
Saat ini mereka sedang berada di mobil. Hening. Tidak ada yang mengawali pembicaraan. Devan dan Salsa sama-sama berperang dengan pikirannya masing-masing.
"Van,'' panggil Salsa.
''Ya Nona,'' ucap Devan.
''Em apa benar kamu mencintaiku?'' tanya Salsa memberanikan diri.
''Tidak perlu di bahas lagi Nona. Kita hampir sampai,'' ucap Devan mengalihkan pembicaraan. Sejak bertemu tadi, Devan lebih banyak diam. Ia akan diam jika tidak di tanya.
''Van kenapa kamu jadi formal gini sama aku. Kita hanya berdua, seharusnya kita seperti teman,'' ucap Salsa yang tak terima jika Devan berbicara seperti itu.
''Dia hanya menganggapmu teman Van, tidak lebih. Jadi jangan berharap banyak,'' batin Devan.
''Van, kamu dengar tidak?'' tanya Salsa yang kesal.
''Iya Nona,'' ucap Devan seadanya.
*
*
Di lain tempat, saat ini Ronald sedang meeting di perusahaan Bora Group bersama klien nya. Chaca selalu ikut kemana pun Ronald pergi. Namun saat ini Chaca sedang berada di ruangannya, tidak ikut ke ruang meeting. Ia asik bermain game dengan ponselnya. Namun konsentrasinya hilang ketika mendengar suara handphone berbunyi.
''Siapa sih yang nelpon, berisik banget,'' ucap Chaca berdiri mencari ponsel yang berdering. Setelah menemukan, Chaca segera melihat siapa yang menelpon di handphone milik suaminya itu.
''Nomor baru?'' ucap Chaca mengerutkan keningnya. Tanpa pikir panjang Chaca segera menggeser tombol berwarna hijau.
''Halo Ronald,'' ucap seorang wanita yang berada di seberang telepon.
''Siapa?'' tanya Chaca datar.
''Loh ini siapa?'' tanya seseorang itu.
''Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan,'' ucap Chaca dingin.
''Saya kekasihnya Ronald, anda siapa?'' ucap wanita itu.
Deg.
''Kekasih?'' batin Chaca.
__ADS_1
''Kekasih? kenalin saya istri sah saudara Ronaldhina Sanjaya,'' ucap Chaca menekan kalimat akhir.
Tut tut tut.
Chaca segera mematikan panggilan telepon itu. Nafasnya naik turun.
''Apa katanya? kekasih? yang benar saja. Apa selama ini Ronald mengkhianatiku?'' banyak pertanyaan yang bersarang di otak Chaca. Ia tak ingin berfikir negatif tentang suaminya. Namun hatinya tak bisa di bohongi saat ini, terasa sakit saat ada seseorang yang menyebut suaminya kekasihnya.
Chaca melamun memikirkan ucapan wanita tadi. Sampai-sampai ia tak tau jika Ronald sudah berada di dekatnya.
''Lagi mikirin apa, hem?'' tanya Ronald mengecup pipi Chaca.
''Ngak mikirin apa-apa,'' ucap Chaca datar. Sebenarnya ia ingin sekali bertanya kepada suaminya, siapa wanita tadi. Tapi entah kenapa lidahnya kelu untuk bertanya.
''Apa baby kita tadi nakal saat aku tinggal?'' tanya Ronald mengelus perut buncit milik istrinya.
''Mereka baik-baik saja,'' ucap Chaca yang masih datar.
Ronald merasa jika saat ini mood istrinya tidak baik-baik saja. Namun Ronald selalu berfikir mungkin itu bawaan bayi yang di kandungnya.
Siang pun berganti sore, Ronald mengejak Chaca untuk pulang, karna Chaca terlihat tidak baik-baik saja hari ini.
''Aku ngak papa Mas,'' ucap Chaca berusaha biasa saja.
''Tapi kamu diemin Mas terus lo. Kalau Mas ngak tanya, kamu juga ngak mau ngomong. Memangnya ada apa sih, tolong bilang sama Mas,'' ucap Ronald lembut.
''Aku ngak papa,'' ucap Chaca mengulang kata-katanya tadi.
''Huft, ya sudahlah kalau begitu,'' ucap Ronald.
Sesampainya di rumah Chaca segera bergegas menuju kamarnya. Ia ingin segera mandi dan istirahat. Seharian berada di kantor dan hanya berdiam diri membuat ia lelah.
Sesampainya di kamar ia segera mengambil baju ganti dan handuk. Chaca segera masuk ke kamar mandi.
''Dia kenapa? aneh banget seharian ini,'' batin Ronald yang tak tau masalahnya.
Di dalam kamar mandi Chaca masih memikirkan wanita yang menelpon suaminya tadi siang. Ucapan wanita itu masih terngiang- ngiang di fikirannya.
''Kenapa aku mikirin itu sih. Ngak mungkin Ronald tega mengkhianatiku. Tapi kenapa wanita tadi bilang kalau dia kekasih Ronald. Ngak mungkin kan kalau ada asap kalau ngak ada api,'' ucap Chaca yang masih berdiam diri di kamar mandi.
''Sayang, kenapa lama sekali? nanti kamu bisa masuk angin loh,'' ucap Ronald dari balik pintu.
__ADS_1
''Iya, sebentar,'' ucap Chaca dari dalam kamar mandi. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Chaca segera keluar dari kamar mandi. Ia melihat suaminya yang sedang duduk di atas sofa kamarnya sambil fokus pada benda pipihnya.
''Kenapa dia serius banget. Apa dia lagi chat sama wanita tadi? aduh Chaa, jangan berfikir yang tidak-tidak, oke. Kasian baby kamu kalau kamu banyak fikiran,'' batin Chaca sambil mengelus perutnya yang membuncit.
Sementara di lain tempat.
''Halo Reno,'' ucap wanita di seberang telepon.
''Hem, apa?'' tanya Reno malas meladeni nenek lampir seperti Berta.
''Apa Ronald sudah menikah? tadi siang aku menelponnya dan yang mengangkat seorang wanita, dan katanya dia istrinya Ronald,'' ucap Berta.
''Kalau sudah tau kenapa masih bertanya,'' ucap Reno malas.
''Reno aku serius ini,'' ucap Berta dengan nada kesal.
''Aku juga serius Berta,'' ucap Reno tak kalah kesal.
Tut tut tut.
Berta mematikan teleponnya. Ia benar-benar kesal karna mengetahui Ronald sudah memiliki istri. Namun ia tak akan berhenti sampai di sini saja. Ia akan terus mengejar Ronald sampai ia mendapatkan Ronald kembali.
''Aku ngak akan berhenti sampai di sini saja Nald. Aku akan mengejarmu, seperti kamu mengejarku waktu dulu. Walaupun kamu sudah ber istri, itu tidak jadi masalah bagiku. Karna istri bisa di cerai,'' ucap Berta dengan senyum liciknya.
Berta adalah mantan kekasih Ronald saat mereka sekolah menengah atas dulu. Berta juga cinta pertama bagi Ronald. Ronald jatuh hati kepada Berta sejak kelas 10. Entah mengapa, menurut Ronald Berta wanita tercantik waktu itu. Padahal menurut kaum Adam yang lain, Berta biasa-biasa saja, malah terlihat angkuh dan sombong.
Banyak para kaum Hawa yang menyukai Ronald waktu itu. Namun Ronald begitu kekeh pada pendiriannya, hanya mencintai Berta saja. Berta yang selalu di kejar-kejar oleh Ronald merasa besar kepala, karna Ronald adalah most wanted di sekolahnya.
Ronald dan Berta akhirnya jadian saat mereka naik ke kelas 12. Ronald sangat bahagia waktu itu. Berbeda dengan Berta yang hanya ingin bermain-main dengan Ronald. Sampai akhirnya hari kelulusan telah tiba, dan hari itu juga Berta mengakhiri hubungannya dengan Ronald karna ingin melanjutkan studynya di LN. Berta berjanji kepada Ronald, jika lulus nanti, ia akan segera kembali ke Jakarta dan juga kembali kepada Ronald.
Saat ini Berta ingin sekali kembali ke Ronald karna Berta baru tau ternyata Ronald adalah pewaris satu-satunya keluarga Sanjaya. Saat sekolah dulu, Ronald selalu tampil sederhana dan apa adanya, maka dari itu Berta hanya ingin bermain-main saja.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya
Like, coment, vote, dan beri hadiah🤗🤗🤗
See you next episode😊😊😊
__ADS_1