
''Ada apa dengan Nona Chaca? kenapa sikapnya langsung dingin kepadaku? dan sejak kapan dia mencintaiku?'' banyak pertanyaan yang tak terjawab olehnya.
Malam itu aku tak bisa tidur karna memikirkan Nona Chaca yang menyatakan perasaannya kepadaku. Aku ingin malam ini segera pagi agar aku bisa segera bertanya kepada Nona Chaca.
''Ahhhh kenapa paginya masih lama sekali. Nona Chaca udah tidur belum ya. Apa aku cek aja ke kamarku,'' ucapku tanpa pikir panjang aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar. Sesampainya di depan kamar aku memutar handle pintu kamarku.
''Kamu mau ngapain Van. Ngak sabar banget sih kamu, halal aja belum,'' ucap Ibuku yang tiba-tiba berdiri di belakangku.
''Eh Ibu. Ibu ngapain disini?'' tanyaku malu saat kepergok Ibu.
''Yang seharusnya tanya seperti itu Ibu. Ngapain kamu di sini. Mau masuk kedalam? mau enak-enakan sama calon istrimu. Ingat Van jangan di DP dulu,'' ucap Ibu padaku. Ibu segera pergi ke kamar mandi. Aku pun berbalik berjalan menuju sofa lagi.
''Huh malu banget ketahuan sama ibu. Kamu juga ngapain sih Van mau masuk kedalam kamar yang di tempati Nona Chaca. Kalau Nona Chaca tau bisa di amuk kamu,'' ucapku pada diriku sendiri.
*
Di pagi hari yang sedikit mendung. Chaca dan Ibu Marwah membeli sayur di kang sayur keliling. Pagi itu para tetangga juga banyak yang membeli sayur.
''Bu Marwah, siapa perempuan cantik ini Bu,'' ucap salah satu ibu-ibu komplek.
''Oh ini kenalin calon mantuku. Namanya Chaca,'' ucap Ibu Marwah dengan bangga mengenalkan Chaca dengan ibu-ibu komplek.
''Geulis pisan atuh Bu calon mantunya,'' ucap salah satu ibu-ibu.
''Iya. Bener ya, cantik pisan. Devan beruntung sekali punya calon istri seperti Nak Chaca ini.'' Ucap kang sayur.
''Makasih Bu, Pak. Tapi saya juga sangat beruntung mempunyai calon suami seperti mas Devan,'' ucap Chaca.
''Memangnya kamu kerjanya apa?'' tanya salah satu ibu yang kelihatannya julid.
''Saya kerja di perusahaan tempat mas Devan bekerja Bu,'' jawab Chaca.
''Palingan jabatannya di bawah Devan,'' ucap Ibu julid.
''Memangnya jabatannya Devan apa Bu Marwah?''
__ADS_1
''Devan sekarang sudah di pindahkan ke perusahaan yang ada di Jakarta, Devan sekarang menjadi asisten pribadi pemilik perusahaan. Dan pemiliknya ya Nak Chaca ini,'' ucap Ibu Marwah bangga.
''Jadi Devan menikahi atasannya sendiri gitu ya Bu Marwah.''
''Iya bisa di bilang begitu,'' ucap Bu Marwah.
''Halah palingan Devan pengen hartanya doang, secara kan dia anak orang kurang mampu,'' ucap Ibu julid mencibir. Ibu-ibu yang lain hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan ibu julid tersebut.
''Jika Devan hanya menginginkan harta saya, tidak masalah Bu. Karna harta saya tidak akan habis walaupun sampai tujuh turunan sekalipun,'' ucap Chaca yang sudah tak bisa menahan emosinya.
''Wow sombong sekali kamu ya,'' ucap Ibu julid dengan emosi.
''Bukannya saya sombong tapi itu realita Ibu,'' ucap Chaca dengan menekan kalimatnya.
''Udah ya Nak, ngak usah di ladenin Ibu itu memang seperti itu,'' ucap salah satu Ibu yang ada di dekat Chaca.
''Iya Bu, maaf,'' ucap Chaca. Ia juga tidak enak kepada Ibu Marwah, pasti Ibu Marwah sangat malu mempunyai menantu seperti Chaca. Setelah memilih sayuran yang akan di masak nanti Chaca segera membayar belanjaannya dan semua belanjaan ibu-ibu komplek tadi. Ia dan Bu Marwah segera pergi dari sana agar tidak menambah dosa.
''Benar-benar kaya tuh calon istri Devan. Lihat Ibu-ibu saya dapet uang segepok gini. Rezeki emang ngak kemana,'' ucap kang sayur dengan senyum bahagianya.
''Iya bener-bener kaya tuh calonnya. Udah kaya cantik baik lagi ya Bu.'' Ucap Ibu komplek dan di angguki oleh ibu-ibu yang lain. Sedangkan Ibu julid hanya memendam rasa kesal karna tidak bisa mempunyai menantu seperti menantu Ibu Marwah.
*
*
''Ngak papa, Ibu tadi memang suka kayak gitu, dia suka iri sama kebahagiaan orang lain. Ngak usah di pikirin ya. Sekarang bantu Ibu di dapur,'' ucap Ibu Marwah lembut.
*
*
Pov Chaca
Di sinilah aku berada, di dapur bersama Ibu Devan. Aku masih sedikit sebal dengan perkataan ibu-ibu julid tadi.
__ADS_1
''Udah ya Nak ngak usah di pikirin, mukanya jangan di tekuk gitu, nanti cantiknya hilang lo,'' ucap Ibu Devan kepadaku.
''Eh enggak kok Bu, Chaca ngak mikirin kok,'' Bohongku pada Ibu. Karna aku memang masih memikirkan kejadian tadi.
''Memangnya ada apa Bu?'' tanya Devan tiba-tiba datang dari arah belakangku.
''Ngak papa,'' ucapku ketus. Aku masih sedikit sebal dengannya. Saat tadi malam aku mengungkapkan perasaanku padanya, Devan hanya diam saja.
''Nona Chaca kenapa?'' tanya Devan kepadaku. Aku pun menatapnya dengan tatapan tajam. Sudah berapa kali aku bilang jangan memanggilku Nona tapi tetap saja. Aku hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya. Dia duduk di depanku. Terus menatapku sampai jantungku berdetak kencang.
''Kenapa kamu menatapku seperti itu?'' ucapku dingin dan dengan tatapan tajam ke arahnya.
''Itu ada bulu mata yang jatuh,'' ucap Devan.
''Ambilin dong Van, kamu itu ngak peka sekali,'' ucap Ibu Marwah. Aku pun mengangguki perkataan Ibu. Devan memberanikan diri mendekatiku dan meraih bulu mata yang ada di bawah mataku. Dengan hati-hati Devan mengambil bulu mata tersebut, Tapi tak sengaja tangan Devan malah masuk ke dalam mataku.
''Aduh, Van perih,'' ucapku berteriak sambil memegang mataku yang sudah keluar air matanya. Aku pun belum sadar kalau bibir Devan sudah menempel di keningku.
''Kalau mau ciuman di halalin dulu dong,'' sindir Ibu Marwah di belakangku. Aku langsung tersadar kalau saat ini bibir Devan menempel di keningku.
''Apa yang kamu lakukan Van?'' tanyaku dengan mata yang hampir lepas dari tempatnya.
''Maaf Cha aku ngak sengaja tadi. Kamu sih langsung menunduk gitu,'' ucap Devan membela diri. Aku juga kaget Devan langsung mengubah nama panggilannya kepadaku. Dalam hati aku tersenyum bahagia.
''Memalukan!'' ucapku langsung pergi meninggalkan Devan, dan aku langsung masuk ke dalam kamar Devan. Aku segera mengatur jantungku yang sejak tadi sudah maraton. Rasanya jantungku ingin lepas dari tempatnya.
''Kalo kayak gini terus lama-lama aku bucin sama dia,'' ucapku yang tak sadar saat seseorang sudah berdiri di belakangku.
''Kan memang udah bucin, bucin parah malah,'' ucap seseorang di belakangku, tak lain dan tak bukan adalah Devan. Aku lupa menutup pintu kamar, hingga Devan bisa masuk begitu saja ke dalam kamar.
''Tutup mulutmu Van!'' ucapku kepada Devan.
''Memangnya kenapa? bukankah itu faktanya,'' ucap Devan sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku juga heran dengan sikap Devan yang tiba-tiba seperti ini.
*
__ADS_1
*
*