
Malam itu Salsa dan Devan bersiap-siap menepati janji mereka untuk makan malam di rumah Pak Hadi. Awalnya Devan menolak untuk ikut, namun Salsa memaksanya hingga akhirnya Devan mau.
Mereka menuju ke rumah pak Hadi dengan panduan maps yang ada di ponsel Salsa.
Setelah memakan waktu hampir setengah jam, mereka pun telah sampai di rumah pak Hadi. Mereka di sambut oleh keluarga pak Hadi. Istri dan anak semata wayangnya.
''Selamat datang Bu Salsa, suatu kehormatan bagi kami, karna Bu Salsa sudi mampir ke gubuk kami ini,'' ucap Pak Hadi dengan menjabat tangan Salsa.
''Terima kasih Pak,'' ucap Salsa membalas jabatan tangan Pak Hadi. Salsa juga bersalaman dengan Ridwan dan istri Pak Hadi.
''Silahkan masuk Bu, Pak,'' ucap Pak Hadi. Mereka mengikuti Pak Hadi masuk ke dalam rumah yang terbilang sederhana. Setelah masuk rumah, mereka di ajak Pak Hadi langsung ke meja makan, karna waktu sudah malam dan tentunya perut sudah keroncongan.
''Silahkan Bu, Pak. Maaf menunya sederhana seperti ini,'' ucap Pak Hadi.
''Tidak apa-apa Pak. Kalau saya sih yang terpenting rasanya,'' ucap Salsa tersenyum ramah.
Saat ini Salsa duduk di sebelah Devan di depan Ridwan. Ridwan menatap Salsa dengan tatapan yang berbeda. Ia terpesona melihat kecantikan Salsa malam ini.
Mereka memulai makan malam. Salsa yang merasa cocok dengan masakan istri Pak Hadi dengan begitu lahap menyantap makanan tersebut.
''Enak sekali Bu masakannya. Wah Ibu memang jago banget,'' puji Salsa mwngacungkan kedua jempolnya.
''Terima kasih Bu Salsa atas pujiannya,'' ucap istri Pak Hadi.
''Tidak hanya istri saya saja Bu yang pintar memasak, bahkan Ridwan anak semata wayang kami ini juga pintar sekali memasak loh,'' ucap Pak Hadi memuji anaknya.
''Benarkah Pak, wah pengen banget nyobain masakan Pak Ridwan, definisi calon suami idaman,'' ucap Salsa tersenyum menatap Ridwan. Ridwan juga membalas senyum tersebut. Devan yang melihat merasakan hatinya kebakaran.
''Akh sial, mereka benar-benar bikin aku ngak mood,'' batin Devan geram.
''Maaf, apa Ibu sudah mempunyai suami?'' tanya Ridwan tiba-tiba.
''Em untuk saat ini belum Pak. Entahlah untuk bulan depan,'' ucap Salsa di iringi dengan tawa sambil melirik ke arah Devan.
''Kebetulan Ridwan juga belum mempunyai kekasih Bu,'' ucap istri Pak Hadi.
''Bu,'' ucap Ridwan dan Pak Hadi bebarengan.
''Benar kan kamu memang belum mempunyai kekasih. Apa salahnya Ibu bilang. Kalau jodohmu Bu Salsa apa kamu tau?'' ucap Istri Pak Hadi.
Tiba-tiba sunyi. Tidak ada yang menanggapi perkataan istri Pak Hadi. Mereka berperang dengan fikirannnya masing-masing sampai makanan di piring mereka habis tak tersisa.
Setelah makan malam mereka mengobrol di ruang keluarga.
__ADS_1
''Bolehkah aku mengobrol sebentar dengan Bu Salsa?'' tanya Pak Ridwan.
''Tentu saja Pak, dengan senang hati. Mau ngobrol dimana?'' tanya Salsa.
''Bagaimana kalau kita mengobrol di taman belakang rumah Bu,'' ucap Pak Ridwan.
''Baiklah,'' ucap Salsa berdiri dari duduknya dan segera melangkah mengikuti Ridwan yang berada di depannya. Devan yang melihat itu jelas-jelas merasa cemburu.
Di sepanjang jalan menuju taman belakang rumah Salsa dan Ridwan saling mengobrol. Mereka tak sadar jika perbincangan mereka membangunkan yang sudah tidur.
Tiba-tiba
Quack quack quack.
Seekor angsa berlari ke arah Salsa. Salsa yang kaget sekaligus takut, ia memeluk Ridwan dan bersembunyi di balik tubuhnya. Pemandangan tersebut tak luput dari pandangan Devan yang saat itu ingin menyusul Salsa. Devan mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya.
''Pak, itu apa?'' tanya Salsa yang tak begitu jelas dengan hewan yang tiba-tiba berada di dekatnya.
''Oh maaf, ini Mona, angsa kesayanganku,'' ucap Ridwan yang saat ini sudah menggendong angsa putihnya.
''A angsa?'' tanya Salsa gugup karna takut.
''Iya Bu. Maaf jika Mona mengagetkan Ibu. Mungkin dia cemburu melihat saya bersama wanita cantik,'' ucap Pak Ridwan membuat wajah Salsa merah merona.
Mereka pun berbincang-bincang hingga pukul 9 malam.
''Sepertinya sudah semakin malam Pak. Saya mau berterima kasih karna sudah di undang makan malam di rumah Bapak. Saya Dan Devan pamit dulu,'' pamit Salsa menyalami Pak Hadi, Ridwan dan Ibunya.
''Sama-sama Bu Salsa, Pak Devan. Jangan kapok main kesini lagi ya. Dan hati-hati di jalan,'' ucap Pak Hadi.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Di sepanjang jalan hanya keheningan yang ada. Salsa fokus pada jalanan yang ada, sementara Devan masih menahan emosinya.
Laju kendaraan mereka semakin kencang. Salsa menoleh ke arah Devan.
''Van, pelan-pelan saja,'' ucap Salsa yang mulai takut. Namun Devan seakan tidak mendengar ucapan Salsa, ia malah menginjak pedal gasnya semakin dalam.
''Van, kamu mau cari mati. Aku ngak mau mati muda Van,'' ucap Salsa yang berpegangan erat.
''Van kamu dengerin aku ngak sih,'' teriak Salsa yang memang sudah panik.
Ckittttttt.
Rem di injak begitu saja oleh Devan. Untung di belakang mereka tidak ada mobil. Jika ada pasti sudah terjadi tabrakan beruntun.
__ADS_1
''Kamu udah gila ya,'' Salsa yang emosi meneriaki Devan.
''Ya aku memang gila. Gila karnamu,'' ucap Devan menatap Salsa tajam.
''Maksudmu apa Van?'' tanya Salsa yang tak tau ucapan Devan. Namun Devan malah enggan menjawab.
''Van, maksud kamu apa?'' tanya Salsa lagi.
''Lupakan!'' ucap Devan dingin.
''Van sebenarnya kamu ini kenapa sih. Kenapa kamu berubah? kamu bukan Devan yang dulu tau ngak?'' ucap Salsa.
''Devan yang dulu sudah mati. Di kubur bersama cintanya,'' ucap Devan asal.
''Kamu ini ngomong apa sih Van. Van hey tatap aku,'' ucap Salsa menarik bahu Devan untuk menatapnya.
''Jika kamu mencintai seseorang, kejar ia sampai dapat, jangan jadi pengecut dong,'' ucap Salsa yang memberi kode kepada Devan.
''Untuk apa aku mengejar seseorang yang tidak pernah mencintaiku. Cukup dia tau perasaanku saja. Selebihnya serahkan semua pada yang di atas sana,'' ucap Devan datar.
''Berarti ucapanmu kemarin hanya bualan semata?'' tanya Salsa.
''Ucapan jika kamu mencintaiku? itu semua bohong kan?'' tanya Salsa.
''Walaupun aku jujur atau berbohong. Tidak ada yang berubah dalam hidupku,'' ucap Devan.
''Tapi aku ingin kamu memperjuangkan cintamu Van!'' ucap Salsa yang sudah meninggikan volume bicaranya.
''Untuk apa aku berjuang sedangkan kamu lebih memilih orang lain, ha?'' tanya Devan yang sudah mencapai puncak emosinya.
''Maksud kamu?'' Salsa yang tak mengerti ucapan Devan.
''Lupakan Sa. Lupakan jika aku pernah mencintaimu,'' ucap Devan menyalakan mobilnya kembali. Ia segera melajukan kendaraannya menuju hotel.
*
*
Devan kayaknya salah paham gaes๐๐๐๐
Gregetan ngak sih sama Devan. Tinggal ngomong aja susah bangettt๐๐
Tekan like, coment, vote dan beri hadiahnya kak
__ADS_1