
''Kenapa sikap cool ku hilang saat berhadapan dengannya. Jangan jadi murahan gini dong Ro, biasanya kamu yang di kejar-kejar. Tapi sekarang malah mengejar.'' Batin Ronald dengan menyantap makan siangnya.
*
*
''Gimana Na, Ronald sudah bertemu dengan Chaca kan?'' tanya mama Reni.
''Udah beres Ren, tapi aku takut kalau Chaca tidak bisa membuka hatinya untuk Ronald Ren. Dia masih berharap sekali dengan mantan asistennya.'' Curhat mama Luna kepada mama Reni.
''Jadi Chaca punya kekasih?'' tanya mama Reni.
''Iya,, beberapa hari yang lalu Chaca meminta restu kepadaku agar merestui hubunganya dan asistennya. Tapi aku kurang setuju jika Chaca menikah dengan Devan. Sebenarnya Devan anak yang baik, tapi aku kurang srek gitu lo Ren sama dia. Apalagi kan Chaca sudah di jodohkan dengan Ronald,'' ucap mama Luna.
''Trus sekarang dimana asistennya itu?'' tanya Mama Reni.
''Devan aku pindahkan ke perusahaan cabang selama 3 tahun, itu syarat jika mereka ingin menikah. Dengan tanda kutip jika mereka berdua benar-bener setia satu sama lain Ren. Dan sekarang aku takut jika mereka setia, gagal dong rencana kita.'' mama Luna merasa sedih
''Udahlah Na, jika Chaca berjodoh dengan asistennya itu berarti Chaca bukan jodoh Ronald dong,'' ucap mama Reni. Sebenarnya mama Reni juga takut kalau Ronald juga tidak tertarik kepada Chaca. Ronald tipikal orang yang tidak suka dengan cewek yang berumur di atasnya. Ia lebih suka dengan cewek yang berumur setara dengannya atau di bawahnya.
''Semoga mereka berjodoh.'' Batin mereka.
*
*
Di tempat lain, seseorang memimpin rapat kali ini. Ia menjalani beberapa hari ini tanpa seseorang yang di cintainya. Ia adalah Devan. Devan pindah di perusahaan cabang dan memimpin di sana. Rapat yang memakan waktu hampir satu jam akhirnya selesai. Di ruangan rapat hanya tersisa Devan, sekretaris dan juga Monica. Monica adalah salah satu pimpinan di perusahaan itu.
''Pak Devan bisa kita bicara sebentar,'' ucap Monica sopan. Karna di sana masih ada sekretaris Devan.
''Silahkan,'' ucap Devan tanpa melihat ke arah Monica.
''Tapi sebaiknya kita bicara berdua pak,'' ucap Monica lagi. Sekretaris Devan pun merasa tidak enak karna ia masih berada di ruangan tersebut. Ia segera keluar dari ruangan itu.
''Cepat bicara, waktu kamu cuma 5 menit,'' ucap Devan datar tanpa melihat kearah Monica.
''Devan aku merindukanmu.'' Monica berlari kearah Devan lalu memeluk Devan dengan erat.
''Apa kamu tidak pernah di ajari sopan santun Monica Amanda,'' ucap Devan dengan tangan terkepal erat. Ingin rasanya ia mendorong tubuh Monica agar tersungkur di lantai, tapi ia bukanlah pria yang sekeras itu. Ia hanya menyingkirkan tangan yang memeluknya dengan kasar.
''Van tapi aku benar-benar merindukanmu.'' Monica dengan wajah cemberut.
''Waktu kamu habis, silahkan keluar dari ruangan ini,'' ucap Devan dingin.
__ADS_1
''Van kamu ngusir aku, Ternyata kita berjodoh ya Van, Kemana pun kamu pergi pasti kamu akan kembali pulang,'' ucap Monica tersenyum bahagia.
''Tutup mulut busukmu itu. Disini sekarang aku atasan kamu, jadi jaga sikap kamu.'' Devan menatap Monica tajam. Devan meninggalkan Monica begitu saja. Ia menuju keruangannya dan memijit pelipisnya.
''Tuhan setiakan aku pada satu hati saja,'' ucap Devan. Ia ingin setia kepada Chaca dan menikahi Chaca sesuai janjinya. Walaupun Chaca yang mencintainya terlebih dulu, namun Devan juga dengan mudah membalas cinta Chaca.
*
*
Tok tok tok
''Nona Chaca ada yang ingin bertemu dengan anda,'' ucap Nina sekretaris nona Chaca.
''Siapa?'' tanya nona Chaca.
''Sahabat anda nona, Pak Nicco kalau ngak salah namanya,'' ucap Nina.
''Oh Nicco, suruh dia masuk Nin,'' ucap Chaca.
Nicco segera berjalan keruangan Chaca.
''Hay Cha, apa kehadiranku mengganggumu?'' tanya Nicco di ambang pintu.
''Bagaimana kabarmu Cha, aku denger kamu belum lama ini di rawat di RS,'' ujar Nicco kepada Chaca.
''Iya Nic, tapi sekarang udah sembuh kok,'' ucap Chaca.
''Tumben kesini, ada apa?'' tanya Chaca penasaran.
''Oh gini Cha sahabat kita hari ini pulang ke indo loh, kamu ikut ngak jemput dia ke bandara,'' ucap Nicco.
''Salsa pulang?'' tanya Chaca dengan wajah berbinar. Rasanya ia sangat rindu sekali dengan Salsa.
''Ya dia pulang hari ini. Kamu ikut ngak jemput dia?'' tanya Nicco lagi.
''Ya ikut laah Nic. Aku udah rindu berat sama Salsa.'' Chaca menutup laporan yang tadi ia kerjakan.
''Kalau gitu sekarang kita berangkat. Wilson sudah dari tadi sampai di bandara.'' Ajak Nicco.
''Ya udah ayo.'' Chaca berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya. Ia melangkahkan kaki mengikuti Nicco yang mendahuluinya keluar dari ruangan. Mereka berjalan beriringan sambil mengobrol kecil.
''Nina saya keluar sebentar. Kalau ada apa-apa hubungi saya,'' ucap Chaca.
__ADS_1
''Baik Nona,'' ucap Nina.
Setelah kepergian Chaca dan Nicco. Ronald langsung keluar dari ruangannya, Ia ingin bertanya kepada Nina kemana Nonanya pergi.
''Nin, Nona Chaca pergi kemana?'' tanya Ronald yang sejak tadi sudah penasaran.
''Nona Chaca keluar sebentar Pak, tapi tidak bilang mau pergi kemana,'' ucap Nina pada Ronald.
''Apa mereka sepasang kekasih?'' tanya Ronald penasaran.
''Siapa?'' tanya Nina bingung.
''Nona Chaca dan pria tadi,'' ucap Ronald
''Kalau setau saya pak Nicco sahabat nona Chaca sejak masih sekolah menengah atas pak,'' ucap Nina. Ronald hanya mengangguk pertanda mengerti.
''Apa nona Chaca sudah mempunyai kekasih?'' Tanya Ronald lagi. Nina yang di tanya hanya mengerutkan keningnya heran kenapa asisten baru atasannya ini menanyakan hal yang bersifat privasi.
''Jangan salah paham dulu, saya bertanya begitu hanya memastikan. Nona Chaca kan atasan saya, masa saya tidak tau apa-apa tentang beliau,'' ucap Ronald sedikit gugup.
''Kalau kekasih setau saya tidak ada. Tapi kalau teman dekat ada pak,''
''Siapa?''
''Pak Devan, asisten Nona Chaca sebelum bapak,'' ucap Nina.
''Sekarang dimana dia berada?''
''Pak Devan tiba-tiba di pindah ke perusahaan cabang. Saya juga tidak tau permasalahannya apa. Semenjak pak Devan tidak ada sikap nona Chaca menjadi dingin.'' Ucap Nina.
''Memangnya biasanya bagaimana?'' tanya Ronald di buat tambah penasaran dengan ucapan Nina.
''Biasanya Nona Chaca selalu ceria. Tapi semenjak nona Chaca keluar dari rumah sakit pak Devan langsung di pindah ke perusahaan cabang. Padahal setiap hari mereka bersama, Jika ada yang melihatnya pasti mereka mengira sepasang kekasih,'' ucap Nina.
''Sampai segitunya?'' tanya Ronald mengerutkan keningnya.
''Iya Pak, Kadang saya juga pernah mendengar pak Devan memanggil nona Chaca hanya sebutan namanya saja jika mereka hanya berdua,'' ucap Nina.
''segitu dekatnya Chaca dan Devan? tapi kenapa Devan tiba-tiba di pindah ke perusahaan cabang? aku benar-benar tidak bisa berpikir.'' Batin Ronald.
*
*
__ADS_1