
Pagi harinya di rumah Chaca dan Ronald.
Saat ini mereka tengah bersiap-siap untuk menuju ke perusahaan Bora Group. Namun Chaca masih kepikiran dengan nasib Cezy.
''Gimana Mas? Kapan Cezy bisa kerja di kantor kamu,'' tanya Chaca.
''Em, sebenarnya hari ini sudah bisa kerja yank,'' ucap Ronald.
''Tapi pasti Cezy belum mengundurkan diri dari perusahaan Salsa Mas,'' ucap Chaca.
''Mending kamu telpon Cezy dulu. Dia mau nya masuk kapan,'' ucap Ronald.
Chaca segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Ia segera mencari nomor milik Cezy.
Tut tut tut.
''Ada apa Kak?'' tanya Cezy yang terdengar malas.
''Kakak sudah mendapatkan tempat kerja yang baru untukmu. Mulai besok kamu sudah bisa masuk kerja di perusahaan Kak Ronald. Segera urus surat pengunduran diri dari perusahaan Salsa,'' perintah Chaca.
''Tapi Ka----
''Ngak ada tapi-tapian. Ini terakhir kalinya kamu merepotkan orang hamil seperti ini,'' ucap Chaca kesal.
''Baiklah-baiklah,'' ucap Cezy pasrah.
Cezy segera bersiap-siap untuk datang ke kantor Salsa. Ia ingin sekali move on dari Devan. Ia tak ingin menjadi pelakor.
''Aku pasti bisa! Walaupun ini berat, tapi aku harus pergi dari perusahaan itu. Jika aku terus menerus berada di sana yang ada aku ngak bisa move on dari Pak Devan,'' ucap Cezy kepada diri sendiri.
Ia segera naik mobilnya menuju perusahaan Salsa. Keputusan yang di ambilnya ini sudah benar.
Tap tap tap
Suara sepatu hak tinggi milik Cezy bergesekan dengan lantai. Ia melihat ke arah ruangan Devan dan juga Salsa yang masih kosong.
''Ini jam berapa sih, apa mereka belum datang?'' batin Cezy masuk ke dalam ruangannya.
Cezy membuat surat pengunduran diri. Nanti jika Salsa sudah datang, ia akan langsung memberikannya kepada Salsa.
Jam menunjukkan pukul 10. Salsa dan Devan baru saja tiba di kantornya. Salsa segera masuk ke ruangannya sendiri, begitu pun Devan.
Setelah Salsa masuk ke dalam ruangannya, Cezy segera mengetuk pintu ruangan Salsa.
Tok tok tok.
''Masuk,'' ucap Salsa dari dalam.
''Permisi Kak,'' ucap Cezy.
__ADS_1
''Ada apa Cez?'' tanya Salsa sambil duduk di kursi kebesarannya. Ia terlihat lelah sekali.
''Em saya ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini Kak,'' ucap Cezy yang sedikit gugup.
''Why?'' tanya Salsa mengerutkan keningnya.
''Em, itu, Kak Ronald ingin saya membantu di perusahaannya,'' ucap Cezy beralasan.
''Terus?'' tanya Salsa yang masih menatap Cezy.
''Ya saya ingin suasana yang baru Kak,'' ucap Cezy yang tak masuk akal.
''Suasana baru? Suasana yang seperti apa?'' tanya Salsa.
''Em i itu---
Ceklek
Pintu tiba-tiba di buka dari luar. Cezy dan Salsa segera melihat ke arah ointu yang terbuka.
''Sayangg,'' ucap Devan yang tiba-tiba masuk. Ia tak tau jika di dalam ada Cezy.
''Ada apa?'' tanya Salsa mengerutkan keningnya.
''Maaf, aku kira kamu sedang sendiri,'' ucap Devan tak enak hati.
''Van kemarilah,'' ucap Salsa.
''Ada apa?'' tanya Devan balik.
''Cezy ingin mengundurkan diri,'' ucap Salsa yang masih menatap Cezy.
''Apa keputusanmu ini sudah bulat Cez. Aku bisa merubah ruanganmu agar suasananya menjadi baru, jika itu yang kamu inginkan,'' ucap Salsa.
''Ti tidak Kak, tidak perlu. Saya hanya ingin membantu Kak Ronald saja,'' ucap Cezy beralasan lain lagi.
''Baiklah, besok kamu sudah bisa bekerja di tempat Ronald,'' ucap Salsa menandatangani surat pengunduran diri tersebut.
''Terima kasih Kak,'' ucap Cezy. Cezy tak menoleh sedikit pun ke arah Devan. Ia tak ingin melihat wajah tampan Devan lagi. Yang ada malah sakit yang ia rasakan.
''Permisi Kak, saya pamit,'' ucap Cezy membungkukkan badannya.
Salsa yang melihat Cezy meninggalkan ruangannya menghela nafasnya panjang.
''Huh, cari sekretaris lagi,'' ucap Salsa memijat kepalanya.
''Nanti aku carikan Sa. Kamu jangan capek-capek. Aku takut jika nanti kamu sakit,'' ucap Devan.
''Aku ngak akan sakit Van. Kamu tenang aja,'' ucap Salsa.
__ADS_1
''Aku takut jika nanti malam pertama kita kamu sakit,'' bisik Devan di dekat telinga Salsa.
''Apaan sih Van. Ngak usah mesum deh,'' ucap Salsa mencubit pinggang Devan.
''Ya aku ngak mesum Sa. Aku kan seorang duda yang normal, aku juga pengen merasakan indahnya surga dunia setelah halal dong,'' ucap Devan.
''Terserah,'' ucap Salsa yang tak mau berdebat lagi dengan Devan.
*
*
Di restoran.
''Daddy, Wiyiam makan Daddy,'' ucap anak kecil yang di tengah berada di dalam gendongan seorang pria tampan.
''Iya sayang, kita makan di sini ya,'' ucap pria tersebut.
Reno, ya dia adalah Daddy dari seorang bocah kecil yang berusia hampir 3 tahun. Ia di tinggal pergi oleh istrinya untuk selama lamanya setelah melahirkan anaknya yang bernama William Esesa.
Reno menyuapi William dengan telaten, seharian ini ia akan menghabiskan waktunya untuk William, karna akhir-akhir ini ia sibuk dengan perusahaan yang ia pegang milik sahabatnya.
''Daddy, Wiyiam mau main,'' ucap Bocah kecil itu.
''Iya nanti setelah kita makan, kita main ya,'' ucap Reno.
Selama hampir 3 tahun di tinggal pergi oleh orang yang di cintai. Membuat Reno harus mengurus William seorang diri. Jika Reno sedang bekerja, William di titipkan oleh asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumahnya.
''William mau main apa?'' tanya Reno lembut.
''Main boya Dad, ayo kita main boya,'' ucap anak kecil yang belum bisa berbicara huruf L.
''Oke, kita main bola di taman dekat rumah kita ya,'' ucap Reno menggendong William dan membayar makanan yang mereka makan tadi.
Reno melajukan mobilnya menuju taman dekat rumah mereka. Di sana tidak terlalu sepi, ada beberapa orang yang terlihat duduk di kursi taman. Reno menggendong William dengan bola di tangan kanannya.
''Kita main di sini,'' ucap Reno mengusap lembut rambut William.
Mereka bermain bola di taman tersebut. Tanpa adanya ibu yang selama ini bersamanya, membuat William menjadi sosok yang selalu mencari perhatian ke setiap wanita. Seperti saat ini, William tiba-tiba menendang bolanya menuju seorang wanita yang duduk di bangku taman yang sedang membelakanginya. Bola William nampak mengenai kepala wanita tersebut. Walaupun tendangan William tidak terlalu kencang namun membuat wanita itu begitu kaget.
''Biar Daddy yang ambil Wil,'' ucap Reno.
''No Dad! Biar Wiyiam yang ambiy,'' ucap William berlari ke arah wanita tersebut. Reno yang melihat dari kejauhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Maaf ya tante cantik, Wiyiam ngak sengaja,'' ucap William sambil mengambil bola yang ada di tangan wanita tersebut.
''No problem Sayang,'' ucap wanita tersebut tersenyum ke arah William.
*
__ADS_1
*
Siapa wanita tersebut? Wkwkwkwk