I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 55


__ADS_3

Waktu hampir menunjukkan jam 12 malam. Namun Chaca masih belum bisa menutup matanya. Ia masih terbayang-bayang dengan es pisang ijo yang di lihatnya tadi siang.


''Mas,'' ucap Chaca menggoyang goyangkan suaminya yang sudah terlelap.


''Mas,'' rengek Chaca. Ronald benar-benar tidak terusik sama sekali.


''Hem, apa yank,'' ucap Ronald yang masih memejamkan matanya.


''Bangun dulu. Aku ngak bisa tidur nih,'' ucap Chaca kesal. Ronald jika sudah tidur sulit sekali untuk bangun.


''Apa sih yank?'' tanya Ronald sambil mengucek matanya yang terasa gatal.


''Mas pengen es pisang ijo,'' rengek Chaca.


''Besuk ya. Sekarang kamu tidur,'' ucap Ronald.


''Tapi anakmu maunya sekarang Mas,'' ucap Chaca kesal.


''Tapi Mas ngak tau dimana yang jual yank. Ini udah tengah malam lo,'' ucap Ronald pusing. Kenapa harus nyidam sesuatu yang tidak tepat dengan waktunya.


''Kalau kamu ngak mau aku bisa cari sendiri,'' ucap Chaca membuka selimutnya lalu turun dari atas ranjang.


''Oke oke Mas beliin. Tapi kamu nunggu di rumah aja. Angin malam ngak baik buat kamu dan baby,'' ucap Ronald bergegas mengambil jaket, dompet dan tak lupa kunci mobil. Sementara Chaca tersenyum bahagia.


''Di mana carinya kalau udah tengah malam gini. Aduh baby, kamu ada-ada aja pengennya,'' ucap Ronald menggerutu sendiri saat sudah berada di dalam mobil. Ia tak mau menggerutu di depan istrinya jika tak mau kena semprot.


''Bahkan warung-warung di pinggir jalan sudah tutup semua. Dari mana sih dia tau es pisang ijo itu, heran deh. Perasaan seharian ini ngak kemana-mana,'' ucap Ronald lagi.


Ronald berusaha mencari penjual es pisang ijo. Mustahil sudah tengah malam ada penjual es.


''Ahhh, kalau aku ngak dapat es itu, Pasti nanti Chaca ngomel ngak berhenti berhenti,'' Ronald meraup wajahnya kasar.


Sementara di kamar yang bernuansa putih, Chaca sudah terlelap dalam tidurnya. Ia sudah melupakan es pisang ijo yang ia pesan tadi.


''Apa aku pulang aja ya. Tapi pasti Chaca masih menungguku. Aku harus gimana?'' batin Ronald.


Ronald memutuskan putar balik. Ia sudah memutar beberapa kali tapi tak menemukan penjual es pisang ijo. Ia akan pulang ke rumah, walaupun nanti sampai di rumah ia akan ken semprot oleh sang istri.


''Semoga Chaca ngak marah,'' ucap Ronald meneguhkan hatinya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Ronald sudah sampai. Jam juga menunjukkan hampir pukul 2 dini hari. Berarti ia hampir menghabiskan waktu 2 jam untuk mencari es pisang ijo. Ia segera memarkirkan mobilnya di garasi.


Langkahnya pelan namun pasti. Ia membuka knop pintu dengan perlahan, Ronald berharap Chaca sudah tidur. Ia menahan nafasnya kala pintu sudah terbuka. Ronald melihat jika Chaca terbaring di atas ranjang dan dengan mata yang terpejam.


''Hah untung dia sudah tidur,'' ucap Ronald pelan. Ia berjalan ke arah ranjang, naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat pelan juga.


Ronald menghembuskan nafasnya panjang namun pelan.


''Kalau tadi dia belum tidur. Paling-paling sekarang aku ngak bisa merebahkan tubuhku disini. Terima kasih anak-anak Daddy, kamu ngak rewel,'' batin Ronald mengusap perut Chaca yang mulai membuncit.


Namun gerakan Ronald membangunkan Chaca yang terlelap dalam tidurnya. Chaca mengerjabkan kedua matanya.


''Mas udah pulang? mana es pisang ijonya,'' ucap Chaca yang sekarang sudah posisi duduk. Ronald yang di tanya seperti itu hanya menelan salivanya dengan kasar.


''Em pedagangnya udah pada tutup yank. Besuk ya kita cari,'' ucap Ronald membelai lembut pipi Chaca agar Chaca tidak marah-marah. Namun harapan Ronald tak sesuai dengan kenyataan.


Chaca segera menepis kasar tangan Ronald yang membelai pipinya.


''Ngak usah pegang-pegang,'' ucap Chaca yang berada dalam mode marah.


''Sayang, Mas minta maaf. Tapi memang pedagangnya udah pada pulang yank. Kamu jangan marah-marah dong,'' ucap Ronald dengan sabar.


''Sayang jangan nangis dong. Apa mau Mas buatin? tapi bener yank pedagang esnya udah pada pulang. Udah pada ngak ada yang jualan yank,'' ucap Ronald frustasi.


''Bohong!!!'' ucap Chaca menangis kencang.


''Mas buatin ya? kamu mau kan? tapi berhenti menangis yaaa,'' ucap Ronald memohon.


''Ngak usah!! udah ngak pengen,'' ucap Chaca tiba-tiba berhenti menangis.


''Kenapa? kalau kamu mau Mas buatin sekarang. Atau kita buat sama-sama,'' ucap Ronald.


''Udah ngak pengen,'' ucap Chaca lalu merebahkan tubuhnya kembali. Chaca segera menarik selimut dan tidur.


''Sayang, kamu marah?'' tanya Ronald menggoyang goyangkan tubuh Chaca. Namun Chaca masih tak bergeming, ternyata Chaca sudah terlelap ke alam mimpinya. Suara dengkuran halus terdengar di telinga Ronald.


''Apa semua orang hamil seperti itu? apa Chaca masih marah sama aku?'' tanya Ronald pada diri sendiri. Ia menatap heran ke arah Chaca. Baru beberapa detik yang lalu ia menangis terisak. Tapi saat ini Chaca dengan mudahnya tertidur.


*

__ADS_1


*


Pagi harinya.


''Cezy, beneran kamu mau kerja di tempat sahabat kakakmu?'' tanya Mama Luna.


''Iya Ma. Kak Chaca kemarin bilang kalau hari ini aku sudah bisa masuk kerja,'' ucap Cezy yang sedang menyantap sarapannya.


''Benarkah secepat itu?'' tanya Mama Luna mengeryitkan dahinya.


''Iya Ma. Kan yang punya sahabat kak Chaca,'' ucap Cezy.


''Iya ya. Kalau ada orang dalam mah semuanya gampang,'' ucap Mama Luna.


''Tapi kan kak Chaca bukan orang dalam Ma,'' ucap Cezy yang tidak paham arah pembicaraan Mama Luna.


''Tapi sahabat kakakmu kan yang punya perusahaan,'' ucap Mama Luna balik.


''Hehe iya juga sih,'' ucap Cezy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Setelah sarapan Cezy segera berangkat menggunakan taksi. Sebenarnya mama Luna sudah menyuruh pak Joko untuk mengantarnya tapi Cezy menolak.


''Perusahaannya cukup besar,'' ucap Cezy yang sudah keluar dari taksi.


Ia segera melangkah masuk ke dalam perusahaan tersebut. Sampai di depan resepsionis ia bertanya ruangan CEO perusahaan ini.


''Apa mbak nya sudah membuat janji?'' tanya resepsionis tersebut.


''Hem belum sih. Tapi saya sudah di terima di perusahaan ini,'' ucap Cezy.


''Maaf Mbak, jika Mbak nya belum ada janji di larang menemui CEO kami,'' ucap resepsionis lagi.


''Huft. Gimana ini? aku telpon kak Chaca aja deh,'' ucap Cezy mengambil handphone nya yang berada di dalam tas.


''Halo kak. Kakak bilang aku udah di terima di perusahaan sahabat kakak, tapi kenapa aku ngak boleh ketemu yang punya,'' omel Cezy yang berada di sebrang telepon membuat telinga Chaca mendadak sakit.


*


*

__ADS_1


__ADS_2