I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 19


__ADS_3

'Walaupun kamu bukan penyuka berondong tapi aku akan buktikan kalau kamu pasti bisa menjadi milikku selamanya Chaa.'' Batin Ronald. Ia segera menyusul Chaca yang sudah duluan ke mobil. Ronald melihat Chaca yang terus menguap dan bersender di kursi namun beberapa saat Chaca memejamkan matanya.


Ronald yang melihat Chaca tertidur hanya tersenyum manis. Ia tidak pernah menyangka akan di jodohkan dengan gadis cantik seperti Chaca.


''Selamat tidur jodohku.'' Gumam Ronald pelan. Ia melajukan mobilnya ke rumah Chaca. Selang beberapa menit mereka sampai di rumah Chaca. Tapi Chaca tak bergeming walaupun Ronald sudah membangunkannya. Dengkuran kecil terdengar keluar dari mulut Chaca.


''Kenapa dia menggemaskan sekali.'' Batin Ronald sambil memandang Chaca. Ingin sekali ia mencubit hidung mancung milik Chaca.


''Apa aku gendong aja ya kedalam, aku ngak tega kalau bangunin dia,'' ucap Ronald. Ronald segera menggendong tubuh Chaca ke dalam rumah atasannya itu.


''Ronald apa yang terjadi dengan Chaca?'' tanya mama Luna yang panik saat membukakan pintu. Mama Luna kira Chaca kenapa napa karna di gendong oleh Ronald.


''Nona Chaca tidak apa-apa tante, ia hanya kelelahan dan tertidur di mobil tadi,'' ucap Ronald menjelaskan.


''Ya sudah tolong antarkan dia kekamar nya ya Nak,'' ucap mama Luna. Ronald segera berjalan menuju kamar Chaca yang berada di lantai dua. Ia sedikit ngos-ngosan saat menaiki tangga. Karna memang badan Chaca yang sedikit berisi. Saat sudah sampai di kamar Chaca, Ronald segera merebahkan tubuh Chaca ke ranjang empuk.


''Semoga mimpi indah,'' ucap Ronald. Ia segera melepaskan hills yang di pakai Chaca dan langsung menyelimutinya.


Ronald menatap sekeliling kamar Chaca, begitu rapi, bersih dan juga wangi. Biasanya perempuan akan mengoleksi banyak barang, tapi tidak untuk Chaca. Chaca memilih sedikit barang dan di tata serapi mungkin.


''Selain cantik dia juga selalu menjaga kebersihan. Tipe aku banget.'' Batin Ronald. Ia segera keluar dari kamar Chaca dan berpamitan untuk pulang karna hari sudah sore tak mungkin ia akan kembali ke kantor.


*


*


''Monica tolong jaga sikap kamu, ini di kantor Mon,'' ucap Devan dengan tatapan marah saat Monica sudah lancang menggodanya.


''Memangnya kenapa kalau di kantor, toh ngak ada yang melihat,'' ucap Monica duduk di pangkuan Devan dan tangannya meraba-raba dada bidang Devan.


''Apa kamu ingin saya pecat?'' tanya Devan mencengkram bahu Monica dengan kasar.


''Jangan dong Van. Kalau aku di pecat mau makan apa aku,'' ucap Monica memelas.

__ADS_1


''Jadi turun dari pangkuanku sekarang!'' ucap Devan sambil mendorong tubuh Monica dengan kasar.


''Kenapa sih Van kamu jadi kasar gini ke aku. Kamu beda banget tau ngak,'' ucap Monica ingin menangis.


''Jangan kamu keluarkan air mata buayamu itu, aku jijik melihatnya,'' ucap Devan menatap jijik ke arah Monica.


Setelah Devan pindah ke perusahaan cabang, Monica tak henti-hentinya mengganggu Devan. Tiap hari selalu menggoda Devan dengan pakaian-pakaian sexy nya.


*


*


''Devan lagi apa ya, Kenapa akhir-akhir ini dia jarang menghubungiku. Apa dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai melupakan aku yang ada di sini.'' Batin Chaca yang melamun di balkon kamarnya.


''Apa hanya aku yang merindukan dia. Masih 1 minggu Cha, kenapa kamu jadi se lebay ini sih.'' Batin Chaca mengusap wajahnya kasar. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu, sesuatu yang bisa saja terjadi kepada Devan.


''Kenapa aku jadi setledor ini,'' ucap Chaca lalu mengambil hp nya dan menelpon seseorang. Ia memerintahkan seseorang untuk memasang cctv di ruang kerja Devan tanpa sepengetahuan Devan.


*


*


1 tahun pun berlalu.


Chaca mengeraskan rahangnya ketika melihat sebuah video yang tidak senonoh di dalam hpnya. Ia tidak menyangka akan kecolongan seperti ini. Ternyata orang yang selama ini di cintainya bisa menghianatinya.


''Ternyata apa yang di ucapkan Mamaku benar.'' Chaca berusaha tegar. Ia ingin menangis tapi Chaca tahan, ia tidak akan menumpahkan air matanya untuk pria brengsek.


''Aku akan membalasmu!'' ucap Chaca dengan senyum devilnya.


Chaca melihat video yang di kirimkan seseorang ke hpnya. Sungguh ia tak menyangka jika akhirnya seperti ini. Ingin sekali ia menghajar habis-habis an orang itu sekarang juga. Tapi Chaca masih punya akal sehat, untuk apa menghabiskan tenaga hanya untuk menghabisi orang, toh masalah itu pun sudah terjadi.


''Ro 1 jam lagi kita berangkat ke perusahaan cabang. Bersiap-siaplah,'' ucap Chaca kepada Ronald.

__ADS_1


''Baik Nona,'' ucap Ronald lalu berjalan ke ruangannya.


Chaca dan Ronald berangkat ke perusahaan cabang hari ini. Sebenarnya Ronald ingin bertanya sesuatu tapi di urungkan niatnya karna Chaca terlihat sedang tidak ingin di ganggu.


Setelah perjalanan beberapa jam mereka sampai di sebuah perusahaan yang tidak begitu besar jika di bandingkan dengan perusahaan yang ada di kota Jakarta. Tapi perusahaan itu paling besar di daerah sana. Chaca berjalan dan di susul Ronald di belakangnya. Para karyawan menunduk hormat saat tau pemilik perusahaan datang kesana.


''Selamat siang Nona,'' ucap salah satu pimpinan yang ada di sana.


''Siang,'' ucap Chaca dengan senyum merekah di bibirnya. Walaupun hatinya saat ini hancur berkeping-keping.


Chaca masih berjalan menuju lift dan menekan nomor lantai 15. Ronald hanya mengikuti saja tanpa ingin bertanya. Saat sudah sampai di lantai 15 Chaca enggan untuk keluar lift. Ia masih enggan untuk bertemu orang yang selama ini di rindukannya.


''Nona kita sudah sampai.'' Ronald memecah lamunan Chaca. Chaca menghela nafasnya kasar ia menyemangati dirinya sendiri agar kuat untuk bertemu dengan seorang yang menghianatinya.


Chaca berjalan kearah ruangan pimpinan yang ada di sana tanpa mengetuk pintu, Ia segera memutar handle pintu dan membukanya pelan. Betapa kagetnya seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut saat mengetahui kedatangan Chaca.


''No Nona Chaca,'' ucap seseorang yang memangku seorang wanita. Wanita itu langsung turun dari pangkuan Devan.


Prok prok prok


Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu.


''Cha aku bisa jelasin.'' Devan meraih tangan Chaca, namun Chaca segera menepisnya.


''Jangan sentuh aku, Aku terlalu suci di sentuh oleh seorang penghianat sepertimu,'' ucap Chaca menatap tajam.


''Ini hanya salah paham Cha,'' ucap Devan.


''Hanya salah paham? Bagaimana kalau video ini? apa ini juga salah paham?'' ucap Chaca memutar video yang ada di hpnya. Seorang yang sedang bergulat di atas sofa tanpa memakai sehelai benang pun. Jelas terlihat di video itu atas dasar suka sama suka tidak ada pemaksaan sama sekali. Bahkan hampir setiap hari Chaca melihat Cctv yang ada di ruangan Devan dan selalu melihat adegan tak senonoh. Awalnya Devan menolak dengan rayuan Jal*ng itu, tapi benteng pertahanan Devan runtuh dan akhirnya ia berhianat. Habis sudah kesabaran Chaca selama ini.


''I itu bukan aku Cha, aku bisa jelasin semuanya,'' ucap Devan lagi.


*

__ADS_1


*


__ADS_2