I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 85


__ADS_3

2 hari kemudian.


Hari ini Chaca sudah di perbolehkan pulang, karna kondisinya sudah membaik. Ia lebih memilih pulang ke rumah Mama Luna. Karna Mama Luna ingin merawat cucu-cucunya.


*


*


Hari ini hari pertama Cezy masuk kerja di perusahaan Ronald. Sebenarnya ia sudah tak ingin bekerja di Jakarta. Namun impiannya punya suami seorang duda masih tertata rapi di hatinya maka ia memantapkan hatinya untuk sementara tinggal di sini.


Tap tap tap


Suara sepatu hak tinggi milik Cezy bersentuhan dengan lantai marmer yang ada di perusahaan tersebut.


''Gila, perusahaan ini 2 kali lebih besar dari pada perusahaan punya Kak Chaca,'' ucap Cezy terus berjalan ke lantai 30.


Sesampainya di lantai 30 Cezy berjalan ke arah ruangan-ruangan yang berjejer rapi di sana.


''Kok masih kosong sih. Kata Kak Ronald kan memang di lantai 30, tapi kok ngak ada orang-orang ya, apa aku masih ke pagian,'' ucap Cezy celingukan.


''Selamat pagi Nona,'' ucap Seseorang dari arah belakang Cezy. Spontan Cezy langsung membalikkan badannya ke arah sumber suara tersebut.


''Kamu,'' ucap Cezy melototkan matanya.


''Oh hai. Ngak nyangka ternyata kamu yang kerja di sini,'' ucap Reno tersenyum ke arah Cezy.


''Hem, selamat bergabung di sini. Semoga betah,'' ucap Reno mengulurkan tangannya kepada Cezy.


''Terima kasih,'' ucap Cezy menerima jabatan tangan dari Reno.


''Ruangan kamu di sebelah ruangan saya. Kalau ada sesuatu hal yang ingin kamu tanyakan ngak usah ragu,'' ucap Reno berjalan meninggalkan Cezy.


''Tunggu! Di sini saya menjabat sebagai apa?'' tanya Cezy yang benar-benar masih bingung.


''Kamu asisten saya,'' ucap Reno.


''Whattt??? Yang benar saja!'' ucap Cezy yang tak habis pikir.


''Jika kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya kepada kakakmu,'' ucap Reno benar-benar meninggalkan Cezy yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


''Apa-apaan sih Kak Ronald. Kenapa aku bisa jadi asisten dia. Pria tua yang menyebalkan,'' ucap Cezy berjalan ke ruangannya. Sementara di ruangan Reno, Reno sedang senyum-senyum tak jelas.


''Memang jodoh tak kemana,'' ucap Reno dengan senyum tampannya.


Seharian ini Cezy menyelesaikan pekerjaannya setengah hati. Ia benar-benar kesal kepada Reno yang terus menerus ke ruangannya. Dengan alasan inilah itulah. Dan ini adalah saat yang di tunggu-tunggu oleh Cezy. Ia akan segera pulang ke rumah dan mengadukan semuanya kepada Kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Chaca.


''Mana nih taksi, kenapa belum nongol-nongol juga,'' ucap Cezy yang menunggu taksi tapi tak datang-datang juga. Sebenarnya ia ingin memesan taksi online, namun handphone miliknya sedang lowbat.


''Gini nih kalau ngak bawa mobil sendiri. Susah!'' gerutu Cezy. Cezy berangkat ke kantor di antar oleh Ronald, karna Cezy belum tau arah kantor Ronald.


Tin tin


Bunyi klakson mobil mewah yang ada di depan Cezy. Cezy mengeryitkan dahinya.


''Nungguin siapa?'' tanya pria yang berada di dalam mobil.


''Nungguin pacar,'' ucap Cezy dengan muka kesal.


''Mending saya antar aja. Sekalian saya mau antar dokumen ke rumah Tuan Ronald,'' ucap Reno.


''Ngak usah. Terima kasih,'' ucap Cezy keras kepala. Ia masih diam di tempatnya.


Namun tiba-tiba suara petir menggelegar, pertanda hujan akan segera turun. Cezy langsung berlari dan membuka pintu mobil Reno.


''Ngak ikhlas? Ya udah aku turun lagi nih,'' ucap Cezy yang sudah ingin membuka pintu mobil, namun Reno segera menguncinya.


''Bukain ngak?! Ucap Cezy menatap Reno dengan perasaan kesal.


''Mau hujan, mending kamu duduk anteng di situ. Aku antar sampai rumah, ngak usah khawatir,'' ucap Reno menyalakan mobilnya dan segera mengantar Cezy.


''Dasar pria tua menyebalkan,'' gerutu Cezy dengan menatap keluar jendela mobil. Reno yang mendengar Cezy yang menggerutu tak jelas hanya geleng-geleng kepala.


''Kenapa aku bisa tertarik dengan gadis bar-bar sepertinya. Dia sama sekali bukan tipeku. Apalagi sifat dan sikapnya kebalikan dari almarhumah istriku,'' batin Reno mencuri-curi pandang ke arah Cezy.


Sesampainya di rumah Mama Luna, mereka segera turun dari mobil. Cezy nampak langsung masuk ke dalam rumah tanpa mau mengucapkan terima kasih kepada Reno.


''Ma, dimana Kakak?'' tanya Cezy kepada Mama Luna yang sedang bersantai di ruang tamu.


''Kakakmu ada di kamarnya,'' ucap Mama Luna.

__ADS_1


''Kak, Kak,'' Cezy teriak-teriak memanggil Chaca.


''Cez, di sini sekarang ada baby Al dan El. Kalau kamu teriak-teriak seperti itu, nanti kamu mengganggu istirahat mereka. Jangan kayak di hutan dong,'' ucap Mama Luna.


''Oh iya ya, Cezy lupa Ma kalau baby twins udah lahir,'' ucap Cezy nyengir kuda.


Ia segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamar kakaknya. Sesampainya di kamar, ia melihat Chaca yang tengan tertidur pulas di samping baby boy nya.


''Yah, dia malah tidur lagi,'' ucap Cezy menutup kembali pintu kamar milik Chaca. Ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.


Sedangkan di lantai bawah, Reno sedang mengobrol dengan Mama Luna. Ia menitipkan Dokumen penting Ronald ke Mama Luna. Setelah itu ia kembali pulang ke rumahnya.


*


*


Sementara di Rumah Salsa, ia baru saja selesai packing baju untuk bulan madu mereka. Salsa memilih bulan madu ke London, sekalian mengantar kedua orang tuanya pulang ke sana. Walaupun sebenarnya Salsa ingin sekali Orang tuanya tinggal disini. Namun sang Daddy harus kembali ke London, karna perusahaan pusat berada disana.


''Ada yang ketinggalan ngak?'' tanya Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


''Em, kayaknya ngak deh. Udah aku masukin semua,'' ucap Salsa mengecek lagi barang bawaannya.


''Ya udah, cepet mandi sana,'' ucap Devan kepada Salsa.


''Iya iya. Ngak romantis banget sih. Romantisnya kalau mau minta jatah aja,'' gerutu Salsa kesal.


Devan segera mengambil baju se*y milik sang istri, ia segera menukarnya dengan baju yang sudah di masukkan Salsa ke dalam koper.


''Apaan, bawanya malah piyama doang. Aku kan juga pengen dia pakek baju beginian,'' ucap Devan sambil memasukkan baju-baju haram tersebut. Devan terus tersenyum puas. Ia tak sabar ingin melihat sang istri memakai baju kurang bahan tersebut. Setelah menikah, Salsa lebih memilih memakai piyama jika ingin tidur. Dengan alasan dingin. Dan besok jika sudah sampai di London, tanpa Devan memaksa pun Salsa akan memakai baju tersebut.


Ceklek.


Pintu kamar mandi tiba-tiba di buka dari dalam, untung Devan sudah selesai memasukkan semua baju-baju tadi.


''Kamu kenapa senyum-senyum gitu?'' tanya Salsa yang mulai curiga dengan tingkah Deva.


''Kamu cantik,'' ucap Devan menggoda Salsa untuk memghilangkan rasa gugupnya dengan kemunculan Salsa yang tiba-tiba.


*

__ADS_1


*


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.


__ADS_2