I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 57


__ADS_3

''Kamu tidak tau masalahnya Wilson,'' batin Cinta.


*


*


''Sayang laper,'' ucap Chaca sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.


''Kamu mau makan apa? dimana?'' tanya Ronald pelan.


''Hem aku mau makan di Restoran Tulip ya. Kayaknya enak deh,'' ucap Chaca.


''Oke kita berangkat kesana sekarang,'' ucap Ronald. Ia segera mengambil jas yang ada pada kursi kebesarannya. Ya saat ini Ronald sedang bekerja. Dan tidak afdol jika Chaca tidak ikut bersamanya.


Beberapa menit perjalanan mereka telah sampai di Restoran Tulip. Chaca segera memesan beberapa menu.


''Sayang, apa ini tidak terlalu banyak? apa kamu sanggup menghabiskan semuanya?'' tanya Ronald. Ia tak habis fikir dengan istrinya, hampir semua menu yang ada di Restoran tersebut di pesan oleh Chaca.


''Siapa bilang aku yang menghabiskan,'' ucap Chaca tersenyum smirk.


''Terus siapa yang menghabiskan kalau bukan kamu. Kan yang lapar kamu yank,'' ucap Ronald yang sudah merasa tak enak.


''Ya Daddy lah yang menghabiskan,'' ucap Chaca, menirukan suara anak kecil.


''Sayang jangan bercanda,'' ucap Ronald.


''Aku tidak bercanda Mas. Aku memang lapar, tapi setelah melihat makanan ini semua laparku menghilanh begitu saja. Jadi dari pada mubazir mending Mas deh yang makan. Aku pengen sekali melihat Mas menghabiskan ini semua,'' rengek Chaca.


''Sayang, tadi pagi Mas sarapan banyak, saat ini Mas masih sangat kenyang,'' ucap Ronald memelas.


''Jadi Mas ngak mau menghabiskan ini semua?'' tanya Chaca yang sudah berkaca-kaca.


''Oke-oke Mas habisin, tapi kamu jangan nangis ya,'' ucap Ronald. Ia menatap makanan yang ada di depannya hanya menelan salivanya kasar. Bukannya ingin segera menyantap tapi bagaimana caranya menghabiskan makanan itu semua.


''Semangat sayang,'' senyuman Chaca terbit dari bibir mungil miliknya. Ronald tak tega jika harus mengubah senyuman itu menjadi kekecewaan.


Mau tak mau Ronald menyantap makanan itu satu persatu. Perutnya sudah sangat kenyang, padahal baru 1 piring yang ia makan dan masih menyisakan 4 piring lagi.


''Sayang kamu ngak papa? wajah kamu merah,'' ucap Chaca yang melihat wajah Ronald merah. Sebenarnya Ronald ingin sekali memuntahkan yang ada pada perutnya. Tapi ia tak ingin Chaca marah kepadanya.


''Ngak papa,'' ucap Ronald.


Chaca segera memanggil pelayan untuk mengambil semua makanan yang ada di atas meja. Ia sadar ia sangat keterlaluan saat ini.

__ADS_1


''Kenapa makanannya di ambil?'' tanya Ronald mengerutkan dahinya penasaran.


''Bukankah makan berlebihan itu tidak baik,'' ucap Chaca.


''Tapi makanannya belum habis yank,'' ucap Ronald.


''Tidak usah di habiskan Mas. Aku tau Mas kenyang. Mas melakukan ini semua untuk anak kita dan agar aku ngak marah. Maaf Mas, buat kamu ngak nyaman,'' ucap Chaca dengan mata berkaca-kaca.


''Sayang, hey jangan menangis. Mas lakuin ini semua ikhlas kok. Jadi jangan merasa bersalah ya,'' ucap Ronald mendekat ke arah istrinya dan mengelus lembut rambutnya.


''Maafin aku Mas, aku terlalu egois,'' ucap Chaca terisak.


''Udah ya jangan nangis lagi. Mas ngak papa sayang,'' ucap Ronald.


''Apa begini sifat perempuan hamil. Akhhh membuat pusing saja. Untung cinta,'' batin Ronald.


*


*


Sementara di ruangan yang cukup besar. Cezy diam-diam memperhatikan Devan yang sedang mengajarinya.


''Sampai sini kamu paham?'' tanya Devan menatap ke arah Cezy.


''Woeee malah ngelamun,'' ucap Devan yang mendapati Cezy menatap dirinya tanpa berkedip.


''Dari tadi kamu ngak dengerin saya ngomong? terus ngapain kamu?'' tanya Devan melotot tajam.


''Maaf Pak,'' ucap Cezy dengan menundukkan pandangannya.


''Saya tau saya tampan. Apa kamu tidak pernah lihat orang tampan, hah?''ucap Devan yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


''Maaf Pak,'' ucap Cezy lagi.


''Kamu pelajari ini semua sendiri,'' ucap Devan berdiri dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan Cezy.


''Huh, ganteng-ganteng galaknya minta ampun,'' ucap Cezy menghembuskan nafasnya kasar.


Ceklek.


Pintu ruangan Salsa di buka begitu.


''Devan apa kamu tidak punya sopan santun?'' tanya Salsa melototkan matanya.

__ADS_1


''Aku pusing mengajari sekretarismu yang otaknya dangkal itu,'' ucap Devan sambil memijit pelipisnya.


''Cezy maksud kamu?'' tanya Salsa.


''Iya siapa lagi. Sini udah ngomong panjang lebar + tinggi. Sana malah menikmati ketampananku, dasar!'' gerutu Devan.


''Pffff. Cezy menikmati kerampananmu? apa Cezy matanya bermasalah ya?'' ucap Salsa dengan senyum mengejek.


''Bermasalah bagaimana? jelas-jelas aku ini memang tampan. Siapa sih orang yang bilang aku ini tidak tampan,'' ucap Devan. Entah sejak kapan Devan berubah menjadi orang yang terlalu percaya diri seperti ini.


''Ya ya ya. Kamu memang tampan. Dan dulu aku hampir menyukaimu,'' ucap Salsa di dalam hati. Mana mungkin Salsa akan mengatakannya kepada Devan. Pasti Devan akan besar kepala.


''Ya ya terserah kamu saja lah Van. Yang penting Cezy harus bisa. Kalau kamu tidak bisa mengajari Cezy dengan baik, akan aku potong gajimu 50% bulan ini,'' ucap Salsa.


''Bisanya hanya mengancam,'' gerutu Devan meninggalkan ruangan Salsa.


''Hahahaha,'' tawa Salsa pecah saat Devan sudah menghilang di balik pintu. Menurut Salsa, Devan sangat lucu jika sedang kesal seperti ini.


''Devan Devan. Apa kamu tau jika Cezy itu adik Chaca. Jika kamu tau, pasti kamu tidak akan mau mengajarinya. Aku pastikan kamu jatuh hati kepada Cezy Van. Tidak dapat Chaca Cezy pun jadi,'' ucap Salsa tertawa.


''Aku bisa cepet gila kalau mengajari gadis itu. Kenapa Nona Salsa bisa dapat sekretaris modelan kayak gitu. Cantik sih tapi otaknya kecil,'' ucap Devan yang saat ini sudah berada dalam ruangannya.


Tok tok tok.


''Siapa sih mengganggu saja,'' gerutu Devan.


''Masuk,'' ucap Devan.


''Permisi Pak, apa Bapak masih marah sama saya? saya minta maaf Pak. Tapi kali ini saya mohon minta bantuan Bapak. Tolong ajari saya yang membuat laporan tadi pak,'' ucap Cezy memohon kepada Devan. Devan menghembuskan nafasnya kasar.


''Hal sekecil ini saja tidak bisa. Apalagi hal besar,'' batin Devan yang terus menerus mrnggerutu.


''Sabar Van sabar. Daripada gajimu hilang 50%. Mending kamu ajari dengan ikhlas. Ya dengan ikhlas,'' batin Devan mengelus dadanya pelan.


Mereka saat ini berada di ruangan Cezy. Namun bukan Cezy namanya yang tidak curi-curi pandang ke Devan. Walaupun tatapan Devan horor tapi Cezy tidak takut sama sekali. Ia malah tertantang untuk mendapatkan Devan.


''Ngak duda ngak masalah. Asal tampan,'' batin Cezy. Ia sudah melupakan tentang keinginannya mempunyai calon suami duda.


''Kalau perjaka aja ada. Kenapa harus duda,'' batin Cezy lagi.


Jam istirahat telah tiba. Kini saat nya semua karyawan melakukan makan siang.


''Van ke restoran biasa yuk,'' ajak Salsa dan di angguki oleh Devan.

__ADS_1


*


*


__ADS_2