
1 Bulan kemudian.
''Akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di sini lagi,'' ucap seorang pria tampan yang tak lain dan tak bukan adalah Devan.
Ya hari ini adalah hari ia memutuskan kembali lagi ke Jakarta setelah sekian lama hidup di kampung halamannya bersama istri yang tak di cintainya.
Ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari pekerjaan di sini. Devan tak memungkinkan lagi mencari pekerjaan di kotanya karna setiap perusahaan yang ia datangi menolaknya karna alasan tidak ada lowongan pekerjaan. Ia tau siapa orang di balik semua ini, sudah jelas dan sudah pasti itu campur tangan dari seorang Chalondra Athalia Bora.
''Cha aku merindukanmu,'' kata-kata itu tiba-tiba keluar begitu saja dari bibir Devan. Entahlah untuk ke berapa kalinya ia mengungkapkan kata rindu itu, yang jelas memang Devan sangat merindukan Chaca, dari sifat dinginnya, cueknya, kadang terkesan manja dan itu semua Devan sangat menyukainya.
''Apa kamu tidak bisa memaafkan aku Cha? aku begitu tersiksa hidup seperti ini, aku benar-benar khilaf Cha. Aku ingin sekali memutar waktu agar aku tak bisa tergoda dengan wanita ja*ang itu. Aku benar-benar menyesal Cha,'' ucap Devan. Ia membayangkan saat-saat bahagia bersama Chaca, walaupun gadis itu kadang membuatnya marah tapi ia sangat menyayanginya.
*
*
Di dalam kamar bercat abu-abu, sepasang suami istri masih terpejam dalam tidurnya. Ya mungkin lebih tepatnya tidur singkatnya. Karna sejak tadi malam hingga sekarang jam 2 dini hari mereka tak bisa memejamkan matanya.
Brak
Pintu kamar mandi di tutup dengan keras, sampai-sampai orang yang tertidur di atas ranjang terlonjak kaget.
''Mas, perutmu sakit lagi,'' ketukan pintu dari arah luar membuyarkan konsentrasi Ronald.
''Hem,'' hanya deheman yang di keluarkan Ronald dari mulutnya.
Chaca dengan setia menunggu sang suami yang masih di dalam kamar mandi, rasanya mata itu baru terpejam tapi lagi-lagi ia mendengar suara pintu di tutup dengan keras.
Sejak semalam Ronald tak henti-hentinya keluar masuk kamar mandi. Perutnya mulas dan diera menyerang perutnya. Chaca tak tega melihat Ronald yang harus bolak balik kamar mandi sepeti ini.
''Mas kita ke Dokter ya, apa aku telpon Dokter aja biar Dokternya kesini,'' ucap Chaca yang melihat Ronald sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
''Mas ngak papa Sayang, jangan khawatir,'' ucap Ronald yang sok kuat, tapi Chaca melihat wajah suaminya yang sudah pucat seperti itu ia tak tega.
''Kita ke Dokter atau Dokter yang kesini,'' ucap Chaca menatap suaminya dengan tatapan tajam.
''Mas ngak papa, sebentar lagi pasti sembuh kok,'' ucap Ronald berusaha tersenyum. Sebenarnya ia bukannya tak mau ke rumah sakit, Ronald takut jika di suntik dan meminum obat.
''Ngak papa gimana, semaleman utuh lo kamu ngak tidur, bolak balik kamar mandi terus. Lihat wajah kamu yang sudah pucat kayak gitu. Jangan bilang ngak papa kalau kamu sedang merasakan apa-apa,'' ucap Chaca yang kesal dengan sikap suaminya.
Chaca meninggalkan suaminya begitu saja. Ia selalu di buat kesal dengan tingkah ke kanak-kanakkan Ronald.
''Huft pasti dia marah. Tapi bagaimana kalau disana nanti aku di suntik. Rasanya pasti sakit sekali,'' ucap Ronald berbicara sendiri. Ia membayangkan waktu masih kecil dulu ia sakit dan di suntik, rasanya sangatlah sakit.
Brak
Pintu di tutup dengan keras, Ronald melihat Chaca masuk lagi ke dalam kamar dengan membawa segelas air di tangannya. Chaca lalu menaruh gelas yang berisi air itu di atas meja, ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa melirik ke arah Ronald.
''Yank,'' panggil Ronald.
''Yank, jangan marah dong, masa suami sakit malah di cuekin sama istri sendiri. Kamu ngak kasihan sama Mas?'' tanya Ronald yang saat ini sudah mendekat ke arah Chaca dan duduk di atas ranjang samping Chaca.
''Percuma kan kalau aku kasian tapi ngak bisa nyembuhin sakit kamu,'' ucap Chaca yang terdengar dingin di telinga Ronald.
''Oke, aku mau kita ke Dokter, tapi kamu jangan cuekin Mas kayak gini,'' ucap Ronald. Lebih baik ia di suntik dari pada di cuekin oleh istri tercintanya ini.
''Gitu dong dari tadi. Susah banget ngomong iya aja,'' ucap Chaca bangun dari tidurnya dan bergegas ke lemari untuk mengganti bajunya.
''Harus sekarang ya yank?'' tanya Ronald yang mendapati istrinya yang ganti baju.
''Tahun depan!!!. Ya sekarang lah, lebih cepat lebih baik. Gimana kalau kamu kekurangan cairan, bisa bahaya,'' ucap Chaca. Ronald juga ingin mengganti bajunya yang saat ini masih menggunakan piyama panjang.
''Pakek jaket aja Mas, ngak usah ganti baju,'' ucap Chaca yang mengambil jaket Ronald dan langsung memakaikan di tubuh Ronald. Mereka berangkat ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, kali ini Chaca yang mengemudikan mobil milik Ronald karna Ronald mengeluh kesakitan.
''Yank, berhenti di pom bensin depan,'' perintah Ronald yang terus-terusan memegangi perutnya.
''Kenapa? ini masih full lo bensinnya,'' ucap Chaca.
''Perut Mas sakit banget yank, lebih cepat,'' ucap Ronald yang tidak tahan.
Chaca pun segera menambah laju mobilnya, sesampainya di pom bensin Ronald segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam toilet yang ada di pom bensin tersebut.
Beberapa saat Chaca menunggu Ronald, akhirnya yang di tunggu menampakkan batang hidungnya. Ronald masih terus terusan memegangi perutnya, dan wajahnya semakin pucat.
''Mas aku bantu,'' Chaca yang tau Ronald keluar dari kamar mandi ia segera menghampiri suaminya lalu membantunya berjalan ke dalam mobil.
''Mas wajah kamu pucat sekali, tangan kamu juga dingin banget,'' Chaca panik, ia segera menambah laju mobilnya. Ia takut jika Ronald kenapa napa. Di lihat dari wajahnya saja Ronald menahan sakit.
''Sayang jangan panik, Mas kuat kok,'' ucap Ronald yang terdengar lemah. Tubuhnya juga terasa sangat lemas. Ronald menyandarkan tubuhnya di jok mobil lalu menutup matanya.
''Mas jangan tidur please. Jangan buat aku takut Mas,'' Chaca terus menggenggam tangan kanan Ronald.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di Rumah Sakit Medika. Chaca segera meminta bantuan agar suaminya segera di tangani.
Di dalam ruangan IGD Ronald masih di periksa oleh Dokter yang bertugas. Chaca mau tidak mau harus menunggu suaminya di luar. Ia sangat khawatir jika terjadi apa-apa dengan suaminya.
Setelah beberapa saat Dokter yang memeriksa Ronald keluar dari ruangan IGD. Chaca segera menanyakan keadaan suaminya.
''Bagaimana Dok keadaan suami saya?'' tanya Chaca kepada Dokter yang memeriksa.
*
*
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalianππππ