
''Jangan bahas masa lalu Cha. Kamu tidak tau masa muda Mama,'' ucap Mama menatap tajam anaknya.
''Chaca tau Ma. Kisah kita hampir sama, jadi restui kami,'' ucap Chaca memelas.
Mama Luna menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak mau jika Chaca jatuh ke lubang yang sama seperti dulu waktu Chaca masih dengan Haris. Tapi jika Mama Luna tidak merestui hubungan mereka kasian Chaca hamil tanpa seorang suami.
''Oke, Mama akan merestui hubungan kalian. Tapi dengan 1 syarat,'' ucap Mama Luna yang merasa di bohongi oleh anaknya.
''Syarat apa sih ma?'' tanya Chaca penasaran.
''Ikut Mama sekarang.'' Mama Luna lalu menarik tangan Chaca. Chaca menurut begitu saja. Dia tidak tau ingin di bawa kemana oleh Mama Luna. Sedangkan Devan mengikutinya di belakang.
''Kita mau kemana sih ma?'' tanya Chaca penasaran. Chaca sangat penasaran mau di bawa kemana dia. Sedangkan Mama Luna hanya diam saja.
''Ma,'' ucap Chaca.
''Diamlah Cha, jangan ganggu Mama. Mama fokus nyetir ini,'' ucap Mama Luna di buat sebal oleh rengek an Chaca.
Setelah perjalanan beberapa menit akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Medika. Jantung Chaca berdetak lebih cepat. Chaca bertanya-tanya apa dia akan ketahuan berpura-pura hamil.
''Ma, kenapa kita ke rumah sakit?'' tanya Chaca pura-pura tidak tau.
''Mama ingin lihat calon cucu Mama,'' ucap Mama dengan senyum misteriusnya.
''Ma, kita pulang aja ya.'' Bujuk Chaca.
''Enggak Cha. Mama mau lihat cucu Mama.'' Mama Luna kekeh pada pendiriannya.
Chaca takut jika ketahuan Mama Luna saat ia berbohong. Padahal dia berbohong hanya ingin menikah dengan Devan. Jika Mama Luna tau ia berbohong sudah bisa di pastikan ia tidak akan mendapat restu dari sang mama.
''Ayo turun, kenapa malah bengong,'' ucap Mama Luna.
''Ma, pulang aja yuk. Masih tadi pagi lo aku keluar dari sini. Dan sekarang udah kesini lagi. Malu lah ma.'' Rengek Chaca memberi alasan terbaik.
''Ngak papa Cha. Mama cuma ingin lihat cucu Mama kok. Bener ada ngak disini,'' ucap Mama Luna sambil menunjuk perut rata Chaca.
__ADS_1
Gleg
Chaca menelan salivanya susah payah. Ia takut jika Mama Luna tau jika ia berbohong. Chaca masih duduk di kursi samping kemudi. Ia membayangkan jika ia tidak di restui dengan Devan.
''Ma kan Chaca udah bilang kalau Mama mau punya cucu. Mama ngak percaya dengan ucapan Chaca,'' ucap Chaca
''Bukan mama ngak percaya. Cuma memastikan saja jika kamu tidak berbohong Cha,'' ucap Mama Luna dengan menyunggingkan senyumnya.
''Ayo turun.'' Mama Luna mengulurkan tangannya. Membantu Chaca untuk turun dari mobil. Chaca menurut saja, ia tidak mau Mama Luna terus curiga kepadanya.
''Ma besuk aja ya. Chaca takut,'' ucap Chaca memelas.
''Kenapa takut? kan disini ada mama ada ca lon sua mi mu ju ga,'' ucap Mama Luna menekan setiap katanya. Chaca hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak mungkin bisa lari dari kenyataan ini. Mama Luna terlalu pintar.
''Tamat sudah riwayatku.'' Batin Chaca di dalam hati. Mereka berjalan menuju ruang pendaftaran, setelah beberapa saat nama Chaca di panggil untuk di periksa. Saat ini mereka berada di dalam ruangan periksa, jujur ia takut saat ini. Takut kebohongannya terbongkar dan impian menikah dengan Devan menjadi sia-sia.
''Bagaimana Dok keadaan cucu saya?'' tanya Mama Luna antusias.
''Cucu?'' tanya Dokter dengan dahi kerkerut.
''Nona Chaca tidak hamil, Mungkin Nona Chaca hanya telat datang bulan saja. Tapi beliau tidak hamil.'' Dokter menjelaskan. Sedangkan Chaca hanya menundukkan wajahnya saja. Devan memilih menunggu di luar.
''Cha, apa kamu membohongi Mama?'' tanya Mama penuh selidik. Chaca hanya diam, ia benar-benar takut terkena amukan sang Mama.
''Jawab Cha!'' Bentak Mama Luna.
''Maafin Chaca ma,'' ucap Chaca pelan, masih menundukkan kepalanya.
''Syukurlah. Untung mama lebih cerdas dari pada kamu Cha.'' Batin Mama Luna bersorak gembira.
''Jadi kamu bohongi Mama Cha. Mama benar-benar kecewa sama kamu,'' ucap mama Luna sok sedih. Padahal dalam hatinya ia bersorak gembira karna anaknya tidak hamil di luar nikah.
Sesudah periksa kandungan, Chaca di ajak paksa oleh Mama Luna untuk pulang. Devan juga harus ikut pulang ke rumah Chaca. Di sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Mereka berperang dengan pikiran masing-masing. Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah keluarga Bora.
''Maaf, Mama belum bisa merestui hubungan kalian,'' ucap Mama Luna datar.
__ADS_1
''Ma.'' Rengek Chaca.
''Kalian sudah membohongi Mama,'' ucap Mama Luna.
''Tapi Ma, oke Chaca minta maaf karna sudah membohongi Mama. Tapi Chaca mohon restui hubungan kami Ma,'' ucap Chaca yang sudah ingin menangis.
''Kamu kan tau Cha, Mama paling tidak suka di bohongi. Jadi please hargai keputusan Mama.'' Mama Luna berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan Chaca dan Devan. Baru beberapa langkah Mama Luna mendengar ada sesuatu yang jatuh.
Brukk
''Chacaa!'' teriak Devan spontan. Chaca sudah tak sadarkan diri dan jatuh ke lantai.
''Chaca,'' ucap Mama Luna setengah berlari ke arah Chaca.
''Chaca kamu kenapa?'' tanya Mama Luna panik. Devan segera mengangkat tubuh Chaca ke sofa. Mama Luna mengambilkan minyak angin untuk Chaca dan mengoleskannya tepat di dekat hidung Chaca, agar Chaca segera sadar. Selang beberapa menit Chaca mengerjabkan matanya.
''Cha,'' ucap Mama Luna.
''Ma restui kami,'' ucap Chaca tiba-tiba dengan tatapan memohon. Mama Luna menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini ia berada di posisi yang sulit.
''Mas bagaimana ini. Apa aku harus melanggar janjiku padamu? aku takut jika aku melarang Chaca untuk tidak menikah dengan Devan, Chaca berbuat hal yang nekad. Tapi jika aku merestui hubungan mereka bagaimana dengan keluarga Sanjaya, mereka sudah menaruh harapan kepada keluarga kita. Aku butuh kamu mas. Semoga keputusanku kali ini tidak salah mas.'' Batin Mama Luna sedih saat tidak ada yang bisa di ajak bertukar cerita.
''Mama akan restui hubungan kalian tapi dengan 1 syarat,'' ucap Mama Luna.
''Kenapa harus syarat lagi sih Ma. Tinggal bilang iya apa susahnya.'' Chaca sedikit kesal kepada mamanya.
''Mau di restui apa tidak?'' ucap Mama Luna menatap tajam putri semata wayangnya.
''Iya deh iya,'' ucap Chaca pasrah.
''Syaratnya Devan harus pindah ke perusahaan cabang selama tiga tahun. Jika dalam waktu tiga tahun hubungan kalian baik-baik saja kalian boleh menikah. Tapi Jika hubungan kalian putus di tengah jalan Mama yang akan memilihkan jodoh untuk kamu Cha,'' ucap Mama Luna menatap Chaca.
*
*
__ADS_1
Jangan lupa kasih kopi dan bunga. Biar othor tambah semangat nulisnya