I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 73


__ADS_3

Di lain tempat.


"Ber please, jangan pernah kesini dan temui aku lagi. Aku sudah punya istri, dan dia sangat sangat mencintaiku, aku pun sangat sangat mencintainya. Jadi tolong jangan ganggu rumah tanggaku lagi," ucap Ronald memelas.


"Kamu ngak cinta Ro sama dia. Kamu hanya cinta sama aku. Kita udah melewati beberapa tahun bersama, beda dengan istrimu itu," ucap Berta.


"Aku memang mencintaimu Ber, tapi itu dulu. Sebelum Chaca hadir di hidupku. Sekarang hanya dia yang ada di sini," ucap Ronald dengan menunjuk dadanya.


"Bohong! Aku tau kamu bohong Van. Kamu hanya takut kan kepada istrimu. Kita bisa bermain di belakangnya Ro," ucap Berta yang maju tepat di depan Ronald dan mengusap dada bidang Ronald. Dan saat yang bersamaan seseorang membuka knop pintu tersebut.


"Mas..." ucapan Chaca menggantung saat melihat dada suaminya di elus oleh wanita lain.


"Sayang, sayang ini ngak seperti yang kamu kira," ucap Ronald berjalan mendekat ke arah istrinya. Chaca yang tau jika wanita di hadapannya ini adalah wanita yang licik, ia akan bermain cantik untuk bisa melepaskan wanita yang selalu mengejar suaminya.


"Mas aku kangen, makanya aku kesini," ucap Chaca bergelayut manja di lengan suaminya.


Ronald mengerutkan keningnya. Ternyata istrinya tak marah. Tapi Ronald segera sadar jika istrinya itu bisa di bilang cerdik.


"Aku akan mengikuti permainan kamu sayang," batin Ronald.


"Hem, di tinggal sebentar aja udah kangen. Gimana kabar baby boy hari ini," ucap Ronald mengelus dan mencium perut Chaca yang sudah membesar, karna saat ini kehamilan Chaca memasuki 8 bulan.


Chaca tersenyum mengejek melihat wanita di depannya saat ini. Ia akan memperlihatkan bagaimana bucin suaminya kepadanya.


"Nyaman banget kamu elus kayak gini Mas," ucap Chaca.


"Nyaman? Mending kita duduk, aku akan elus perutmu sampai kamu bosan," ucap Ronald menggandeng Chaca menuju sofa dan itu semua tak lepas dari penglihatan Berta.


Chaca duduk di sofa panjang. Kakinya di letakkan di atas pangkuan Ronald. Dan Ronald segera mengelus, mencium perut Chaca. Kadang Ronald juga mencium kening serta bibir Chaca. Mereka melupakan jika ada orang lain di dalam ruangan tersebut.


"Sayang, i love you. Makasih banyak ya, udah mau jadi ibu dari anak-anakku," ucap Ronald tersenyum ke arah Chaca.


"Iya Mas. Aku juga mencintaimu," ucap Chaca.


Berta kesal dan mengepalkan kedua tangannya.


"Ronald, aku tak akan menyerah. Tunggu aku, aku akan merebutmu dari dia," batin Berta pergi begitu saja dari dalam ruangan kerja Ronald.

__ADS_1


Pagi tadi Berta mengikuti mobil Reno yang akan menuju perusahaan Bora Group untuk mengantarkan dokumen yang harus di tanda tangani langsung oleh Ronald. Ia mengikuti Reno sampai di depan ruangan Ronald. Setelah Reno pergi, Berta masuk ke dalam ruangan tersebut. Jelas Ronald kaget dengan kedatangan Berta. Ronald tak pernah menyangka jika Berta akan senekat ini.


"Jelaskan!" ucap Chaca datar. Kali ini ia akan lebih memperhatikan suaminya lagi. Ia tak mau di khianati untuk ketiga kalinya.


Ronald segera menjelaskan dengan kedatangan Berta yang tiba-tiba. Ia tak tau, dari mana Berta tau Ronald kerja di Bora Grup.


"Awas jika kamu ketahuan main di belakangku. Aku tak akan pernah mengizinkan kamu bertemu dengan anakmu selama- lamanya," ucap Chaca menatap tajam Ronald. Sementara Ronald menelan salivanya susah payah karna melihat sang istri sudah seperti singa yang ingin memangsa musuhnya.


"Sayang, kamu tau sendiri kan jika aku hanya mencintaimu. Mana mungkin aku akan berpaling darimu. Tidak ada yang aku butuhkan lagi. Sudah punya istri cantik, pintar dan bisa memberikan keturunan, langsung kembar lagi. Hanya laki-laki bodoh yang meninggalkanmu sayang," ucap Ronald mengecup punggung tangan Chaca.


"Beneran ya. Awas kalau si uler keket tadi masih deket-deket sama kamu. Aku yang akan turun tangan membasminya," ucap Chaca.


"Iya sayang iya," ucap Ronald tersenyum. Ronald melihat istrinya begitu lucu jika sedang cemburu seperti ini. Ronald terus menghujani wajah Chaca dengan kecupan-kecupan.


*


*


Di lain tempat.


Setelah menikah dengan Monica, Devan belum menampakkan batang hidungnya di hadapan orang tuanya sampai saat ini. Itu yang membuat Devan takut. Apakah orang tuanya masih menerimanya atau tidak.


''Sa, berjanjilah untuk terus di sampingku, apapun yang terjadi,'' ucap Devan menggenggam tangan Salsa.


Salsa menatap Devan heran. Mengapa Devan berbicara seperti itu.


''Aku akan terus berada di sampingmu apapun yang terjadi Van,'' ucap Salsa.


Setelah perjalanan yang lumayan panjang, mereka telah sampai di depan rumah keluarga Devan. Rumah sederhana yang hampir 1 tahun ia tinggalkan.


''Kita masuk yuk,'' ajak Devan menggenggam erat tangan Salsa.


Tok tok tok.


Devan mengetuk pintu rumahnya. Selang beberapa saat seorang gadis membukakan pintu tersebut.


''Mas Devan,'' ucap Devi dengan mata membola lebar. Devi tak menyangka jika Devan yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


''Dev, boleh kita masuk?'' tanya Devan.


''Masuklah Mas,'' ucap Devi mempersilahkan masuk.


Devan dan Salsa duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu.


''Bagaimana kabar kamu? Ibu sama Bapak ada?'' tanya Devan.


''Kabar Devi baik Mas. Ibu sedang kepasar di antar sama bapak,'' ucap Devi. Devi penasaran siapa wanita yang di bawa oleh Devan saat ini.


''Kenalkan, dia Salsa. Calon kakak iparmu,'' ucap Devan.


''Kakak ipar?'' beo Devi. Devi bingung, mengapa Devan membawa wanita lain lagi kesini. Awalnya Chaca terus Monica dan sekarang Salsa.


''Halo Devi, aku Salsa calon kakak iparmu. Istri Devan,'' ucap Salsa memperkenalkan diri.


''Mas Devan bisa jelaskan sama Devi. Devi bingung Mas,'' ucap Devi yang memang terlihat bingung.


''Hubunganku dengan Monica sudah berakhir. Pernikahan kami hanya bertahan 3 bulan. Dan setelah itu aku menceraikannya,'' ucap Devan datar. Devi yang mendengar penjelasan Devan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Ibu dan Bapak Devan sampai di halaman rumah. Ia menatap heran, siapa pemilik mobil mewah tersebut. Kenapa memarkirkannya di depan rumahnya.


''Mobil siapa Pak ini?'' tanya Bu Marwah turun dari motor.


''Entahlah Bu. Mungkin mobil tetangga, nitip dulu di sini,'' ucap Bapak.


Ibu dan Bapak berjalan melewati mobil mewah tersebut. Sampai di teras ia mendengar suara tawa dari seorang wanita.


''Mungkin teman Devi Pak,'' ucap Ibu Marwah.


''Iya mungkin,'' sahut Bapak.


Mereka segera masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam.


*


*

__ADS_1


__ADS_2