
Devan mendengar samar-samar orang yang berteriak di dekatnya. Namun untuk membuka matanya terasa sangat berat untuknya.
''Devan.''
''Van, bangun!''
''Jangan gini dong Van.''
Salsa berusaha membangunkan Devan yang sedang tergeletak di lantai. Walaupun perutnya terasa campur aduk, namun ia tahan sebisa mungkin.
Huek huek
Salsa berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Ia sudah berusaha menahannya namun keluar juga akhirnya.
''Devan apa-apaan sih. Kenapa dia sampai minum sebanyak itu. Aku benar-benar nggak kuat mencium bau alkohol,'' ucap Salsa yang masih di dalam toilet.
Salsa menelpon orang kepercayaannya untuk membantunya mengangkat Devan ke kamar. Setelah beberapa saat, orang-orang kepercayaan Devan sudah berada di dalam apartemen tersebut.
''Bawa dia ke kamar,'' perintah Salsa. Salsa juga segera melangkahkan kakinya mengikuti Devan dari belakang.
''Ganti semua bajunya. Jangan sampai ada bau alkohol yang melekat di tubuhnya!'' ucap Salsa. Salsa memperhatikan dari kejauhan karna ia tidak bisa berlama-lama mencium bau alkohol karna bisa membuatnya mual.
Setelah semua pakaian Devan di ganti, Salsa segera mendekat ke ranjang yang saat ini di tempati Devan. Ia merasa penasaran, ada apa sebenarnya dengan suaminya itu.
Salsa merebahkan tubuhnya di samping Devan. Baru pertama kali setelah hamil mereka 1 ranjang seperti ini.
''Kok sekarang aku nggak mual ya. Biasanya udah pengen muntah,'' batin Salsa yang merasakan perutnya yang tidak mual. Ia mendekat ke arah Devan lalu mencium pipi Devan. Walaupun di sana masih tersisa bau alkohol, Salsa menahannya agar tak memuntahkan kembali isi perutnya.
Salsa memeluk tubuh Devan dari samping, ia merasa nyaman memeluk Devan seperti ini. Lalu ia memejamkan matanya dan tertidur sambil memeluk Devan.
*
Pagi harinya, Devan merasakan jika kepalanya terasa berat. Ia menatap sekeliling ruangan, ia sadar jika saat ini dia berada di dalam kamar apartemennya. Dan yang membuat Devan kaget lagi ada tangan mulus yang sedang memeluk perutnya.
Deg
Devan langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia segera melihat ke samping, siapa yang telah berani memeluknya semalaman.
''Salsa,'' ucap Devan.
Salsa yang mendengar suara Devan langsung membuka matanya.
''Udah bangun?'' tanya Salsa tersenyum ke arah Devan.
__ADS_1
Bukan, ini bukan Salsa yang biasanya. Yang selalu marah-marah dan tak mau di sentuh, pikir Devan.
''Ngapain kamu di sini?'' tanya Devan terdengar dingin di telinga Salsa.
''Semalam kamu nggak pulang dan aku susulin kamu kesini,'' ucap Salsa enteng.
Devan segera bangkit dari ranjang, namun segera di tahan oleh Salsa.
''Mas, kamu kenapa sih?'' tanya Salsa merasa suaminya tidak seperti biasa.
''Ngak pa-pa,'' ucap Devan masuk ke dalam kamar mandi.
Salsa masih setia menunggu Devan di atas ranjang. Setelah beberapa saat, Devan keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut yang basah.
''Hari ini hari libur, kamu mau kemana Mas?'' tanya Salsa yang melihat Devan memakai baju formal seperti ingin pergi ke kantor.
''Kenapa aku sampai lupa jika hari ini hari libur, aduh malu banget aku,'' batin Devan. Namun ia terus memakai baju formalnya.
''Mas!''
''Hem, apa?'' tanya Devan datar.
''Kamu kenapa sih?'' tanya Salsa.
''Aku kenapa? Justru yang seharusnya tanya seperti itu aku loh,'' ucap Devan menatap Salsa tajam.
''Iya kamu kenapa aneh seperti itu. Biasanya juga tidak mau di peluk, dekat-dekat aja nggak mau, sekarang malah tidur bareng,'' ucap Devan ketus.
''Biasanya aku mual Mas kalau dekat sama kamu. Tapi nggak tau kenapa tadi malam aku merasa nyaman tidur peluk kamu,'' ucap Salsa.
''Halah bul*hit,'' ucap Devan.
''Mas, kamu kenapa sih sebenarnya. Kenapa kamu cuekin aku kayak gini,'' ucap Salsa yang merasa Devan tidak seperti biasanya.
''Aku cuekin kamu? Kamu ngerasa nggak sih kalau selama ini kami yang cuekin aku. Di deketi nggak mau, tidur bareng juga nggak mau. Dan dengan gampangnya kamu malah jalan sama lelaki lain di belakangku. Jangan kira aku ini bodoh Sa,'' ucap Devan menatap tajam Salsa.
''Aku jalan sama lelaki lain?'' tanya Salsa mengerutkan keningnya.
''Jangan pura-pura lupa Sa. Sejak kapan kamu dekat lagi sama dia. Apa anak yang kamu kandung itu juga anaknya?'' tanya Devan yang masih menatapnya tanpa beralih sedikit pun.
''Maksud kamu apa sih Van,'' ucap Salsa yang tak mengerti ucapan Devan.
''Hah, aku tau otakmu itu tidak bodoh Sa. Pasti kamu juga tau perkataanku ini,'' ucap Devan. Salsa hanya diam, ia sedang mencerna ucapan Devan.
__ADS_1
''Van, kamu lihat aku kemarin dengan---
''Ya,''
''Kamu salah faham Van. Aku nggak sengaja bertemu dengannya kemarin,'' ucap Salsa.
''Nggak sengaja? Mana mungkin nggak sengaja tapi bisa belanja bareng, tertawa bareng. Sudahlah Sa jangan mengelak lagi,'' ucap Devan.
''Aku kira kamu mencintaiku dengan tulus. Tapi nyatanya,'' ucap Devan menghembuskan nafasnya kasar.
''Van dengerin penjelasan aku dulu,'' ucap Salsa.
''Apa Sa yang harus aku dengerin. Aku udah tau semuanya. Sekarang aku tanya siapa ayah anak yang ada di kandunganmu itu,'' tanya Devan terdengar dingin.
''Maksud kamu apa sih Van. Ya jelas dia anak kamu lah. Apa kamu lupa kamu yang pertama bagiku. Kalau aku mau, udah dari dulu aku ngelakuin ini semua sama Malik,'' ucap Salsa marah. Ia marah karna suaminya tak lagi percaya dengannya, apalagi ia meragukan anak yang di kandungnya. Air mata Salsa tiba-tiba menetes begitu saja.
''Sa, sa bukan gitu maksudku,'' ucap Devan mendekat ke arah Salsa.
''Kamu sudah meragukan anak mu sendiri Van,'' ucap Salsa mematung di tempatnya dengan tatapan kosong.
''Sa maafin aku. Mungkin aku terlalu cemburu melihat kamu bersama dengan Malik,'' ucap Devan yang merasa ia salah bicara.
''Setelah anak ini lahir. Kamu boleh memastikan jika anak ini ada hubungan darah atau tidak denganmu. Jika anak ini tidak ada hubungan darah denganmu, kamu boleh menceraikan aku,'' ucap Salsa terdengar datar namun menusuk sampai ke hati Devan.
''Sa, aku percaya dia anak aku. Maafin aku karna telah meragukan anak kita,'' ucap Devan memeluk tubuh Salsa yang masih menatap depan dengan tatapan kosong. Salsa tak menolak juga tak membalas pelukan Devan.
''Maafin aku sayang, maafin aku,'' ucap Devan menyesal telah menuduh istrinya macam-macam dengan lelaki lain.
''Sa.''
''Sa, kamu mau kan maafin aku,'' ucap Devan terdengar tulus di telinga Salsa.
Salsa mengangguk pelan. ''Jangan pernah meragukan cintaku Van,'' ucap Salsa terdengar datar.
''Iya sayang. Maafin aku,'' ucap Devan kembali memeluk Salsa dengan erat.
*
*
Mereka udah baikan ya. Jangan hakimi Salsa lagiπππ
Jangan lupa mampir di karya baruku ya guys.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak juga di sana.
See you next episodeπππ