
Di tempat lain, di sebuah perusahaan elektronik terbesar di Asia. Seorang pemuda sedang berkutat dengan laptop yang ada di depannya. Namun tiba-tiba bunyi ponsel mengagetkannya.
Tring tringg tringgg.
''Halo, ada apa Tuan?'' tanya Reno.
''.......''
''Oke, baiklah,'' ucap Reno. Ia lalu berdiri dari duduknya dan berjalan mengambil berkas dan pergi dari perusahaan itu.
Setelah beberapa saat kemudian, ia sampai di perusahaan yang lumayan besar juga. Perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik Ronald.
Tap tap tap.
Suara sepatu terdengar menggema di sepanjang jalan. Setelah ia sampai di lantai tempat ruangan CEO berada, ia segera berjalan ke arah ruangan tersebut.
''Maaf Tuan, anda ingin mencari siapa?'' tanya seorang gadis cantik dan terlihat dari wajahnya yang baby face.
''Cantik sekali dia?'' batin Reno menatap gadis yang tiba-tiba berada di depannya.
''Em, Nona Salsa ada?'' tanya Reno kembali datar.
''Maaf, untuk saat ini Nona Salsa sedang berada di luar kota Tuan,'' ucap gadis itu.
''Luar kota?'' tanya Reno.
''Ya, ada sedikit pekerjaan, mungkin besok akan sampai,'' ucap Cezy.
''Sebenarnya saya ingin memberikan dokumen ini,'' ucap Reno memperlihatkan dokumen yang ada di tangannya.
''Anda bisa menitipkan ke saya Tuan, saya sekretaris Nona Salsa,'' ucap Cezy.
''Oke baiklah, tapi---
''Tapi apa Tuan?'' tanya Cezy mengerutkan keningnya.
''Tolong hubungi saya jika Nona Salsa sudah sampai, ada beberapa hal yang ingin kami bahas dengan Nona Salsa,'' ucap Reno tersenyum ke arah Cezy.
''Baik Tuan,'' ucap Cezy patuh.
''Bolehkah saya meminta nomor ponsel anda? jika nanti ada sesuatu hal yang penting saya bisa langsung menghubungi anda,'' ucap Reno menjalankan tak tik nya.
Dan mereka pun akhirnya bertukar nomor posel. Rencana Reno berjalan mulus. Reno terpesona dengan gadis cantik itu.
''Kalau begitu saya permisi,'' pamit Reno kepada Cezy. Cezy hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah Reno menghilang, Cezy mengelus dadanya. Entah perasaan apa itu, sejak berdekatan dengan lelaki tadi ia merasa degup jantungnya seperti lari maraton.
''Kenapa jantungku ngak karuan gini?'' ucap Cezy yang memegang dadanya.
''Akhhh jangan-jangan aku jatuh hati kepada lelaki tadi. Iya memang tampan sih, tapi bagaimana kalau dia sudah punya istri?'' ucap Cezy berbicara sendiri.
''Apa-apaan sih aku ini. Pak Devan tetap yang paling tampan dong. Apalagi dia duda,'' ucap Cezy lagi.
__ADS_1
Di mobil Reno terus mengukir senyumannya setelah bertemu dengan sekretaris Salsa tadi. Entah perasaan apa, tapi dia begitu nyaman di dekat gadis tadi. Walaupun baru pertama kali melihatnya tapi ia sudah bisa merasakan gejolak-gejolak aneh di dadanya.
*
*
''Mas, ini beneran Wilson yang menikah?'' tanya Chaca yang sedang membuka undangan pernikahan berwarna merah maroon.
''Heem, tadi pagi dia sendiri yang mengantar Undangan itu ke perusahaan. Dia di temani sekretarisnya, yaitu calon istrinya,'' ucap Ronald.
''Jadi sekretarisnya Wilson selama ini adalah kekasihnya?'' tanya Chaca dengan wajah bingung.
''Iya sayang. Aku juga kaget tadi saat mendengar penjelasan dari Wilson,'' ucap Ronald.
''Kenapa nasib mereka seperti kita ya Mas, bedanya aku menikahi asistenku sendiri,'' ucap Chaca.
''Beda sayang. Kita udah di jodohkan saat kita belum ada. Kalau Wilson dan calon istrinya, dia tak di restui oleh orang tua calon istrinya. Jadi mereka hanya mengundang kerabat dekat Wilson saja,'' ucap Ronald menjelaskan.
''Kasihan sekali mereka Mas,'' ucap Chaca.
''Besuk kita cari kado buat Wilson ya Mas. Sama belanja beberapa baju juga. Bajuku udah ngak muat semua,'' ucap Chaca cemberut.
''Iya sayang,'' ucap Ronald mengelus rambut istrinya.
*
*
''Bu, Pak Dev kita pamit ya, aku harap minggu depan kalian bisa datang ke Jakarta,'' ucap Devan.
''Kami pasti datang Nak. Tunggu kami di sana ya,'' ucap Ibu Marwah.
''Terima kasih Bu,'' ucap Salsa dan Devan.
Salsa dan Devan lalu berpamitan. Setelah berpamitan mereka masuk ke dalam mobil. Ibu, bapak dan Devi melambaikan tangan saat mobil Devan melaju meninggalkan rumah sederhana tersebut.
''Van aku ngak nyangka kalau kita akan menikah secepat ini,'' ucap Salsa.
''Apa kamu tidak bahagia?'' tanya Devan.
''Kenapa kamu bertanya seperti itu. Ya jelas aku bahagia lah. Apalagi menikah dengan Duren seperti kamu,'' ucap Salsa tersenyum ke arah Devan.
''Duren?'' tanya Devan mengerutkan keningnya.
''Ya, Duda keren,'' ucap Salsa meringis memperlihatkan gigi putihnya.
Devan melajukan mobilnya dengan pelan karna hujan yang begitu deras. Jalan berkabut menghalangi perjalanan mereka.
''Kita menepi dulu ya. Hujannya deres banget,'' ucap Devan menepikan mobilnya di depan warung kosong.
Cuaca sore itu sangat dingin. Terlihat Salsa yang bolak balik menggosokkan telapak tangannya.
__ADS_1
''Dingin?'' tanya Devan.
''Ya iya lah, masih nanya lagi,'' ucap Salsa ketus.
''Mau Mas angetin?'' tanya Devan lembut, membuat pipi Salsa merah merona.
''Ishh apaan sih,'' ucap Salsa mencubit pinggang Devan.
''Sayang kamu membangunkan sesuatu,'' ucap Devan keceplosan, ia lalu membekap mulutnya.
''Ih mulutnya itu loh bicara mesum terus! Dasar duda kesepian!'' ucap Salsa menyembunyikan wajahnya karna malu.
Devan melepas jaket yang ia pakai tadi dan hanya menyisakan kaos hitam pendek.
''Nih pakai jaket dulu. Nanti masuk angin loh,'' ucap Devan memberikan jaketnya.
''Memangnya kamu ngak kedinginan?'' tanya Salsa yang melihat Devan hanya memakai kaos.
''Selama di dekat kamu, Mas ngak akan kedinginan sayang,'' ucap Devan tersenyum menggoda.
''Mentang-mentang udah di restuin gitu ya,'' ucap Salsa.
''Emangnya kenapa? Ngak boleh gombalin calon istri sendiri. Kalau gitu aku gombalin cewek lain aja deh,'' ucap Devan menggoda.
''Kamu berani? Coba aja kalau berani. Aku plaster tuh mulut,'' ucap Salsa yang melotot tajam ke arah Devan.
''Enggak enggak sayang. Gitu aja ngambekan,'' ucap Devan mencubit pipi Salsa. Lalu Devan menarik tangan Salsa agar mendekat ke arahnya dan CUP.
1 kecupan mendarat di kening Salsa. Pipi Salsa langsung merah merona seperti kepiting rebus.
''Ih mesum deh,'' ucap Salsa mengusir kegugupannya.
''Tapi kamu suka kan?'' tanya Devan masih memeluk Salsa.
''Suka ngak suka ya harus suka. Orang yang mau sama aku cuma kamu,'' ucap Salsa.
''Saaa,'' ucap Devan tanda peringatan.
''Suka Mas sukaa. Cup,'' Salsa mengecup sekilas bibir Devan. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba saja bibir nya mendarat di bibir Devan.
''Kamu udah berani ya sekarang,'' ucap Devan mencubit hidung Salsa.
''Maaf ngak sengaja,'' ucap Salsa menoleh ke arah jendela mobil untuk mengurangi kegugupannya.
*
*
Siapkan kado kalian untuk Wilson dan Cinta ya.
Like, coment, fav dan beri hadiah😊😊
__ADS_1