I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 44


__ADS_3

''Sekali lagi terima kasih Mas,'' ucap Gadis itu menerima suapan Devan.


Devan dengan telaten menyuapi gadis yang menjadi korban tadi. Selang beberapa saat bubur yang ada di mangkuk tersebut telah habis. Devan juga mengambilkan obat yang harus di minum gadis itu.


''Terima kasih Mas,'' ucap gadis itu lagi.


''Jangan bilang terima kasih terus,'' ucap Devan dengan tersenyum.


''Ah senyumannya kenapa manis sekali, wajahnya juga sangat tampan, beruntung sekali aku di tolong oleh pria sepertinya,'' batin gadis itu tengah menatap Devan.


''Ehm, oh ya, Mas namanya siapa? saya sampai lupa,'' ucap gadis itu.


''Saya Devan, Devan Alterio,'' ucap Devan yang tak henti-hentinya tersenyum ke arah gadis itu.


''Emm saya Salsa Mas,'' ucap gadis itu juga membalas senyum kepada Ronald.


Ya dia adalah Salsa sahabat Chaca. Salsa memilih tinggal di Indonesia dan tidak ikut orang tuanya kembali ke London. Ia memutuskan untuk mengurus perusahaan orang tuanya yang ada di Jakarta.


''Sebaiknya Mas Devan sarapan dulu. Pasti Mas Devan belum sarapan,'' ucap Salsa.


''Hem baiklah, saya cari sarapan dulu. Kamu ngak papa kan saya tinggal sebentar,'' ucap Devan.


''Ngak papa Mas.''


Devan berjalan lewat lorong-lorong Rumah Sakit. Dan saat ini ia sampai di kantin Rumah Sakit tersebut. Ia segera memesan makanan, karna memang saat ini perut Devan sudah mulai kroncongan.


Setelah mendapatkan makanan yang ia pesan, Devan segera berjalan ke arah tempat duduk yang kosong. Namun tiba-tiba ada seorang perempuan yang menduduki tempat itu sebelum Devan sampai.


''Chaca,'' gumam Devan pelan namun masih bisa di dengar oleh Chaca. Chaca segera mendongakkan kepalanya saat ada orang yang menyebut namanya. Karna sejak tadi Chaca hanya fokus pada benda pipihnya.


''Devan,'' ucap Chaca pelan. Chaca segera berdiri dari duduknya dan ingin pergi dari tempat tersebut. Tapi Devan lebih cepat memegang tangan Chaca.


''Lepas! atau aku akan teriak!'' ancam Chaca.


''Cha aku mau ngomong sama kamu, sebentar saja,'' ucap Devan memohon.


''Tidak ada yang harus di bahas Van, hubungan kita sudah berakhir!'' ucap Chaca dingin.


''Aku mau minta maaf sama kamu Cha, walaupun kita ngak bisa seperti dulu lagi, tapi setidaknya maafkan aku, agar aku bisa hidup dengan tenang Cha,'' ucap Devan.

__ADS_1


''Aku sudah memaafkan mu, jadi jangan pernah muncul di hadapanku lagi,'' ucap Chaca. Chaca segera berlalu dari kantin. Rasanya ia sudah tidak nafsu makan lagi.


''Kenapa harus ketemu dia lagi? apa ngak cukup selama ini dia menyakitiku, dan sekarang dengan mudahnya hanya meminta maaf. Aku benar-benar kecewa denganmu Van,'' gumam Chaca.


Saat ini ia memilih duduk di taman Rumah Sakit untuk menenangkan hatinya. Biar bagaimana pun, Devan juga pernah mengisi hari-harinya. Chaca tidak munafik, ia juga masih menyimpan rasa untuk Devan walau hanya seujung kuku.


*


''Chaca aku tau aku salah, tapi apakah sebenci itu kamu kepadaku. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa melupakan sosok sepertimu Cha. Aku masih sangat mencintaimu,'' batin Devan.


''Kamu masih sama seperti dulu Cha, tidak ada yang berubah dari dirimu. Maka dari itu aku sulit untuk melupakanmu,'' batin Devan lagi.


*


''Ma, Chaca lama banget sih ke kantinnya. Apa Ronald susulin aja kali ya, Ronald takut Chaca kenapa napa,'' ucap Ronald.


''Sayang kamu masih sakit, kamu diam saja disini biar Mama yang mencari istrimu,'' ucap Mama Reni.


''Istrimu itu sudah besar Ronald, bukan anak kecil lagi. Jadi jangan khawatir seperti itu,'' ucap Mama Luna. Mama Luna melihat Ronald yang sangat menyayangi Chaca, terbukti jika di tinggal sebentar saja Ronald sudah mengkhawatirkan istrinya.


''Tapi Ma,,,''


''Oke Mama yang akan cari istrimu, kamu diam disini,'' ucap Mama Luna. Mama Luna segera berlalu meninggalkan kamar rawat Ronald. Ia ingin menyusul Chaca di kantin, tapi saat sampai di kantin Mama Luna tidak menemukan anaknya. Tapi yang justru Mama Luna lihat adalah orang yang sangat ia kenal.


Ia segera mencari benda pipihnya dan mencari kontak nomor Chaca.


''Halo ada apa Ma,'' ucap Chaca yang beberapa saat baru mengangkat teleponnya.


''Kemana kamu, kenapa lama sekali angkat telponnya,'' ucap Mama Luna.


''Hem aku sekarang di taman Ma, sebentar lagi aku akan kembali ke dalam,'' ucap Chaca di balik telepon.


''Cepat, suamimu mencarimu,'' ucap Mama Luna. Mama Luna segera menoleh lagi ke arah kursi yang di tempati Devan, tapi Devan sudah tidak ada di sana.


''Kemana perginya? apa aku tadi salah lihat?'' batin Mama Luna.


''Ah bodo amat, sekarang Chaca kan sudah punya suami. Aku sudah ngak khawatir lagi,'' ucap Mama Luna kembali ke kamar rawat Ronald.


Sesampainya di sana Mama Luna sudah mendapati Chaca berada di sisi Ronald.

__ADS_1


''Mama kok baru balik?'' tanya Ronald penasaran karna tadi Mama Luna pamit untuk mencari Chaca, tapi malah Chaca tidak bertemu dengan Mama Luna, dan Chaca kembali ke kamar lebih dulu dari pada Mama Luna.


''I iya Nak, Mama tadi mampir toilet sebentar,'' ucap Mama berbohong.


''Oh.'' Ronald hanya menganggukkan kepalanya.


*


Hari itu begitu cepat berlalu, Hari sudah menjelang sore dan Devan masih berada di ruang rawat Salsa. Ia menunggu Salsa, karna Salsa hanya seorang diri.


''Mas Devan ngak pulang?'' tanya Salsa.


''Kamu ngusir saya?'' tanya Devan.


''Em ngak gitu maksud saya Mas, emangnya Mas Dev...'' belum selesai Salsa bicara Devan sudah memotongnya.


''Saya di sini tinggal sendiri Mbak, keluarga saya ada di Bandung,'' ucap Devan.


''Ohh, Mas Devan kerja di mana?'' tanya Salsa.


''Hem, saya sekarang masih mencari pekerjaan Mbak,'' ucap Devan.


''Oh, Mas Devan mau ngak kerja di tempat saya. Anggap saja ini rasa terima kasih saya, karna Mas Devan sudah mau menolong saya tadi pagi,'' ucap Salsa.


''Maaf, kerja apa ya Mbak?'' tanya Devan, ia hanya memastikan jika pekerjaannya halal.


''Kerja jadi asisten pribadi saya, baru beberapa hari ini saya memegang perusahaan ayah saya. Tapi hari ini saya sudah dapat musibah. Kamu mau kan jadi asisten saya?'' tanya Salsa berharap jika Devan mau menjadi asistennya. Ia juga berharap jika Devan juga mau jadi sahabatnya, karna Salsa yakin Devan orang yang baik.


''Jadi asisten pribadi Mbak Salsa?'' tanya Devan memastikan.


''Iya. Kamu mau kan?'' tanya Salsa.


''Mau banget Mbak, terima kasih ya Mbak sudah mau memberi pekerjaan kepada saya,'' ucap Devan menjabat tangan Salsa.


''Aww Mas sakit,'' rengek Salsa.


''Maaf Mbak maaf, saya ngak sengaja,'' ucap Devan tak enak hati kepada Salsa yang sekarang menjadi atasannya itu.


*

__ADS_1


Jangan lupa like, favorite, vote dan Comentnya yaaaa๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


I love you sekebonnnnn๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2