I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 43


__ADS_3

''Bagaimana Dok keadaan suami saya?'' tanya Chaca kepada Dokter yang memeriksa.


''Kondisi pasien sangat lemah bu, beliau kehabisan banyak cairan,'' ucap Dokter yang memeriksa Ronald.


''Saat ini pasien harus rawat inap selama beberapa hari sampai kondisinya benar-benar stabil,'' ucap Dokter lagi. Chaca hanya menganggukkan kepalanya.


''Saya boleh masuk kan Dok?'' tanya Chaca kepada Dokter.


''Silahkan Bu, sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat,'' ucap Dokter.


Chaca segera masuk ke ruang IGD. Ia sangat khawatir dengan keadaan suaminya. Ia berjalan ke arah blankar, di tatapnya wajah yang terlihat pucat dan memejamkan matanya. Air mata Chaca tiba-tiba menetes begitu saja, ia tak tega melihat suaminya berbaring lemah seperti itu. Chaca menggenggam tangan Ronald yang dingin, ia terus menciumi tangan yang lemah itu.


''Mas, cepet sembuh. Aku ngak tega lihat kamu seperti ini,'' ucap Chaca yang tak henti-hentinya mengeluarkan air matanya.


Setelah di pindahkan di ruangan rawat Ronald sadarkan diri. Ia mencari sosok yang selama ini menemaninya.


''Sayang,'' gumam Ronald pelan mengusap kepala istrinya pelan. Chaca yang merasakan gerakan tersebut langsung terbangun dari tidurnya.


''Mas, kamu sudah bangun. Apa kamu butuh sesuatu?'' tanya Chaca. Namun Ronald hanya menggeleng pelan.


''Perut Mas masih sakit kah?'' tanya Chaca yang terlihat begitu khawatir.


''Mas udah baikan sayang. Kamu kenapa nangis? jangan khawatirkan Mas, Mas ngak bakal kenapa napa kok,'' ucap Ronald sambil mengelus elus rambut indah milik Chaca.


Pagi itu sinar mentari sudah mulai muncul. Mama Luna dan Mama Reni terlihat terburu-buru memasuki Rumah Sakit yang saat ini menjadi tempat rawat Ronald.


''Gimana kalau terjadi apa-apa dengan Ronald Na,'' ucap Mama Reni yang menahan tangisannya.


''Ronald pasti baik-baik saja, percaya sama aku Ren,'' ucap Mama Luna yang juga tak kalah khawatir dengan Ronald.


Tadi saat masih Adzan subuh berkumandang di Masjid, Chaca menelpon Mama Reni dan Mama Luna jika Ronald masuk Rumah Sakit. Chaca tidak mengatakan kondisi suaminya. Ia hanya mengatakan jika Ronald masuk Rumah Sakit. Dan dari cara bicara Chaca ia terlihat panik, Mama Luna segera menjemput Mama Reni di kediaman keluarga Sanjaya.


Ceklek.


''Mama,'' gumam Ronald dan Chaca.


''Gimana keadaan Ronald Nak? apa dia sakit parah?'' tanya Mama Reni panik.

__ADS_1


''Ma Ronald hanya diare, Mama ngak usah panik seperti itu,'' ucap Ronald kesal.


''Gimana Mama ngak panik, subuh tadi Chaca telpon Mama, kalau kamu masuk Rumah Sakit. Suara Chaca juga terlihat sangat panik, Mama jadi khawatir sama kamu,'' ucap Mama Reni.


''Ronald sudah baik-baik saja Ma, jadi hilangkan rasa panik Mama itu,'' ucap Ronald.


''Kok bisa diare sih Nak, kamu makan sembarangan ya? istri kamu ngak masakin kamu ya?'' sekarang Mama Luna yang bertanya.


''Ini bukan salah Chaca Ma, ini salah Ronald sendiri,'' ucap Ronald yang tak mau istrinya di salahkan.


''Memangnya kamu habis makan apa?'' tanya Mama Luna.


''Kemarin siang kita makan bakso. Aku kan suka pedas Ma, aku cuma tuangin 3 sendok sambel tapi ngak ngerasa pedas sama sekali, malah kena omel sama Chaca dan malamnya aku sakit perut,'' ucap Ronald menjelaskan.


''Kamu itu selalu seperti itu Ro. Di bilangin selalu ngeyel. Untung istri kamu sabar, kalau ngak mungkin udah di tinggalin tuh sama istrimu,'' ucap Mama Reni yang kesal dengan tingkah Ronald yang tidak memikirkan setelahnya.


*


*


Di tempat lain, saat ini Devan memilih untuk olahraga pagi. Hari ini hari minggu jadi ia seharian akan di rumah kontrakannya.


''Mbak, Mbak ngak papa?'' tanya Devan.


''Mas tolongin saya, tangan dan kaki saya sakit sekali,'' ucap gadis itu.


''Kita ke Rumah Sakit sekarang!'' ucap Devan lalu menyetop mobil yang lewat. Karna sejak tadi ia tak melihat taksi atau angkot yang lewat jalan itu. Beruntung sekali masih ada orang baik yang mau mengantar mereka ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit Devan menunggu di depan ruang IGD. Ia tak tau harus menelpon siapa, karna ia tak kenal dengan gadis tersebut.


Setelah beberapa saat Dokter yang memeriksa gadis tadi keluar dari ruangan IGD.


''Bagaimana Dok keadaannya?'' tanya Devan.


''Apakah Mas keluarganya?'' tanya Dokter memastikan.


''Gimana ini, aku tak tau dimana keluarganya. Aku bahkan tidak mengenal gadis tadi,'' batin Devan.


''Ya Dok saya keluarganya,'' ucap Devan.

__ADS_1


''Begini Mas, cidera di kakinya menjadikan pasien lumpuh, tapi kelumpuhannya hanya sementara, dengan terapi secara rutin pasien bisa sembuh kembali. Untuk tangannya hanya sedikit terkilir. Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, anda bisa menjenguknya nanti,'' ucap Dokter yang memeriksa gadis itu.


Setelah selang beberapa saat gadis tersebut sudah berada di ruang rawat. Ia tampak mencari pria yang menolongnya tadi.


''Kemana pria tadi? apa dia sudah pergi?'' batin gadis itu.


Ceklek.


Tiba-tiba pintu di buka, menampakkan sosok pahlawan yang menolongnya tadi. Ia tak tau nasibnya bagaimana jika tidak di tolong oleh Devan. Karna jalanan yang mereka lewati begitu sepi.


''Gimana keadaan kamu?'' tanya Devan.


''Alhamdulillah sudah lebih baik,'' ucap gadis itu.


''Terima kasih Mas sudah mau menolong saya, saya tak tau harus dengan cara apa saya membalasnya,'' ucap gadis itu lagi.


''Saya nolong Mbak ikhlas kok, Mbak tidak harus membalasnya dengan apapun,'' ucap Devan tersenyum.


''Sekali lagi terima kasih Mas.''


''Hem kalau boleh tau keluarga Mbak dimana? biar saya menghubungi mereka kalau Mbak di rawat di RS ini,'' ucap Devan.


''Ngak usah Mas, sebenarnya mama dan papa saya baru saja berangkat ke London kemarin, jadi saya tidak ingin membuat mereka khawatir. Saya sudah baikan kok,'' ucap gadis itu.


''Hem baiklah. Kamu belum sarapan kan? mending sekarang kamu makan dulu. Biar cepat sembuh,'' ucap Devan meletakkan bubur di hadapan gadis itu.


''Gimana caranya aku makan, tanganku saja masih sakit kalau di gerakin, sementara tangan kiriku ada selang infus,'' batin gadis itu hanya memandangi makanannya.


''Kenapa ngak di makan? apa kamu mau makanan yang lain?'' tanya Devan.


''Em a aku ngak bisa makan Mas, tanganku masih sakit kalau di gerakin,'' ucap gadis itu merasa tak enak harus merepotkan Devan.


''Oh iya ya, saya sampai lupa,'' ucap Devan tersenyum. Ia segera meraih bubur tersebut dan menyuapi gadis tersebut.


''Sekali lagi terima kasih Mas,'' ucap Gadis itu menerima suapan Devan.


*

__ADS_1


Siapakah orang yang di tolong Devan.


Yuk corat coret di bawah sini😊😊😊


__ADS_2