
Saat mengetahui Monica hamil Devan langsung mengajak Monica ke rumahnya untuk meminta restu menikahi Monica. Tapi ibu Marwah langsung mengusir mereka berdua dan tak menganggap Devan anaknya lagi. Ibu Marwah terlalu kecewa kepada Devan yang tak berfikir panjang sebelum berbuat.
''Semoga kamu selalu bahagia Cha,'' ucap Devan. Air matanya keluar begitu saja. Ia membayangkan waktu dulu saat saat masih bersama Chaca. Menurutnya ia adalah pria yang paling beruntung bisa di cintai oleh seorang Chalondra Athalia Bora atasannya sendiri.
''Maafkan aku, maafkan aku,'' ucap Devan meraup wajahnya kasar.
*
*
Di tempat lain
Saat ini Chaca sudah berada di perusahaannya lagi. Ronald mengantar Chaca setelah melihat rumah yang akan di tempati mereka nantinya. Niatnya Ronald tak ingin balik lagi ke perusahaan tapi jam 2 siang ada meeting penting yang harus di hadirinya mengingat Ronald adalah penerus tunggal.
''Ternyata suamiku romantis juga. Aduh gunung es, tidak butuh waktu lama aku pasti bisa mencintaimu.'' Gumam Chaca dengan senyum di wajahnya. Chaca teringat Ronald yang begitu romantis memberikan rumah mewah kepadanya.
Ting..
Bunyi pesan di hp Chaca.
''Yank nanti aku jemput setelah aku selesai meeting,'' ucap Ronald di pesan tersebut.
''Iya mas.'' Balas Chaca.
Jam hampir menunjukkan pukul 5 sore. Dan Ronald belum menampakkan batang hidungnya. Chaca masih setia menunggu Ronald di ruangannya sambil sesekali melihat hpnya.
''Kemana sih si gunung es itu. Kenapa sampai sekarang belum jemput juga. Jadi bete gini kan.'' Gerutu Chaca.
Sedangkan yang di tunggu saat ini masih terjebak macet.
''Ah s*** macet lagi. Pasti Chaca sudah mengomel tanpa henti.'' Ucap Ronald yang masih berada di jalan. Jalanan yang ia lewati begitu macet karna jam-jam segini jam orang pulang bekerja.
Tut tut (suara panggilan telepon)
''Hem.'' Chaca yang hanya berdehem saja.
''Yank maafin aku ya, jalanan macet total, jadi aku akan telat sampai disana,'' ucap Ronald.
''Heem,'' ucap Chaca.
Beberapa saat kemudian Ronald sampai di perusahaan Chaca. Ia mengetuk pintu ruangan Chaca.
''Masuk,'' ucap Chaca dari dalam ruangan.
__ADS_1
''Hai sayang. Maaf ya aku telat jemput kamu.'' Ronald berjalan ke arah Chaca dan mengecup kening Chaca. Tapi Chaca masih tak bergeming.
''Sayang aku bawa sesuatu buat kamu.'' Ronald memberikan bunga mawar merah kepada Chaca yang sejak tadi di sembunyikannya di belakang tubuhnya.
''Thanks,'' ucap Chaca mengambil bunga itu lalu menciumnya.
''Jangan ngambek lagi. Mending sekarang kira pulang. Pasti kamu lelah sekali.'' Ajak Ronald kepada Chaca. Ia segera menggandeng tangan Chaca. Jantung Chaca berdetak kencang saat jari jemari mereka bertautan. Awalnya Chaca ingin marah kepada Ronald karna telat menjemputnya. Tapi saat Ronald membawakannya bunga mawar merah rasa marah itu berganti dengan bahagia.
''Ternyata seperti ini rasanya di cintai ya. Aku terlalu bodoh karna sejak dulu memilih mencintai.'' Batin Chaca.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di halaman rumah Chaca yang di beri oleh Ronald. Chaca segera turun dan masuk ke dalam rumah. Sampai akhirnya Chaca membuka pintu kamar utama milik mereka. Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.
''Yank masih ngambek?'' tanya Ronald karna sedari tadi Chaca hanya diam.
''Enggak,'' ucap Chaca memejamkan matanya.
''Mandi dulu yank,'' ucap Ronald.
''Mandilah dulu,'' ucap Chaca yang masih dengan posisi sama.
Ronald akhirnya mandi terlebih dahulu dari pada ujung-ujungnya mereka berdebat. Setelah beberapa saat Ronald keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaian santainya.
''Cepet mandi yank,'' ucap Ronald lembut.
Di kamar mandi Chaca ngomel sendiri. Kenapa akhir-akhir ini ia sering marah dengan hal yang begitu sepele.
''Apa gara-gara aku pms ini ya aku jadi marah-marah,'' ucap Chaca bicara sendiri.
''Aku ngak boleh kayak gini. Kasian kan Ronald jika aku ngambek terus,'' ucap Chaca lagi.
Setelah selesai mandi, Chaca segera keluar dan melihat Ronald yang duduk di sofa sambil memegang laptopnya. Chaca segera berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Ronald.
''Kamu ngak capek mas?'' tanya Chaca dengan kepala di senderkan di pundak Ronald.
''Capek sedikit yank. Ini cuma ngecek proyek yang ada di Surabaya doang kok,'' ucap Ronald segera menutup laptopnya dan fokus pada istrinya.
''Kenapa wajahnya begitu? Kamu sakit?'' tanya Ronald khawatir.
''Enggak mas. Biasa efek pms jadi cepet lelah dan gampang marah-marah,'' ucap Chaca.
''Gimana kalau kita liburan sekalian honeymoon yank. Kamu setuju ngak?'' tanya Ronald.
''Honeymoon?'' Beo Chaca. Chaca menelan salivanya susah payah.
__ADS_1
''Iya yank. Kita kan pengantin baru harus honeymonn dong. Biar anak kita cepet ada di sini,'' ucap Ronald mengelus pelan perut rata Chaca.
''Apaan sih mas.'' Ucap Chaca dengan wajah yang sudah memerah.
''Kita liburan ya?'' ucap Ronald. Chaca hanya menganggukkan kepalanya pelan.
''Kamu pengennya kita liburan kemana?'' tanya Ronald.
''Gimana kalau kita ke Lombok. Pasti seru.'' Ucap Chaca menemukan ide.
''Oke, besuk kita berangkat.'' Ucap Ronald.
''What????? Kenapa harus besuk Mas?'' tanya Chaca.
''Kenapa harus di tunda-tunda kalau cepat aja bisa,'' ucap Ronald tersenyum jahil ke Chaca.
''Ronaldddddd!!!!!'' teriak Chaca. Ronald segera menggendong Chaca dan membawanya ke ranjang. Ia menidurkan Chaca dengan pelan. Bibir mereka saling bertautan. Ciuman yang awalnya lembut menjadi saling menuntut.
''Yank. Udah sembuh?'' tanya Ronald yang sudah tak bisa lagi menahan hasratnya. Chaca menggeleng pelan, Chaca kasihan kepada Ronald yang terus-terusan begini.
''Maaf mas,'' ucap Chaca lirih.
''Ngak apa-apa sayang. Kenapa kamu harus minta maaf,'' ucap Ronald mengusap bibir Chaca dengan lembut.
''Mas ke kamar mandi dulu.'' Pamit Ronald menuju kamar mandi. Ia akan mengakhiri hasratnya di kamar mandi.
''Kasian juga lihat dia kek gini. Tapi mau bagaimana lagi kan memang belum sembuh,'' ucap Chaca.
''Ah s**t, kenapa kamu langsung on sih hanya karna ciuman kek gitu aja,'' ucap Ronald prustasi tak bisa menyalurkan hasratnya.
''Sabar sabar. Sebentar lagi kamu menemukan sarangmu yang selama ini kamu cari. Its oke jangan sedih lagi ya,'' ucap Ronald sambil mengelus adik kecilnya.
Setelah beberapa saat Ronald keluar dari kamar mandi.
''Kalau minta bantuan kenapa ngak minta sama istrinya. Kenapa harus minta bantuan sama sabun,'' ucap Chaca kesal.
''Emangnya istrinya mau bantuin?'' tanya Ronald sambil menyipitkan matanya.
''Ya ya kalau di minta ya pasti mau lah,'' ucap Chaca sedikit gugup tapi di buat sesantai mungkin. Wajahnya tak bisa berbohong, karna saat ini wajah Chaca sudah seperti tomat. Ronald hanya tersenyum jahil ketika mendapati muka Chaca yang sudah merah merona.
*
*
__ADS_1
J****angan lupa t**inggalkan jejak. Agar author tambah semangattttt**