
''Shopping?'' beo Devan menatap Salsa yang berlalu dari hadapannya.
''Sayang, tunggu!'' Devan berlari mengejar Salsa yang sudah sedikit menjauh darinya.
''Stopppp! Jangan mendekat,'' ujar Salsa yang menjaga jarak dengan Devan.
''Sayang aku antar ya,'' ucap Devan dengan wajah yang memelas. Devan ingin mengantar sang istri tercinta untuk pergi belanja. Ya walaupun hanya belanja, Devan ingin lebih dekat dengan Salsa lagi.
''No no no, aku bisa sendiri!''
Salsa berjalan meninggalkan Devan yang masih mematung di tempatnya tadi. Devan terlihat menjabak rambutnya dengan kasar. Ia tak tau ada apa dengan istrinya itu. Sementara Salsa sudah berada di dalam mobil, Salsa di antar oleh sopir pribadinya.
''Ke Mall tempat biasa Pak,'' ucap Salsa memberi perintah kepada Sopirnya. Sang sopir hanya mengiyakan ucapan Salsa.
Di dalam mobil Salsa terlihat memegang cermin kecil yang selalu ia bawa setelah hamil ini. Salsa juga tak lupa membawa alat make up nya, Seperti bedak atau lipstik.
''Udah cantik nih,'' ucap Salsa sambil melihat cerminnya.
Setelah perjalanan beberapa saat, akhirnya Salsa sudah sampai di mall yang biasa ia datangi. Entah kepada setelah hamil ini Salsa terlihat sangat hobby untuk pergi berbelanja dan menghabiskan banyak uang.
Salsa melangkahkan kakinya menuju toko tas branded dengan harga yang fantastis. Ia tak segan-segan membeli 3 tas sekaligus. Padahal baru kemarin Salsa berbelanja 2 tas di sini.
''Cari sendal deh,'' ucap Salsa dengan wajah bahagianya menuju toko sandal yang ada di mall tersebut. Bukan sandal biasa yang harganya 300 ribu sampai 1 juta. Tapi ini sandal puluhan juta harganya.
''Keasikan belanja sampai laper,'' Salsa pun merasakan perutnya yang sakit karna lapar. Ia berjalan menuju restoran yang ada di mall tersebut. Setelah mendapati restoran yang di inginkan ia segera duduk di kursi yang kosong.
''Mau pesan apa Kak?'' tanya seorang waiters yang sudah berdiri di depan Salsa.
''Shabu-shabu 1 ya minumnya air mineral aja,'' ucap Salsa. Salsa lebih memilih air mineral karna ia harus banyak mengkonsumsi air mineral daripada minum yang manis-manis, itu yang di sarankan dokter kandungannya.
Setelah menunggu beberapa saat. Pesanan Salsa sudah tiba. Salsa segera menyantapnya karna sudah sangat lapar.
''Hai Sa,'' ucapan seseorang yang tiba-tiba duduk di depan Salsa. Salsa yang asik dengan makanannya segera menatap orang yang ada di depannya. Begitu tau siapa orang tersebut, Salsa segera menyudahi makannya.
''Sa, Sa!'' tangan seseorang itu meraih tangan Salsa yang ingin pergi meninggalkannya.
''Apalagi?'' Salsa memutar bola matanya malas. Ia betul malas melihat orang yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
''Sa jangan membenciku seperti ini. Walaupun kita tidak bisa seperti dulu, asalkan kita bisa berteman aku ikhlas kok Sa. Tapi jangan jauhi aku kayak gini,'' ucap Seseorang itu.
Salsa menghembuskan nafasnya kasar.
''Baiklah kita berteman,'' ucap Salsa. Malik yang mendengarkan ucapan Salsa segera memeluk Salsa dengan erat.
''Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan Malik!'' ucap Salsa dingin. Matanya pun menatap punggung Malik dengan tajam.
''Eh eh sorry. Saking senengnya aku tuh Sa,'' ucap Malik tersenyum canggung.
''Kamu ngapain disini?'' tanya Malik mengusir kecanggungan.
''Belanja,'' ucap Salsa seadanya.
''Mau aku temenin?'' tanya Malik bercanda.
''Boleh. Sekalian di belanjain juga boleh,'' ucap Salsa serius.
''Beneran? Oke deh, apa sih yang enggak buat kamu,'' ucap Malik menggoda Salsa.
Sebenarnya Malik tadi hanya bercanda, namun Salsa malah menanggapinya dengan serius. Malik tak akan menyia-yiakan kesempatan itu.
''Aku mau beli baju,'' ucap Salsa. Ia berjalan terlebih dulu ke toko baju yang biasa menjadi langganannya.
''Pilihlah yang kamu suka,'' ucap Malik dengan santai. Tanggannya bersedekap di dada melihat Salsa yang sedang memilih baju.
Di lain tempat, Devan sedang menelpon Salsa karna hampir 4 jam ia pergi namun belum ada tanda-tanda akan kembali. Namun Handphone Salsa tidak aktif. Devan segera menelpon supir pripadi mereka, dan supir mengatakan jika mereka masih di mall.
''Ngapain aja sih selama 4 jam, apa belum selesai belanjanya?'' tanya Devan pada diri sendiri. Merasa Khawatir, Devan menyusul Salsa ke Mall itu. Devan segera mencari ke tempat-tempat yang biasa ia datangi. Devan berjalan di lantai bawah. Ia mengedarkan pandangannya namun tak menemukan Salsa di sana. Ia segera naik ke lantai dua, menuju tempat tas dan sepatu namun tak ada Salsa di sana. Yang terakhir ia segera ke toko pakaian namun Salsa juga tak ada di sana. Malah Devan bertemu dengan rivalnya.
''Ckk ngapain dia disini,'' batin Devan. Ia segera berbalik. Namun belum sempat melangkahkan kakinya, ia mendengar suara yang sangat ia hafal.
''Salsa.''
Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Muka Devan memerah dengan rahang yang mengeras, tangannya juga terkepal erat. Wajah yang selama ini menatap Salsa penuh cinta sekarang menjadi wajah dengan tatapan yang sangat mengerikan.
''Jadi selama 4 jam ini mereka belanja bersama?'' batin Devan yang masih memperhatikan istrinya yang sedang memilih baju. Devan masih menatap mereka berdua dari kejauhan.
__ADS_1
Salsa dan Malik tak menyadari jika ada yang menatap mereka dengan tatapan tajam.
''Udah ini aja,'' ucap Salsa menaruh baju terakhir di meja kasir.
Gleg.
Malik menatap belanjaan di depannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
''Bayar dong! Katanya mau bayarin,'' ucap Salsa memalingkan wajahnya dengan tersenyum smirk.
''I iya Sa. Ini aku bayar,'' ucap Malik mengeluarkan kartu kreditnya dan di berikan kepada kasir.
''Totalnya 229 jt Kak,'' ucap Kasir tersebut.
''Hahaha emang enak aku kerjain,'' batin Salsa yang sedang menahan tawanya.
'Whattt???? Gila ini gila. Pasti Salsa lagi ngerjain aku,'' batin Malik yang melirik ke arah Salsa, namun Salsa hanya bermuka datar tanpa merasa dosa sedikit pun.
Setelah belanjaan Salsa di bayar. Salsa menyuruh Malik untuk membawa belanjaan tersebut.
''Kita mau kemana lagi Sa?'' tanya Malik yang menahan kekesalannya.
''Aku masih mau cari sesuatu Lik. Kamu mau kan temenin aku,'' ucap Salsa dengan tatapan memohon. Malik dengan senang hati menuruti kemauan Salsa.
Hampir 1 jam lamanya mereka berputar-putar di mall tersebut. Namun tak ada yang di beli oleh Salsa. Tangan Malik terasa kebas karna membawa belanjaan Salsa yang terlalu banyak.
''Kenapa, berat ya? Sini biar aku yang bawa,'' ucap Salsa.
''Enggak, nggak usah Sa. Biar aku aja yang bawa,'' ucap Malik yang pura-pura baik-baik saja di depan Salsa.
*
*
Ha ha ha ha ha.
Jangan lupa tinggalkan jejak kawan๐๐๐๐ค๐ค๐ค
__ADS_1
See you next episode๐