
Pagi itu di kediaman Salsa. Salsa masih enggan untuk membuka matanya walaupun jam menunjukkan angka 8 pagi.
Semalaman ia hanya merutuki kebodohannya, karna telah menjadi kekasih seorang dokter mesum seperti Malik. Salsa benar-benar kecewa kepada Malik. Apa yang di lakukannya tadi malam tidak pernah terfikir dalam benak Salsa.
''Akhhhhhh Malik sialan! aku benci kamu,'' ucap Salsa menjerit di bawah selimutnya.
Walaupun ia masih enggan membuka matanya. Tapi saat ini otaknya bekerja dengan baik.
Tringggg tringgg.
Ponsel Salsa berdering. Menandakan ada panggilan dari seseorang. Salsa segera menyibakkan selimut yang melilit di tubuhnya. ia segera mengambil handphone nya yang berada di atas nakas.
''Siapa sih pagi-pagi ganggu aja,'' ucap Salsa kesal. Ia segera meraih benda pipihnya dan melihat siapa yang menelponnya.
''Malik? berani sekali dia telepon. Apa masih kurang jelas perkataanku tadi malam?'' batin Salsa geram. Ia meletakkan benda pipihnya lagi. Salsa malas mengangkat telepon dari Malik.
Namun beberapa saat kemudian handphone miliknya berbunyi lagi.
Tringggg tringgg.
Tanpa melihat siapa yang menelpon, Salsa segera mengangkat teleponnya.
''Ada apa lagi sih Malik Ibrorii. Apa kurang jelas perkataanku tadi malam, hah? aku sudah tidak mau lagi denganmu. Kita udah ngak ada hubungan apa-apa lagi, jadi jangan ganggu aku!'' bentak Salsa kesal.
''Halo Nona Salsa. Ini saya Devan. Bukan Malik,'' ucap Devan di balik telepon. Setelah mendengar suara Devan, Salsa segera melihat di penelpon, dan benar saja yang menelponnya barusan adalah Devan bukan Malik.
''Siallll, malah Devan lagi yang telepon,'' batin Salsa.
''Hem, ada apa Van,'' ucap Salsa sedikit gugup.
''Begini Nona, apa Nona sudah kembali ke Jakarta? Jika sudah kembali, nanti jam 2 siang ada meeting penting dari perusahaan Mitra Kencana. Apa Nona bisa hadir?'' tanya Devan.
''Ya bisa,'' ucap Salsa seadanya. Salsa malu kepada Devan yang sudah mengetahui jika dirinya dan Malik sudah tidak ada hubungan lagi.
Salsa segera mematikan panggilan telepon dari Devan.
Tut.
''Apa, hubungan mereka sudah berakhir? kok bisa? apa Malik telah berkhianat? tapi baru kemarin mereka bertunangan. Rasanya tidak mungkin jika hubungan mereka berakhir,'' ucap Devan berperang dengan fikirannya sendiri.
Tok tok tok.
''Masuk,'' ucap Devan dari dalam ruangan.
__ADS_1
''Maaf Pak mengganggu,'' ucap Cezy.
''Hah dia lagi,'' gumam Devan menghembuskan nafasnya kasar.
''Ada apa?'' tanya Devan datar.
''Em begini Pak. Apa Bapak bisa menemani saya nanti malam ke pesta ulang tahun teman saya?'' tanya Cezy.
''Apa keuntungan saya kalau ikut kamu?'' tanya Devan menaikkan sebelah alisnya.
''Em apa ya,'' cezy yang berfikir. ''Nanti di sana ada makanan banyak Pak. Bapak bisa makan sepuasnya,'' ucap Cezy yang tiba-tiba mendapatkan ide.
''Apa menurutmu saya ngak bisa beli makanan?'' tanya Devan bersedekap dada.
''Bu bukan gitu maksud saya Pak. Aduh apa ya? Em saya mengajak Bapak karna saya ngak punya kenalan teman disini Pak,'' ucap Cezy meyakinkan Devan.
''Lha itu teman kamu yang ulang tahun?'' tanya Devan.
''Ih orang ini kenapa menyebalkan sekali. Untung aku suka,'' batin Cezy.
''Kan cuma dia Pak yang saya kenal. Yang lain ngak ada yang kenal. Jadi saya mengajak Bapak biar saya ada tema mengobrol,'' ucap Cezy.
''Tapi saya sedang sibuk. Dan saya ngak ada waktu untuk datang ke pesta yang tidak penting seperti itu,'' ucap Devan kembali membuka laporan yang ada di depannya.
''Ayolah Pak. Sekali ini saja Pak,'' ucap Cezy memohon.
''Ngak!'' ucap Devan.
''Pak pleaseee,'' ucap Cezy mengatupkan kedua tangannya pertanda memohon.
''Aduh Cez. Mending sekarang kamu kembali ke ruangan kamu. Saya sibuk,'' ucap Devan secara terang-terangan mengusir Cezy.
''Pak Devan jahat,'' ucap Cezy berlari keluar dari ruangan Devan.
''Astaga anak itu. Kenapa aku harus berhadapan dengannya. Makin tambah pusing nih kepala,'' ucap Devan memijit kepalanya yang terasa pusing.
Sedangkan Salsa baru sampai di perusahaannya. Hampir semua karyawannya menatap Salsa dengan tatapan tanda tanya. Biasanya Salsa tampil apa adanya. Tidak berdandan dan memakai pakaian yang biasa saja. Berbeda hari ini, ia berdandan dan memakai pakaian yang bermerk. Tak lupa lipstik merah menempel di bibir pink nya. Sungguh membuat Salsa bertambah cantik.
Sebenarnya Salsa berdandan hanya ingin menutupi wajahnya yang terlihat pucat akibat begadang semalaman. Ia tak ingin karyawannya tau jika matanya sembab karna semalaman menangis.
''Selamat siang Bu Salsa, Ibu terlihat sangat cantik hari ini,'' ucap salah satu karyawan Salsa memuji Salsa.
''Terima kasih,'' ucap Salsa dan tak lupa senyum ramahnya.
__ADS_1
Salsa segera berjalan menuju ke lift.Sesampainya di lantai atas, dimana ruangannya berada, Salsa segera keluar dari dalam lift. Salsa berjalan sangat elegan menuju ruangannya. Saat belum sampai di ruangannya, Devan membuka pintu ruangannya sendiri. Devan begitu terpesona melihat Salsa yang baru saja sampai.
''No na,'' gumam Devan pelan. Devan melihat penampilan Salsa dari atas sampai bawah dari bawah sampai atas.
''Siang Van,'' ucap Salsa.
''Selamat siang Nona,'' ucap Devan menghilangkan rasa gugupnya. Devan terpesona dengan penampilan Salsa yang terlihat cantik dan dewasa.
''Cantik,'' gumam Devan pelan, namun masih bisa di dengar oleh Salsa.
''Terima kasih Van,'' ucap Salsa tersenyum ramah kepada Devan. Devan sampai lupa kapan terakhir kali Salsa tersenyum seperti itu kepadanya. Setiap hari Salsa selalu berbicara ketus kepadanya.
''Aku masuk dulu Van,'' ucap Salsa berjalan ke dalam ruangannya.
Devan masih mematung di tempatnya. Ia masih terpesona dengan kecantikan Salsa.
''Kamu jangan gila Van. Memang benar kata orang, rumput tetangga lebih hijau. Dia sudah punya Malik Van. Dan kamu hanya pengagum rahasianya,'' batin Devan dalam hatinya. Ia segera masuk kembali ke dalam ruangannya.
Jam menunjukkan hampir pukul 12 siang. Itu artinya jam istirahat telah tiba. Salsa segera mengajak Devan untuk makan siang bersama.
''Van makan siang yuk,'' ucap Salsa yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Devan tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Kan di sini Salsa yang atasan kenapa harus mengetuk pintuπ
''I iya Nona,'' Devan segera berdiri dari kursinya.
Devan segera menyusul Salsa yang berjalan di depannya. Namun langkah mereka terhenti ketika ada suara seseorang yang selalu mengganggu Devan.
''Kak, apa aku boleh ikut?'' tanya Cezy dengan muka yang memelas.
''Boleh,''
''Tidak!'' ucap Devan dan Salsa barengan.
''Biar dia ikut Van,'' ucap Salsa yang meneruskan langkahnya menuju lift.
Sementara Devan menggerutu kesal karna lagi-lagi Cezy ikut dengannya. Entah kapan waktunya ia akan berduaan dengan Salsa jika setiap kemana-mana Cezy selalu ikut.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Di novel ini author sengaja menyelipkan pemain lain, agar tidak bosan dengan cerita Chaca. Karna bukan hanya Chaca dan Ronald yang menjadi pemain utama di sini.πππ
__ADS_1
Mohon dukungannya teman-temanπ€π€π€