
''Bagaimana kalau aku tidak mau?'' tanya Salsa menantang Devan.
''Kenapa kamu tidak mau melupakannya. Bahkan saat ini kamu milik orang lain!'' ucap Devan datar.
''Orang lain? siapa maksudmu. Aku bahkan tidak berhubungan dengan siapa pun,'' ucap Salsa yang tudak mengerti maksud Devan.
''Jangan kamu kira aku ini lelaki yang bodoh Sa. Apa kamu mau menggandeng banyak pria, ha? apa kamu mau di cap murahan oleh banyak pria?'' tanya Devan yang menahan emosinya.
''Maksudmu apa sih Van? kalau ngomong jangan setengah-setengah. Ucapkan yang jelas!'' bentak Salsa. Ia tak terima di katakan sebagai wanita murahan.
Devan menghembuskan nafasnya kasar.
''Apa menurutmu aku ini buta? aku tau apa yang kamu lakukan bersama pria tadi di taman belakang. Dan sekarang kamu menyuruhku untuk memperjuangkan cintaku? apa aku tak salah dengar Sa? setelah kau putus dengan Malik, aku berharap ada namaku di hatimu. Tapi malah nama orang lain yang baru kamu kenal yang lebih dulu singgah di hatimu,'' ucap Devan kecewa.
''Van, jadi kamu tadi lihat aku dengan Ridwan---''
''Ya,'' ucap Devan datar.
''Van kamu salah paham. Tadi aku hanya reflek memeluk Ridwan, tadi itu ada Angsa yang tiba-tiba ada di dekatku. Ya aku takutlah,'' ucap Salsa menjelaskan.
''Hm,'' ucap Devan.
''Van, beneran. Kamu ngak percaya sama aku? bahkan sekarang di hatiku bukan Malik ataupun Ridwan loh, tapi kamu,'' ucap Salsa. Dan spontan Devan mengerem mendadak.
''Van kamu bisa mencelakai orang kalau nyetir seperti itu,'' ucap Salsa.
''Kamu bilang apa tadi?'' tanya Devan.
''Kamu bisa mencelakai orang kalau nyetir seperti itu,'' ucap Salsa mengulangi ucapannya.
''Bukan yang itu,'' ucap Devan menatap lekad-lekad netra Salsa.
''Yang mana, aku ngak bilang apa-apa kok,'' ucap Salsa yang sedang memancing emosi Devan lagi.
''Ya sudah,'' ucap Devan kembali dingin.
''Iya iya, gitu aja ngambekkan. Di hatiku hanya ada namamu, puasss,'' ucap Salsa.
''Kamu ngak sedang bohong kan?'' tanya Devan yang tak percaya begitu saja ucapan Salsa.
''Ngak bohong lah. Beberapa hari ini, setelah kamu mengungkapkan isi hatimu, aku sudah memikirkannya. Dan entah kenapa selama beberapa hari ini fikiranku selalu tertuju ke kamu. Mungkin ini terlalu cepat setelah aku putus dengan Malik, tapi hatiku benar-benar nyaman saat bersamamu. Walaupun kita sering berantem sih,'' ucap Salsa.
__ADS_1
''Jadi?''
''Ya aku menerima cintamu,'' ucap Salsa tersenyum ke arah Devan
Entah apa yang di rasakan Salsa saat ini. Dia nyaman saat berada di dekat Devan. Walaupun Devan akhir-akhir ini ketus padanya, tapi pesona Devan memang tak ada tandingannya. Walaupun ia mantan kekasih sahabatnya dan Devan juga cowok yang di kejar-kejar adik sahabatnya, ia tak peduli. Karna Salsa tidak merebut milik seseorang.
''Jadi?'' tanya Devan tersenyum.
''Jadi apa Van. Aku sudah menerima cintamu. Terus apalagi yang kau inginkan,'' ucap Salsa.
''Apa kamu tidak ingin menikah denganku?'' tanya Devan serius.
''Van jangan bercanda deh, apa ini tidak terlalu cepat?'' tanya Salsa. Salsa terlihat bahagia saat Devan berbicara tentang menikah. Entah mengapa ia berharap lebih pada seorang duda itu.
''Niat baik tak boleh di tunda-tunda sayang,'' ucap Devan mengecup tangan kanan milik Salsa. Salsa yang di perlakukan manis seperti itu sangat-sangat bahagia.
''Aku mau menikah denganmu. Tapi janji, kamu harus setia sama aku. Jangan pernah khianati aku Van,'' ucap Salsa penuh harap.
''Aku tidak akan mengulang kesalahanku di masa lalu Sa. Aku sudah merasakan rasanya di tinggalkan. Dan aku tak mau jika itu terjadi lagi,'' ucap Devan serius.
''Terima kasih Van,'' ucap Salsa.
Mereka melajukan kembali kendaraan mereka menuju Hotel. Sesampainya di hotel, Salsa dan Devan segera menekan lift lantai kamar mereka.
''Apaan sih Van. Malu tau,'' ucap Salsa yang wajahnya kini sudah seperti kepiting rebus.
''Udah cepet masuk, jangan lupa di kunci pintunya,'' ucap Devan.
''Ya udah aku masuk dulu. Good night calon suami,'' ucap Salsa membuka pintu kamarnya dan segera masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Sementara Devan baru masuk ke kamarnya setelah Salsa hilang di balik pintu.
Salsa yang memang begitu lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengingat kembali kejadian di mobil tadi sepulang dari rumah Pak Hadi. Dari awal mereka berdebat hingga akhirnya mereka bersatu. Salsa seperti gadis ABG yang baru merasakan jatuh cinta.
''Van, kenapa aku segila ini kepadamu. Baru juga kemarin aku nangis-nangis habis putus dengan Malik. Tapi sekarang aku sudah seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri karna mu,'' ucap Salsa senyum-senyum sendiri..
*
*
Pagi harinya. Sepasang suami istri yang semalaman habis bergulat panas di atas ranjang itu kini masih memejamkan matanya. Lelah, itulah ia mereka rasakan. Sinar mentari menembus jendela kamar mereka pun tak mereka rasakan. Mereka saling berpelukan merasakan kehangatan satu dengan yang lainnya.
Jam hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Chaca menggeliat di atas ranjangnya. Badannya terasa remuk setelah hampir semalaman di gempur habis-habisan oleh sang suami. Bukan hanya semalaman saja, hampir setiap malam ia melakukannya dengan sang suami. Saat Chaca hamil, ia malah merasakan ingin bermain terus dengan Ronald. Namun Dokter selalu mewanti-wanti untuk tidak sering-sering melakukan hubungan suami istri, karna Chaca masih hamil muda.
__ADS_1
Cup
''Morning kiss sayang,'' ucap Ronald mengecup sekilas bibir Chaca.
Tring tring tring.
Baru saja mereka membuka mata, namun telepon Ronald sudah berbunyi.
''Siapa sih masih pagi juga,'' gerutu Ronald.
''Di lihat dulu, siapa yang nelpon. Siapa tau penting,'' ucap Chaca.
Ronald segera mengambil handphone nya yang berada di atas nakas. Ia melihat yang memanggilnya.
''Nomor baru?'' Ronald mengeryitkan dahinya. Namun ia segera menggeser tombol warna hijau.
''Halo,'' ucap Ronald.
''Ronald,'' ucap seseorang di balik telepon.
Deg.
Ronald sangat hafal suara itu. Suara seseorang yang dulu sangat ia rindukan.
''Ronald,'' ucap seorang itu lagi.
''Maaf anda salah sambung,'' ucap Ronald mematikan ponselnya lalu menaruhnya di atas nakas.
''Siapa?'' tanya Chaca penasaran dengan tingkah Ronald yang menurutnya aneh.
''Ngak tau, orang salah sambung,'' ucap Ronald datar. Ia segera berlalu ke kamar mandi.
''Apa wanita itu lagi yang menelpon Ronald. Wajah Ronald tiba-tiba berubah. Dan ia di tanya juga begitu dingin jawabannya. Sebenarnya siapa dia? apa belum kapok aku jawab seperti itu kemarin. Hah, membuat aku kefikiran saja,'' batin Chaca, ia turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
*
*
*
Konflik baru nih😒
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian gaesss.
Follow ig : mayarentika.st