I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 38


__ADS_3

''Daddy ngak sadar, kalau Daddy mantan pacarnya banyak. Kemana pun perginya selalu ketemu mantan kekasih. Sampai muak aku!'' ucap Chaca kesal saat mengingat banyak wanita yang mengenal Ronald.


''Itu bukan mantan Mom. Itu mungkin wanita-wanita yang naksir sama Daddy. Daddy kan pesonanya ngak ada tanding,'' ucap Ronald bangga.


''Oh jadi bangga banget ya!'' Chaca ketus dan menatap tajam Ronald.


''Ngak gitu juga yank.'' Ronald di buat takut oleh raut wajah Chaca yang berubah.


''Minggirrrr!! aku mau lewat,'' ucap Chaca mendorong tubuh Ronald ke samping agar ia bisa lewat.


''Yank mau kemana??'' tanya Ronald penasaran kenapa istrinya itu turun dari tempat tidur.


''Mau makan. Aku masih ingin hidup,'' ucap Chaca ketus. Ronald sampai lupa, jika mereka belum makan setelah sampai di Lombok kemarin. Ia tak merasa lapar sedikit pun, sampai-sampai ia lupa untuk makan.


''Kamu mau makan apa yank.'' Tanya Ronald sabar.


''Aku bisa beli sendiri!'' ucap Chaca yang masih jengkel kepada Ronald.


''Mommy ngak boleh marah-marah dong. Nanti kalau Mommy marah, Mommy jadi jelek loh. Daddy minta maaf ya Mommy cantikk,'' ucap Ronald kepada Chaca dengan menirukan suara seperti anak kecil. Ia ingin membuat istrinya tak marah lagi. Ia juga tak mengerti kenapa istrinya itu suka marah-marah dengan hal yang menurutnya tidak penting.


''Gimana? Mom mau maafin Daddy kan?'' tanya Ronald yang masih memakai suara anak kecil.


''Tergantung.''


''Tergantung gimana yank?'' tanya Ronald.


''Ya tergantung kamu masih nakal atau tidak,'' ucap Chaca.


''Kapan sih yank aku nakalnya. Perasaan ngak pernah deh. Jangan seperti anak kecil deh yank,'' ucap Ronald. Ia langsung mendapat tatapan tajam dari Chaca.


''Em maksud aku i it...'' ucapan Ronald menggantung. Ia menyadari jika ia telah salah bicara.


Chaca pergi begitu saja keluar dari kamar hotelnya. Ia akan mencari kesenangan sendiri. Sementara Ronald merutuki kebodohannya.


''Aduh salah bicara kan. Chaca mau cari makan di mana ya,'' ucap Ronald mengganti baju lalu pergi menyusul Chaca.

__ADS_1


Setelah menemukan Chaca yang berada di Restoran hotel tersebut, ia segera menghampiri Chaca dan duduk di depannya.


''Sayangg aku minta maaf. Aku minta maaf udah salah bicara.'' Ronald tiba-tiba duduk di depan Chaca lalu memegang tangan Chaca.


''Hem, cepat makan! udah aku pesenin tuh,'' ucap Chaca yang melanjutkan melahap makanannya.


''Kenapa cuma di liatin doang? ngak suka? ya udah pesen sendiri,'' ucap Chaca yang menyadari kalau Ronald hanya menatap makanannya.


''Em i ini aja yank. Ini aman kan kalau aku makan?'' tanya Ronald ragu untuk memakan makanannya. Karna tadi mereka habis bertengkar, dan setelah sampai di Restoran Chaca memesankan makanan untuknya.


''Memangnya kenapa? kamu ragu mau makan itu? apa sekarang yang ada di fikiranmu, istrimu ini mau membunuhmu lewat makanan itu? hah ternyata,'' ucap Chaca dengan senyum kecewanya.


''Yank ngak gitu maksud aku. Aku cuma takut kalau kamu belum menerima aku sepenuhnya,'' ucap Ronald hati-hati agar tidak salah bicara.


''Jadi kamu meragukan cintaku?'' tanya Chaca menatap tajam suaminya.


''Aku kan yang salah lagi. Huh kenapa sih dia selalu pintar menjawab. Rasanya aku ingin melahap bibir yang suka menjawab itu,'' batin Ronald gemas.


''Ngak gitu sayang. Udah ya jangan marah-marah lagi. Kasian tuh calon baby-baby kita kalau kamu suka marah-marah kek gini,'' ucap Ronald pelan. Ia tak mau memancing keributan lagi dengan istrinya. Chaca hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mau melirik kearah Ronald.


Ronald segera memakan makanan yang di pesankan oleh Chaca tadi. Setelah makan Ronald mengajak Chaca untuk jalan-jalan.


''Kita jalan-jalan. Katanya di dekat sini ada pantai yang sangat bagus,'' ucap Ronald, Chaca hanya menganggukkan kepalanya pelan.


''Sayang aku minta maaf, jangan marah-marah lagi. Jujur, waktu dulu aku memang banyak mantan ataupun teman wanita, tapi itu dulu. Dan sekarang fokus ku hanya kepada kamu dan calon anak-anak kita.'' Ronald menggenggam tangan Chaca lalu melepaskannya dan mengelus perut rata Chaca.


''Mas geli.'' Chaca kegelian saat tangan Ronald sudah masuk ke dalam dress nya.


''Apa kita kembali ke hotel aja yank. Aku pengen memakanmu lagi,'' ucap Ronald menatap Chaca dengan tatapan mesum.


''Ngak usah mesum deh Mas. Baru tadi kita melakukannya, masa iya mau lagi,'' ucap Chaca kesal kepada suami mesumnya itu.


''Tubuhmu terlalu nikmat yank. Jadi candu buat aku,'' ucap Ronald tersenyum, sedangkan Chaca mengerucutkan bibirnya kesal.


Setelah perjalanan beberapa saat, mereka sampai di pantai itu. Pantai yang sangat indah. Chaca sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di pantai, terakhir kali ia pergi kepantai saat masih bersama Haris dulu.

__ADS_1


''Pantainya bagus ya Mas,'' ujar Chaca. Ronald tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Chaca berlarian di tepi pantai saat Ronald mengejarnya. Chaca sangat bersyukur bisa mempunyai suami seperti Ronald yang selalu bisa membuatnya tertawa. Ia tak menyangka bisa bahagia seperti ini dengan seseorang yang mencintainya.


Walau kadang Ronald senang membuatnya jengkel. Tapi sebenarnya Chaca tak marah sungguhan dengan Ronald.


''Kena kamu yank,'' ucap Ronald yang berhasil menangkap Chaca. Ia memeluk Chaca dari belakang.


''Udah Mas udah ampun,'' ucap Chaca dengan nafas yang ngos ngosan. Baju yang mereka pakai sudah kotor terkena air dan pasir pantai.


''Kita duduk di situ yuk.'' Ajak Ronald menunjuk rempat duduk yang ada di bawah pohon. Mereka pun berjalan ke arah tempat duduk itu. Setelah itu Ronald memesan es kelapa muda untuk mereka nikmati bersama.


''Terima kasih Mas,'' ucap Chaca tersenyum, lalu menyenderkan kepalanya di bahu Ronald.


''Untuk?''


''Untuk hari ini. Hari ini kamu membuat aku jengkel, marah, kecewa dan juga senang sekaligus,'' ucap Chaca serius, Ronald hanya tertawa kecil. Ia mengusap rambut indah istrinya.


*


*


Prok prok prok.


(Terdengar suara tepuk tangan).


''Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku Mon?'' tanya Devan kecewa saat mengetahui sang istri malah berduaan dengan orang lain.


''Van aku bisa jelasin. Ini ngak seperti apa yang kamu lihat,'' ucap Monica menarik tangan Devan.


''Mau jelasin apalagi. Semuanya sudah jelas Mon. Kamu diam-diam di belakangku bersama pria lain, atau jangan-jangan yang kamu kandung itu anak dia bukan anakku, iya kan?'' ucap Devan menghempaskan tangan Monica dengan kasar.


''Devan apa maksud kamu. Ini anak kamu Devan! jangan berkata seperti itu,'' ucap Monica yang sudah berderai air mata.


''Aku sama sekali ngak percaya. Aku akan menceraikanmu setelah anak itu lahir,'' ucap Devan berlalu meninggalkan Monica yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2