, aku bisa jelasin. Waktu itu aku ngak sengaja ketemu dia di restoran. Ya singkat cerita dia basa basi gitu deh. Terus tiba-tiba dia minta nomor ponselmu, ya aku alasan dong aku ngak bawa handphone, tapi malah dia miscall handphone ku. Ya ketahuan lah, terus dia ambil handphone ku gitu aja,'' ucap Reno menjelaskan.


''Aku ngak butuh penjelasan kamu. Bulan ini gaji kamu aku potong 50%,'' ucap Ronald tak bisa di bantah.


''Gaji beneran kan yang di potong. Astaga. Punya sahabat satu aja kayak gini banget sih,'' batin Reno.


*


*


Di lain tempat.


''Sayang, kamu mau nikah beneran kan sama aku?'' tanya pria yang hampir kepala tiga.


''Iya sayang. Aku yakin dengan pilihanku. Masalah ayah, aku sudah tidak lagi memikirkannya. Selama ini aku selalu berusaha memenuhi keinginannya. Tapi ia selalu egois tak mau mengerti diriku,'' ucap gadis itu sedih jika teringat ayahnya.


''Kamu jangan sedih ya. Aku akan berusaha selalu membahagiakanmu sayang. Apapun yang akan kita lalui aku akan selalu berada di sampingmu,'' ucap pria itu.


''Terima kasih. Terima kasih sudah menerima gadis sederhana sepertiku,'' ucap gadis itu memeluk kekasihnya erat.


''Aku juga berterima kasih karna kamu memilihku menjadi pasangan hidupmu yang akan menemanimu dalam suka ataupun duka. Aku sangat mencintaimu,'' ucap pria itu.


''Kita tentukan tanggal pernikahannya ya. Aku ingin secepatnya menghalalkanmu sayang,'' ucap pria itu lagi.


''Semakin cepat semakin baik sayang. Aku ingin secepatnya pernikahan kita di laksanakan. Aku takut ayahku akan berbuat sesuatu,'' ucap gadis itu.


*


*

__ADS_1


Kopi dan bunganya ya jangan lupa


__ADS_2