I LOVE YOU, ASISTENKU

I LOVE YOU, ASISTENKU
Chapter 92


__ADS_3

''Cez aku lagi serius nih,'' ucap Reno yang sudah deg-deg ser.


''Aku malah dua rius,'' ucap Cezy. Reno segera memeluk Cezy dengan erat, rasanya ia tak mau melepaskannya. Ia benar-benar sangat bahagia hari ini, karna Cezy akan selalu bersamanya dan William.


''Terima kasih sayang,'' ucao Reno mencium setiap inchi wajah Cezy.


''Udah-udah stop Pak, make up ku jadi luntur nih,'' ucap Cezy mengerucutkan bibirnya.


''Jangan panggil Pak, aku bukan Bapakmu!'' ucap Reno kesal.


''Iya Ren,'' ucap Cezy santai.


''Iya sayang, gitu lo. Ngak sopan kalau sama calon suami panggil nama doang gitu,'' ucap Reno.


''Iya sayanggggg. Ih rempong banget sih,'' ucap Cezy kesal. Reno mencubit pipi mulus milik Cezy.


Beberapa saat kemudian William terbangun dari tidurnya. Yang ia cari pertama kali ialah Mommy Cezy.


''Mommy Cezy,'' ucap William pelan.


''Sayang, ini Mommy. Mommy kangen banget sama William,'' ucap Cezy menggenggam tangan William.


William menoleh ke arah sumber suara, William tidak mimpi, ia bertemu kembali dengan Mommy Cezy.


''Mommy,'' ucap William spontan bangun dari tidurnya dan memeluk Cezy dengan erat.


''Iya sayang, ini Mommy,'' ucap Cezy memeluk tubuh mungil calon anaknya.


William melepas selang yang ada di hidungnya. Agar tidak ada yang menghalangi ia memeluk Mommynya.


''Wiyiam rindu Mommy,'' ucap William dengan isak tangisnya.


''Jangan nangis sayang. Maafin Mommy udah ninggalin William, Mommy janji akan selalu berada di samping William lagi,'' ucap Cezy.


''Daddy ngak di peluk nih,'' ucap Reno.


''Kan biasanya Wiyiam udah peyuk Daddy, sekarang Wiyiam mau peyuk Mommy Duyu,'' ucap William. Cezy menjulurkan lidahnya ke arah Reno.


''Awas aja ya kalau udah halal,'' bisik Reno di dekat telinga Cezy.


''Ngak takut!'' ucap Cezy.


*


*


1 bulan kemudian


Hoek hoek hoek


Salsa memuntahkan kembali isi perutnya. Ia benar-benar lemas kali ini.

__ADS_1


''Udah dong sayang. Kamu buat aku khawatir,'' ucap Devan.


''Aku lemas sekali sayang,'' ucap Salsa pelan.


''Kita ke rumah sakit ya,'' aja Devan.


''Ngak ah. Aku buat istirahat saja, nanti sembuh sendiri,'' ucap Salsa berjalan sempoyongan. Devan segera menggendong Salsa ke atas ranjang.


''Kamu kenapa bisa muntah-muntah kayak gini, apa kamu keracunan makanan?'' tanya Devan.


''Ngak tau sayang. Kalau aku keracunan makanan seharusnya kamu juga dong, kan kamu juga makan makanan yang sama,'' ucap Salsa.


''Iya juga sih, atau jangan-jangan----


''Ngak usah berharap yang berlebihan. Mungkin aku lagi masuk angin, kan aku semalem pakai baju kurang bahan,'' ucap Salsa. Ia juga kefikiran dengan apa yang di ucapkan oleh Devan sebetulnya, namun ia masih ragu untuk melakukan tes.


''Kita membuatnya hampir setiap malam sayang, dan pernikahan kita juga sudah menginjak 1 bulan. Dan selama ini kamu belum kedatangan tamu bulanan,'' ucap Devan.


''Apa yang di katakan Devan memang benar. Apa aku coba saja ya,'' batin Salsa.


''Aku beliin alat tes kehamilan ya. Kamu istirahat,'' ucap Devan lalu menyambar dompet dan kunci mobilnya.


Devan segera turun ke lantai bawah, ia segera mengendarai mobilnya menuju apotek terdekat dari rumah mereka. Sesampainya di apotek ia segera membeli alat tes kehamilan itu.


''Mbak beli alat tes kehamilan yang paling bagus,'' ucap Devan.


''Yang ini atau yang ini Pak?'' tanya penjaga apotek mengambilkan 2 alat tes yang berbeda.


Setelah sampai rumah, Devan segera menuju lantai atas di mana kamarnya berada.


Ceklek.


Pintu di buka dari luar.


''Sayang, coba kamu tes dulu,'' ucap Devan menyerahkan kantong kresek yang berisi tespack tersebut ke Salsa.


Salsa segera meraih kantong kresek tersebut.


''Kenapa banyak sekali,'' ucap Salsa menatap Devan. Salsa juga di buat melongo oleh tingkah Devan. Devan membeli alat tes kehamilan itu lebih dari 20 pcs.


''Biar kamu ngak ragu sayang. Cepatlah, aku sudah tak sabar ingin tau hasilnya,'' ucap Devan.


Salsa segera berjalan menuju kamar mandi. Sebenarnya ia mual dan pusing, namun ia paksakan untuk melakukan tes itu.


''Bismillahirahmanirohim,'' ucap Salsa memejamkan matanya saat ingin mengangkat alat tersebut. Ia ragu untuk membuka matanya.


Tok tok tok


''Sayang gimana?'' tanya Devan di balik pintu. Salsa segera membuka matanya dan ia terkejut dengan hasilnya.


Salsa segera keluar dari dalam kamar mandi dengan ekspresi sedih. Devan sudah tau jika apa yang di harapkan belum terwujud.

__ADS_1


''Ngak papa, kita coba lagi,'' ucap Devan menengkan istrinya.


''Mas aku hamil,'' teriak Salsa dengan heboh. Devan sampai di buat kaget olehnya.


''Beneran yank?'' tanya Devan meraih tespack dan melihatnya.


''Alhamdulillah sayang,'' ucap Devan mengangkat tubuh Salsa dan di buat berputar-putar.


''Mas turunin, aku takut jatuh,'' ucap Salsa.


''Terima kasih sayang,'' ucap Devan mencium wajah Salsa.


Hoek hoek.


Salsa berlari lagi ke kamar mandi. Perutnya seperti di aduk-aduk rasanya.


''Sayang aku panggilkan dokter ya,'' ucap Devan memijat tengkuk Salsa.


''Kita ke rumah sakit saja sayang. Aku ingin melihat anak kita,'' ucap Salsa.


''Oke, kita ke rumah sakit sekarang,'' ucap Devan.


Mereka pun pergi ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit mereka segera masuk ke dalam ruangan dokter kandungan karna Devan sudah mendaftar lewat online.


''Salsa,'' ucap lelaki yang memakai jas putih sedang berada di ruangan tersebut.


''Kenapa harus bertemu dia sih,'' gerutu Salsa dalam hati.


''Kayaknya kita salah ruangan deh,'' ucap Salsa kepada Devan.


''Kita ngak salah ruangan sayang. Kita kan mau melihat perkembangan anak kita,'' ucap Devan mengelus perut rata milik Salsa. Tanpa sengaja ia memberi tau Malik jika Salsa sudah menikah.


''Sa, apa maksudnya Devan ini?'' tanya Malik mendekat ke arah Salsa. Namun Devan segera menarik Salsa dalam pelukannya.


''Kami sudah menikah. Dan saya berharap anda profesional dalam bekerja,'' ucap Devan menatap Malik dengan tajam.


''Sa, apa benar---


''Ya kami sudah menikah!'' ucap Salsa membenarkan ucapan Devan.


''Aku ngak nyangka kamu begitu cepat melupakan aku Sa, bahkan sampai detik ini pun aku belum bisa melupakan kamu,'' ucap Malik terlihat kecewa.


''Maaf Pak Dokter yang terhormat. Kami kesini ingin memeriksa kandungan, bukan untuk mendengarkan curhatan anda,'' ucap Devan terlihat kesal.


''Saya tidak berbicara dengan anda Tuan Devan,'' ucap Malik yang menatap Devan dengan tatapan tajam.


''Anda berbicara dengan istri saya, itu berarti anda berbicara dengan saya juga,'' ucap Devan yang sudah tersulut emosi.


''Sudah sudah. Kita cari rumah sakit lain saja,'' ucap Salsa menarik Devan untuk pergi dari sana. Malik hanya menatap mereka dengan tatapan kecewa, sedih dan patah hati tentunya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2