
''Assalamualaikum,''
''Walaikumsalam,'' jawab Salsa dan Devi.
''Ibu udah pulang?'' tanya Devi.
''Iya, ini siapa Dev?'' tanya Bu Marwah.
''Halo Tante, saya Salsa calon istri Devan,'' ucap Salsa menyalami Bu Marwah dengan mencium tangannya.
''Apa?'' tanya Bu Marwah memastikan.
Salsa gemetar, ia takut kepada sorot mata tajam calon mertuanya.
''Bu, Pak duduk dulu,'' ucap Devi. Ibu dan Bapak segera duduk. Devan muncul dari belakang karna Devan habis dari kamar mandi.
''Bu, Pak,'' ucap Devan langsung sujud di kaki Ibu dan Bapaknya.
''Devan minta maaf Bu, Pak. Selama ini Devan sudah membuat kalian malu. Devan menyesal Bu, Pak,'' ucap Devan yang sudah tak bisa membendung air matanya.
''Bangun,'' ucap Ibu Marwah datar.
Namun Devan masih tak bergeming.
''Bangun Van, Ibu bilang bangun,'' bentak Ibu Marwah.
''Devan tak akan bangun jika Ibu dan Bapak belum memaafkan Devan,'' ucap Devan.
''Kami sudah memaafkan mu Van, sekarang bangun,'' ucap Bapak mengelus pundak Devan. Devan mendongakkan kepalanya menatap kedua orang tuanya.
''Bangun,'' ucap Ibu lagi. Devan segera bangun dan duduk di sebelah Salsa. Devan menggenggam tangan Salsa erat seolah tak ingin melepaskan.
''Ada apa kamu kesini. Bukankah saya sudah bilang jika kamu bukan anak saya lagi,'' ucap Bu Marwah tak menatap anaknya.
''Bu,'' ucap Bapak dan Devi bersamaan.
''Tapi Devan masih menganggap Ibu Bapak dan Devi keluarga Devan. Devan ingin meminta restu kepada Ibu dan Bapak, kami akan menikah,'' ucap Devan.
''Berapa wanita yang kamu bawa ke rumah ini, dan kamu kenalkan menjadi calon istrimu. Sudah tiga orang Van. Ibu hanya bilang, jangan pernah memainkan wanita karna kamu terlahir dari rahim seorang wanita juga,'' ucap Ibu Marwah.
''Dia wanita terakhir Bu, Devan janji,'' ucap Devan.
''Bagaimana dengan jal*ng itu?'' tanya Ibu datar.
''Hubungan kami sudah berakhir Bu. Jangan membahas dia lagi,'' ucap Devan.
__ADS_1
''Bapak merestui hubungan kalian, jangan permainkan perasaannya Van. Benar kata ibumu Kamu terlahir dari wanita dan kamu juga mempunyai adik wanita juga. Kamu tak ingin kan adikmu juga di sakiti oleh lelaki?'' ucap Bapak. Dan Devan mengangguk patuh.
''Bu,'' ucap Devan menatap ibunya. Kemudian Ibu Marwah merentangkan kedua tangannya, Devan segera mendekat lalu memeluk ibunya erat. Air mata tumpah begitu saja.
Semua yang ada di sana menangis terharu melihat ibu dan anak itu. Sebenarnya Ibu Marwah sangat merindukan anak laki-lakinya tersebut. Ia menyesal karna dulu telah berkata kasar kepada Devan.
''Ibu, maafin Devan,'' ucap Devan yang masih di pelukan ibunya.
''Ibu sudah memaafkan kamu Nak,'' ucap Ibu Marwah. Mereka segera melepaskan pelukannya.
''Coba sekarang kenalkan kepada Ibu, siapa gadis ini,'' ucap Ibu Marwah tersenyum ke arah Salsa. Salsa sudah tak setakut tadi. Ia membalas senyuman Ibu Marwah.
''Dia Salsa, dia atasan Devan di Jakarta,'' ucap Devan.
''Jadi selama ini kamu balik ke Jakarta lagi Van?'' tanya Bapak.
''Iya Pak, sebenarnya Devan dulu balik ke Jakarta karna ingin mengejar Chaca lagi, namun Chaca sudah menikah dengan orang lain dan ternyata jodoh Devan bukan Chaca melainkan sahabat Chaca yaitu Salsa,'' ucap Devan tersenyum ke arah Salsa.
''Jadi Nak Salsa ini sahabatnya Chaca?'' tanya Ibu Marwah kaget mendengar penjelasan Devan.
''Betul Bu. Kami bersahabat sejak Sekolah Menengah Atas,'' ucap Salsa.
''Nak Salsa juga Cantik, seperti Nak Chaca. Ibu beruntung sekali mempunyai menantu seperti Nak Salsa,'' ucap Ibu Marwah bahagia.
''Kalian menginap ya. Ibu masih kangen,'' ucap Ibu. Devan menoleh menatap Salsa, dan Salsa hanya menganggukkan kepalanya.
''Iya Bu, kita menginap di sini,'' ucap Devan.
Setelah berbincang-bincang, Devan mengantarkan Salsa ke kamarnya. Kamar yang hampir 1 tahun ini tidak ia tempati.
''Kamu istirahat ya, pasti lelah,'' ucap Devan lembut.
''Kamu ngak istirahat?'' tanya Salsa.
''Nanti aku istirahatnya. Aku masih mau mengobrol sedikit dengan Bapak,'' ucap Devan. Salsa hanya mengangguk, ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang milik Devan.
''Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan Van?'' tanya Bapak kepada Devan yang saat ini sudah duduk di sampingnya.
''Sekitar 2 minggu lagi Pak, lebih cepat lebih baik,'' ucap Devan.
''Bagaimana dengan orang tua Nak Salsa, apa mereka juga merestui?'' tanya Bapak.
''Mereka sangat-sangat merestui Pak,'' ucap Devan tersenyum ke arah Bapak.
''Sukurlah kalau mereka merestui. Bapak cuma takut, kalau kejadian dulu kembali lagi,'' ucap Bapak.
__ADS_1
''Tidak Pak, mereka merestui hubungan Devan dan Salsa,'' ucap Devan.
Siang pun berganti malam, saat ini mereka sedang berada di meja makan. Meja makan yang terlihat sederhana. Apalagi di atas meja itu hanya ada beberapa hidangan makanan saja.
''Bu, setiap bulan Devan mengirim uang ke rekening Ibu, apa Ibu tak mengambilnya?'' tanya Devan lembut.
''Ibu ngak tau Nak kalau kamu mengirim uang selama ini. Besok Ibu akan ambil dan akan memasak banyak untuk kalian,'' ucap Ibu Marwah tersenyum ke arah Salsa dan Devan.
''Tidak usah repot-repot Bu,'' ucap Salsa yang merasa tak enak.
''Ibu ngak repot kok. Ibu malah senang karna kalian di sini,'' ucap Ibu Marwah.
Salsa sangat senang karna mendapat restu dari orang tua Devan. Walaupun tadi ada sedikit halangan.
Saat ini Salsa sedang berada di teras rumah. Ia memakai jaket tebal karna udara yang lumayan dingin. Salsa menikmati suasana yang hening. Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, hanya ada beberapa motor yang lewat saja.
''Kamu suka suasananya?'' tanya Devan yang muncul dari dalam rumah. Ia duduk di sebelah Salsa yang berada di kursi panjang.
''Hem, di sini enak ya, sejuk banget,'' ucap Salsa.
''Chaca juga bilang seperti itu,'' ucap Devan lalu membekap mulutnya karna keceplosan.
''Dia sudah pernah kesini?'' tanya Salsa menatap Devan.
''I iya. Ta tapi kan---''
''Stttt, udah ngak papa kok. Kan dia masa lalu kamu. Dan aku masa depan kamu. Aku ngak marah Van,'' ucap Salsa menempelkan jarinya di bibir Devan.
''Terima kasih sayang,'' ucap Devan lalu memeluk Salsa.
''Iyaa,'' ucap Salsa membalas pelukan Devan.
Mereka tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Lalu bibirnya tertarik ke atas.
''Ibu bahagia melihatmu bahagia Nak. Salsa anak yang baik. Ibu berharap ini pernikahanmu yang terakhir. Semoga pernikahan kalian di lancarkan oleh Tuhan,'' ucap Ibu Marwah di dalam hatinya.
Air matanya menetes melihat anak yang selama ini di rindukan akhirnya pulang kembali. Dan yang lebih mengagetkan lagi, ia membawa seorang gadis yang akan di nikahi 2 minggu lagi.
*
*
Jangan lupa tinggalkan bunga dan kopi.
Like, Coment, vote dan beri hadiah.
__ADS_1