I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 66


__ADS_3

''Van cari penginapan yang terdekat dari sini. Kayaknya kita harus stay disini untuk beberapa hari ke depan,'' ujar Salsa.


''Baik Nona,'' ucap Devan.


Setelah mengungkapkan perasaannya kemarin, Devan terlihat begitu berjaga jarak dengan Salsa. Salsa yang merasa Devan jaga jarak dengannya membuat ia kesal. Biasanya Devan adalah teman yang asik dan kadang membuat jengkel. Tapi kali ini berbeda, Devan seperti terlihat memang bawahannya. Bicaranya yang sekedarnya dan terlihat dingin. Salsa sampai kesusahan mencari topik pembicaraan.


''Nona saya sudah memesankan 2 kamar hotel yang berada paling dekat dari sini,'' ucap Devan.


''Baiklah, sekarang kita ke hotel. Aku ingin istirahat sebentar,'' ucap Salsa.


Devan segera mengantar Salsa ke hotel. Sesampainya di hotel Salsa segera masuk ke dalam kamarnya tanpa berucap satu katapun. Mungkin Salsa lelah karna ia sendiri yang harus mencari topik pembicaraan.


Setelah sampai di kamar Salsa segera menutup pintunya dan di kunci dari dalam. Ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang king size.


''Hah, benar-benar melelahkan. Apalagi pergi sama kulkas 20 pintu itu. Kalau ngak di tanya ngak mau bicara lagi. Ih sok-sok an. Kemarin aja menyatakan cintanya, setelah giliran aku ngak jadi ke London dia bersikap dingin seperti itu. Awas aja Van, aku akan membuat hati kamu kebakaran,'' gerutu Salsa.


Sementara di sebelah kamar Salsa, saat ini Devan sedang memejamkan matanya. Ia kembali teringat tentang Salsa yang menyebutnya teman.


''Lupakan Van, lupakan. Dia tidak mungkin membalas cintamu,'' batin Devan.


Pagi harinya, Salsa dan juga Devan meninjau proyek yang sedang berlangsung. Sesampainya di tempat tersebut Salsa langsung bertemu dengan kepala proyek yang menangani proyek pembangunan rumah sakit nya.


''Selamat datang Bu Salsa, senang bisa bertemu anda kembali,'' sapa kepala proyek bernama Pak Hadi.


''Halo Pak Hadi, bagaimana kabarnya?'' tanya Salsa dengan senyum ramahnya.


''Baik Bu Salsa, oh ya Bu, saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Bu Salsa,'' ucap Pak Hadi.


''Ya, silahkan Pak Hadi, ada apa?'' tanya Salsa penasaran.


''Begini Bu. Dengan berat hati saya ingin menyampaikan ini Bu. Mungkin saya sudah tidak bisa lagi melanjutkan proyek ini, karna akhir-akhir ini kesehatan saya kurang baik Bu, dan anak semata wayang saya yang akan menggantikan saya Bu, bagaimana menurut Bu Salsa?'' tanya Pak Hadi harap-harap cemas.


''Pak Hadi sakit apa kalau saya boleh tau?'' tanya Salsa penasaran.


''Papa saya terkena penyakit lambung Bu,'' ucap seorang pria yang berada di belakang Pak Hadi.

__ADS_1


''Oh jadi ini anak Pak Hadi?'' tanya Salsa yang melihat anak Pak Hadi dengan tatapan yang berbeda.


''Benar Ibu. Namanya Ridwan. Kemarin saya sudah membicarakan ini dengan atasan saya, dan beliau tidak masalah, asalkan Ridwan tidak mengecewakan,'' ujar Pak Hadi.


''Baiklah Pak, saya juga tidak masalah. Yang pasti saya ingin Pak Ridwan tidak mengecewakan saya,'' ucap Salsa.


Mereka akhirnya membicarakan hal yang serius mengenai pembangunan Rumah Sakit tersebut. Meeting pun berlangsung hampir memakan waktu 3 jam. Dan setelah meeting selesai Salsa dan Devan kembali ke hotel.


''Eh Van, menurut pendapatmu gimana sih orangnya Pak Ridwan tadi?'' tanya Salsa yang sekarang berada di mobil bersama Devan.


''Biasa saja Nona,'' ucap Devan datar.


''Iya sih. Penampilannya sederhana, bahkan ia tak seperti pemuda lainnya. Ia terkesan sederhana dan tampil apa adanya. Dia juga lumayan cerdas. Aku suka orang yang seperti itu, apalagi dia mempunyai lesung pipi, akhhh tambah bikin gemes deh,'' ucap Salsa dengan mata berbinar saat menceritakan Ridwan tadi.


''Suka? suka dengan artian apa ini?'' batin Devan kesal.


''Kok kamu diam aja sih Van. Aku tuh ngomong sama kamu loh Van,'' ucap Salsa tersenyum smirk saat Devan tak menanggapi ucapannya.


''Memangnya saya harus bicara apa Nona?'' tanya Devan yang malah balik bertanya.


''Ya ngomong apa gitu kek, malah diam saja,'' ucap Salsa yang di buat kesal.


Ponsel Salsa tiba-tiba berbunyi, Salsa segera mengambi ponselnya yang berada di dalam tas.


''Pak Hadi?'' ucap Salsa mengeryitkan dahinya.


''Pak Hadi? kenapa dia langsung menelpon Salsa. Kan seharusnya Pak Hadi menelponku. Secara aku di sini adalah asisten Salsa,'' batin Devan tak terima.


''Halo Pak ada apa?'' tanya Salsa di balik telepon.


''......''


''Oh baik Pak, bisa-bisa, nanti bapak share aja alamat rumah bapak,'' ucap Salsa yang sesaat melirik Devan.


''......''

__ADS_1


''Iya pak, terima kasih juga sudah mengundang kami. Kami pasti datang pak,'' ucap Salsa. Salsa segera mematikan panggilan telepon dari Pak Hadi.


''Nanti malam kita di undang untuk makan malam di rumah pak Hadi,'' ucap Salsa.


''Acara apa?'' tanya Devan datar.


''Ngak tau,'' ucap Salsa tak kalah datar.


''Eh Van, anterin aku ke mall dulu ya. Aku ngak bawa baju buat aku pakai nanti malam,'' ucap Salsa dan hanya di balas anggukan oleh Devan.


''Ck, mau makan malam aja pakai shoping dulu. Pak Hadi juga, kenapa undang makan malam di rumahnya. Ini pasti ada udang di balik rempeyek,'' batin Devan curiga melirik ke arah Salsa.


''Padahal aku masih memikirkan gimana caranya buat hati Devan kebakaran. Eh Pak Hadi telepon, bisa kali ya Ridwan di buat umpan, hehehe,'' batin Salsa tertawa jahat.


Sesampainya di mall, Salsa langsung menuju toko pakaian wanita. Ia segera memilih dress yang menurutnya cocok di tubuhnya.


''Van bagaimana menurutmu,'' ucap Salsa tiba-tiba keluar dari ruang ganti. Ia memakai dress yang sedikit terbuka. Bukan hanya sedikit sih tapi memang dress itu terbuka😁. Nyatanya gunung kembar milik Salsa sekarang menyembul ingin keluar dari tempatnya. Devan yang melihat penampilan Salsa, hanya menelan ludahnya kasar.


''Terlalu terbuka Nona,'' ucap Devan langsung memalingkan wajahnya.


''Tapi aku suka modelnya Van,'' ucap Salsa dengan nada manja.


''Tapi itu terlalu terbuka Nona!'' ucap Devan menatap tajam Salsa.


''Memangnya kenapa? bodyku kan bagus, apa salahnya coba,'' ucap Salsa yang memancing kemarahan Devan.


''Ganti atau aku robek?'' tanya Devan dengan tatapan tajam. Devan yang dulu telah kembali, batin Salsa. Padahal Salsa hanya ingin menggoda Devan dengan pakaian yang sedikit terbuka. Apa Devan masih perhatian dengannya atau tidak. Dan jawabannya pasti masih perhatian, karna bagaimana pun sikap Devan saat ini, di dalam lubuk hatinya Devan masih sangat mencintai Salsa.


''Iya iya aku ganti. Gitu aja marah-marah,'' ucap Salsa kembali ke ruang ganti dengan senyum di wajahnya.


Salsa segera mengganti baju dengan dress selulut berwarna peach. Salsa benar-benar terlihat seperti bidadari, menurut Devan.


*


*

__ADS_1


Tinggalkan jejak yukk😉


Like, coment, vote dan beri hadiahh🥰🥰


__ADS_2