
''Cha aku mencintaimu. Dan sampai kapan pun akan mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku sayang. I love you my wife,'' ucap Ronald mengecup kening Chaca lembut. Tangannya berada di pinggang Chaca dan beberapa saat kemudian Ronald juga terbawa ke alam mimpi.
*
*
Matahari terbit dari arah timur. Tapi sepasang pengantin baru masih enggan untuk membuka matanya. Tubuh mereka saling menempel memberikan kehangatan satu dengan yang lainnya. Tangan Ronald berada di pinggang ramping Chaca sedangkan Wajah Chaca berada di dada Ronald. Chaca membuka matanya karna merasa ada beban berat yang menindihnya.
''Eugh.'' Suara lenguhan Chaca saat bangun tidur.
Chaca mulai tersadar jika wajahnya berhadapan dengan dada bidang milik suami kecilnya.
''Jika di pandang seperti ini kenapa kamu tampan sekali sih Ro. Selama ini aku di butakan oleh pesona Devan yang seorang penghianat itu.'' Batin Chaca yang terus memperhatikan suami kecilnya tertidur.
Cup
Ronald bangun dan mengecup sekilas pucuk kepala sang istri.
''Morning kiss sayang,'' ucap Ronald tersenyum. Muka Chaca sudah seperti kepiting rebus. Ia tak menyangka jika Ronald akan bangun saat ia masih memperhatikan Ronald.
''Eh kamu sudah bangun?'' tanya Chaca gugup.
''Udah sejak tadi. Sejak kamu memperhatikan aku,'' ucap Ronald. Chaca di buat salah tingkah.
''Siapa juga yang memperhatikan kamu?'' tanya Chaca cemberut.
''Ngaku aja lah. Kamu terpesona kan sama ketampanan suamimu ini,'' ucap Ronald tersenyum.
''Ih ngak usah pede deh. Udah ah lepasin pelukannya. Aku mau mandi dulu,'' ucap Chaca.
''Kiss dulu yank,'' ucap Ronald merengek.
''Aku belum sikat gigi. Nanti aja ya,'' ucap Chaca menolak.
''Ya udah aku ngak akan lepasin,'' ucap Ronald.
''Ini udah siang Ro. Waktunya kerja. Memangnya kamu ngak jadi kekantor papa?'' ucap Chaca.
''Kiss dulu.'' Ronald memejamkan matanya menunggu ciuman dari Chaca.
''Cium ajalah dari pada ngak berhenti merengek nih bayi.'' Batin Chaca.
Cup
Ciuman Chaca mendarat di pipi kanan Ronald.
''Bukan di situ yank. Tapi di sini,'' ucap Ronald menunjuk bibirnya.
Cup
__ADS_1
Saat bibir Chaca sampai di bibir Ronald, Ronald segera menarik tengkuk Chaca. Dan memperdalam ciumannya.
''Huh huh huh Ronald kamu mau bunuh aku?'' tanya Chaca yang kehabisan nafas karna ciuman Ronald.
''Bernafaslah. Kaku kayak baru pertama ciuman aja.'' Ledek Ronald.
''Ya emang ini yang pertama kok,'' ucap Chaca dengan muka yang memerah.
''Heleh ngak percaya,'' ucap Ronald berlalu menuju kamar mandi.
''Kenapa sih dia. Kok malah sewot gitu.'' Chaca heran dengan tingkah Ronald yang tiba-tiba dingin kepadanya.
Sekarang Ronald berada di kamar mandi. Ia merutuki kebodohannya. Kenapa saat tadi ciuman dengan Chaca, Ronald mengingat perkataan Chaca waktu dulu. Apalagi Chaca tak membalas ciumannya.
''Kenapa aku jadi kekanakan kayak gini sih. Devan kan masa lalunya dan sekarang aku masa depannya. Kenapa aku masih cemburu sih,'' ucap Ronald.
Tok tok tok.
''Ro. Kenapa lama sekali. Aku kebelet pipis nih,'' ucap Chaca di balik pintu.
''Iya sebentar.'' Ucap Ronald di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian Ronald keluar dari dalam kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya.
''Aaaaaaaaa Ro pakek bajumu.'' Teriak Chaca sambil menutup mukanya.
''Hem.'' Ronald mengambil bajunya dan masuk lagi ke kamar mandi lagi.
''Segitu ngak maunya ya lihat badan aku. Padahal kan kita udah sah.'' Ronald menghela nafas beratnya. Ia segera memakai bajunya dan keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari dalam kamar mandi ia berpapasan dengan Chaca yang ingin masuk kamar mandi.
''Kenapa dia balik jadi gunung es lagi. Emang ada yang salah ya? gini nih kalau nikah sama bocah,'' ucap Chaca saat berada di kamar mandi.
*
Saat ini Chaca dan Ronald sudah berada di dalam mobil. Ronald ingin mengantarkan Chaca ke Bora group dan ia langsung menuju perusahaan papanya.
''Nanti siang aku jemput. Kita makan siang bareng,'' ucap Ronald memecah keheningan.
''Iya,'' ucap Chaca.
''Ronald,'' ucap Chaca.
''Hem. Ada apa?'' tanya Ronald tanpa menoleh ke arah Chaca.
''Kamu kenapa sih. Kok dari tadi cuekin aku.'' tanya Chaca yang penasaran dari tadi.
''Lagi males ngomong aja,'' ucap Ronald seadanya.
''Kita udah suami istri lo. Kalau ada masalah bilang, jangan di pendem sendiri kayak gini,'' ucap Chaca.
''Ngak ada masalah apa-apa,'' ucap Ronald.
__ADS_1
''Benarkah?'' tanya Chaca menatap Ronald lekad-lekad.
''Jangan menatapku seperti itu.''
''Kenapa? Kamu kan suami aku. Jadi ngak papa dong kalau aku menatap kamu seperti itu,'' ucap Chaca.
''Terserah,'' ucap Ronald.
''Dia kenapa sih. Gunung es nya membeku lagi kayaknya,'' ucap Chaca dalam hati.
Setelah beberapa saat mobil yang mereka tumpangi sampai di depan perusahaan Bora Group.
''Kamu hati-hati ya. Ngak usah ngebut,'' ucap Chaca sambil melepas seatbelt.
''Hem.'' Ronald yang hanya berdehem saja.
Cup
Chaca memberanikan diri mencium pipi kiri Ronald. Tapi Ronald masih tak bergeming. Ronald masih menatap lurus kedepan.
Cup
Chaca mengecup sekilas bibir milik Ronald. Tapi Ronald tetap tak bergeming. Ia hanya menoleh ke arah kaca yang ada di kanannya. Padahal Ronald sedang mengontrol detak jatungnya agar tidak lari maraton.
''Ronald.'' Rengek Chaca. Ronald segera menoleh kearah Chaca dan
Cup
Chaca mencium bibir milik Ronald sambil me*umatnya. Ia tak kehilangan cara agar Ronald tidak cuek dengannya.
''Hukuman buat yang suka ngambek,'' ucap Chaca sambil mengusap bibir **** milik Ronald.
''Maafin aku kalau aku punya salah. Aku akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu, ya walaupun aku belum mencintaimu. Tapi tolong bantu aku agar benih cinta itu segera tumbuh di hubungan kita Ro,'' ucap Chaca serius.
''Iya, aku juga minta maaf karna sudah kekanak-kanak an kayak gini. Dan aku akan selalu berusaha agar kamu secepatnya mencintaiku Cha.''
''Ya udah cepet masuk gih. Aku mau ke kantor papa dulu,'' ucap Ronald membelai rambut Chaca
''Ya udah aku masuk dulu. Kamu hati-hati. Yang fokus jangan mikirin aku mulu,'' ucap Chaca tertawa.
''Pede banget sih,'' ucap Ronald dengan mencubit pipi Chaca gemas. Chaca segera meraih tangan Ronald dan menciumnya. Chaca segera membuka pintu mobil dan keluar.
''Bye suami kecil ku,'' ucap Chaca melambaikan tangan ke arah Ronald, Ronald hanya tersenyum dan melajukan mobilnya menuju perusahaan papanya.
.
.
Jangan lupa tinggalkan kopi dan bunga nya kakak.
__ADS_1
Dan jangan lupa juga like, Favorite, vote dan Coment sebanyak-banyaknya.
Dan jangan lupa juga like, Favorite, vote dan Coment sebanyak-banyaknya.