
''Aku mencintaimu,'' ucap Devan lirih, namun masih bisa di dengar oleh Salsa.
''Apa maksudmu Van?'' tanya Salsa.
''Aku mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu Sa. Kamu tak perlu menjawab apa-apa. Aku sudah tau dengan jawaban kamu. Setidaknya kamu sudah mengetahui perasaanku padamu,'' ucap Devan.
''Jika kamu ingin kembali ke London silahkan. Aku tidak mungkin memaksamu terus berada di sini,'' ucap Devan berlalu meninggalkan Salsa yang masih mematung.
''Jadi selama ini Devan cinta sama aku?'' tanya Salsa pada dirinya sendiri.
Setelah pergi dari ruangan Salsa, Devan lebih memilih pergi dari perusahaan itu. Hatinya saat ini tidak baik-baik saja. Perasaan yang selama ini ia pendam, sudah mampu ia utarakan. Tapi kenapa hatinya malah terasa sakit saat seseorang yang di cintainya akan pergi meninggalkannya.
''Kenapa hati ini rasanya sakit sekali. Apa aku tak pantas bahagia? kenapa aku selalu gagal soal percintaan?'' batin Devan memukul setir mobilnya. Entah saat ini tujuannya akan pergi kemana. Tapi ia tak ingin berlama-lama di perusahaan.
*
*
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Karna pekerjaannya sudah selesai Cezy memutuskan untuk pulang. Yang tentunya bukan pulang ke rumah, melainkan pulang ke rumah kakaknya.
Cezy menghubungi Chaca.
''Haloo kak, apa aku boleh main ke rumah kakak? aku pengen curhat kak,'' ucap Cezy merengek kepada Chaca.
Setelah Chaca menyetujui, Cezy memilih langsung ke rumah Chaca. Tanpa mampir dulu ke rumah Mama Luna.
Setelah perjalanan beberapa menit, Cezy sampai di rumah mewah 2 lantai itu. Rumah yang selama ini di hadiahkan Ronald kepada istri tercintanya.
Tok tok tok.
Ketukan pintu dari luar terdengar. Chaca yang saat itu sedang bersantai di depan tv langsung bergegas membukakan pintu. Setelah pintu terbuka Cezy segera berhambur ke pelukan Chaca.
''Kakak,'' ucao Cezy menangis tersedu-sedu.
''Ada apa Cez?'' tanya Chaca membalas pelukan Cezy.
''Aku sedih Kak,'' ucap Cezy .
''Kita masuk dulu yuk. Nanti kamu cerita di dalam,'' ucap Chaca. Mereka segera masuk ke dalam rumah Chaca. Mereka duduk di kursi ruang tamu.
''Ada apa Cez?'' tanya Chaca lagi.
''Kak dia jahat, percuma perjuanganku selama ini mengejar dia kalau akhirnya seperti ini Kak. Dia lebih mencintai atasannya sendiri Kak, sahabat Kakak,'' ucap Cezy.
__ADS_1
FLASHBACK ON
Saat Cezy keluar dari ruangannya, Cezy melihat Devan yang sedang menguping di dekat pintu ruangan Salsa. Saat Devan sudah masuk ke dalam ruangan Salsa, Cezy segera mendekat ke arah pintu ruangan Salsa. Cezy mendengar dengan jelas jika Salsa ingin kembali ke London sampai beberapa bulan kemudian. Cezy juga mendengar pengakuan perasaan Devan kepada Salsa yang membuat hati Cezy hancur.
FLASHBACK OFF
''Maksudmu?'' tanya Chaca bingung dengan ucapan Cezy.
''Aku suka kepada asistennya kak Salsa. Dia tampan dan seorang duda. Kemana pun dia pergi, aku selalu mencari alasan agar aku bisa pergi dengannya. Walaupun dia selalu ketus kepadaku tapi aku sangat mencintainya Kak. Dan hari ini aku mendengar sendiri jika dia menyatakan perasaannya kepada kak Salsa, huwaaa,'' ucap Cezy yang tambah menangis kencang.
''Udah dong Cez. Jangan kayak bayi gini,'' ucap Chaca.
''Kak Chaca bilang seperti ini karna kak Chaca ngak ngerasain jadi aku,'' ucap Cezy.
''Ya ngak mau lah aku jadi kamu. Berondong aja banyak, pilihannya udah bekas orang, huu,'' ucap Chaca mencibir.
''Walaupun dia udah duda tapi pesonanya ngak kalah sama kak Ronald,'' ucap Cezy yang tidak terima.
''Ngak ada yang bisa ngalahin pesona Ronaldhina di mata Chalondra Athalia Sanjaya ya,'' ucap Chaca.
''Ah udahlah. Aku bete sama Kak Chaca. Aku kesini mau curhat bukan mau berdebat sama Kakak,'' ucap Cezy pergi dari rumah Chaca. Chaca hanya geleng-geleng kepala.
Sementara di lain tempat, Devan mengendarai mobilnya entah kemana. Ia tak punya tujuan, hampir 4 jam Devan berada di mobil, tapi ia masih enggan untuk menghentikan mobilnya.
*
*
2 hari kemudian.
Devan masih enggan untuk masuk ke kantor. Biasanya ia selalu bersemangat. Sejak kejadian kemarin, ia memutuskan untuk tidak masuk dulu, sampai Salsa benar-benar berangkat ke London. Devan tidak ingin melihat wajah Salsa lagi.
''Hari ini dia berangkat. Dan hari ini juga aku harus melepaskan orang yang aku cintai lagi,'' ucap Devan yang masih berada di apartemennya.
Tringgg tringgg
Bunyi ponsel Devan terdengar nyaring. Ia segera berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya yang berbunyi.
''Ada apa?'' tanya Devan.
''Pak hari ini anda harus berangkat ke Bandung. Karna proyek yang ada di sana terjadi masalah,'' ucap Cezy di balik telepon.
''Huft, baiklah,'' ucap Devan lalu mematikan panggilan dari Cezy.
__ADS_1
Ia segera bersiap-siap untuk pergi ke Bandung. Devan membawa baju ganti secukupnya karna mungkin akan memerlukan waktu beberapa hari di sana sampai urusannya selesai. Setelah semua siap, Devan segera berangkat ke perusahaan untuk mengambil berkas-berkas yang akan di bawanya nanti.
Sesampainya di perusahaan, Devan segera naik lift menuju ruangannya.
''Pak Devan, ini dokumen yang harus anda bawa,'' ucap Cezy menyerahkan dokumen-dokumennya.
''Thanks,'' ucap Devan. Ia melirik ke arah ruangan yang beberapa hari ini tidak ia masuki. Ia berharap ada seseorang yang berada di ruangan tersebut. Tapi mustahil baginya, karna Salsa hari ini berangkat ke London.
''Apa Pak Devan akan langsung berangkat?'' tanya Cezy. Devan hanya menganggukkan kepalanya.
''Ya sudah kalau gitu Cez. Saya berangkat dulu, kalau ada apa-apa kabari saya,'' ucap Devan datar.
Tiba-tiba ada suara pintu ruangan terbuka.
Ceklek.
Devan dan Cezy langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka.
''Hai Van, apa sudah mau berangkat?'' tanya Salsa. Devan hanya menganggukkan kepalanya pelan. Devan melihat Salsa sedang membawa koper yang lumayan besar. Ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan Salsa.
''Saya pemisi Nona,'' ucap Devan berjalan meninggalkan Salsa dan Cezy.
''Van, kamu mau ninggalin aku? koperku berat Van,'' ucap Salsa.
''Hah?'' Devan berhenti melangkah, kemudian ia berbalik menatap Salsa.
''Maaf Nona,'' ucap Devan lalu meraih koper yang di bawa oleh Salsa.
''Saya akan pesankan anda taksi. Karna saya tak mungkin mengantar anda sampai bandara,'' ucap Devan.
''Memangnya mau ngapain aku ke bandara Van?'' tanya Salsa yang balik bertanya.
''Hah, maksudnya?'' tanya Devan di buat bingung oleh Salsa.
''Aku mau pergi ke Bandung ikut bersamamu. Kenapa kamu malah menyuruhku pergi ke bandara,'' ucap Salsa berjalan lebih dulu.
''Kan Nona akan ke London hari ini,'' ucap Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Ngak jadi, kasian kamu kalau aku tinggal,'' ucap Salsa. Devan yang mendengar ucapan Salsa langsung menghentikan langkahnya. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat ini.
*
*
__ADS_1