
Amel dan Alshad sudah memberi tahukan bahwa mereka akan mengambil alih kedua organisasi Mama dan Papanya. Pertama mereka sangat terkejut namun mereka bersorak senang karena sudah lama Liah dan Leo ingin bermain main dengan namanya pistol dan pisau lipat yang dipajang kedua orang tuanya diruang bawah tanah.
Sudah dua hari kedua bocah tersebut memulai latihan yang setara dengan umur mereka namun tak ada bandingannya bagi Liah dan Leo, mereka bahkan tidak menangis saat tergores pisau lipat miliknya sendiri. Bahkan mereka sangat suka air kental yang bernama darah.
Liah dan Leo duduk bersandar dipinggir tembok latihannya menembak, Liah mengelap darah yang keluar dari tangan kirinya dengan sapu sangan, untuk dijadikan koleksi darah hari ini.
"Huh andaikan saja, kakak itu ada disini. Mungkin seru!" Ucap Liah lirih sambil tersenyum.
"Kakak siapa maksud kamu?" Tanya Leo penasaran.
"Hmm kakak yang nolong Liah waktu tangan Liah berdarah, dia baik banget sama Liah!" Ucap Liah tersenyum.
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Leo.
"Liah nggak tau, kemarin dia pamit sama Liah kalau dia akan pergi!" Ucap Liah sedih.
Flashback On.
Liah sedang berjalan jalan sendirian menyusuri lorong kelasnya yang masih sepi karena pagi, tiba tiba ada seseorang menepuk bahunya membuat Liah berbalik.
"Eh, apa apa kak?" Tanya Liah tersenyum.
"Nggak ada apa apa Kok, aku senang bertemu denganmu. Dan semoga nanti kalau kita dewasa bertemu kembali!" Ucap Anak laki laki itu.
"Memangnya kakak mau kemana?" Ucap Liah sedikit sedih.
"Ntahlah, aku juga tidak tau. Yang pasti akan jauh dari sini, dan kakak ingin kamu jaga ini!" Ucap anak laki laki itu memakaikan kalung keleher Liah.
"Wah cantik, terima kasih kak!" Ucap Liah senang diangguki anak laki laki itu.
__ADS_1
Flashback Off.
"Jadi Liah belum tau siapa namanya?" Tanya Leo dibalas gelengan oleh Liah.
"Yaudah deh, lagian kita kalau dewasa akan bertemu lagi!" Balas Leo diangguki Liah.
Mereka sih berbicara dan tiba tiba Amel dan Alshad datang membawa kotak obat dan dua gelas susu untuk Liah dan Leo.
"Kalian jangan terlalu ambisi untuk latihan ini, Mama dan Papa tidak mengharuskan kalian menguasai dunia ini karena bisa dinonaktifkan!" Ucap Amel lembut.
"Iya dan Papa sama Mama tidak mau kalau kalian sampai kenapa napa kalau dewasa nanti!" Ucap Alshad.
"Tenang saja Papa, Mama ini menyenangkan!" Ucap Leo diangguki Liah.
"Lagi pula ini tidak sakit, iya tidak Kak?" Tanya Liah diangguki Leo.
"Pastinya, dan kegantengan Leo nggak ada yang nandingi!" Ucap Leo bangga.
"Mama dahi Liah kegores nggak mengurangi kadar kecantikan Liah kan?" Ucap Liah menyibakkan ponynya membuat Amel dan Alshad terkejut.
"Astaga ini dalam sekali!" Ucap Amel langsung membersihkan lukanya dan menutupnya dengan kapas.
"Liah masih cantik kan?" Tanya Liah lagi.
"Kalian memang cantik dan ganteng yang setiap hari makin bertambah tidak bisa kurang!" Ucap Amel terkekeh kecil.
"Gantengan Leo kan?" Tanya Leo melirik Papanya.
"Jelas ganteng Papa, kalau Papa tidak ganteng pasti Leo juga tidak akan setampan Papa!" Ucap Alshad sombong.
__ADS_1
"Dasar sombong!" Cibir Leo pelan.
"Hei apa? Kau bicara apa tadi?" Tanya Alshad kesal.
"Leo tampan, Papa jelek! Narsis lagi!" Ucap Leo kesal membuat Alshad membulatkan matanya.
Busyet anak siapa sih ini??~Batin Alshad tak habis pikir oleh kelakuan anaknya.
•
•
•
•
•
•
•
•
•
Okeh okeh, author jadi sedih nih. Akhir akhir ini like nya makin berkurang aja huaaa.. komentarnya juga makin sepi humm😐.
Bantu dukungan semangatnya dung kakak, kasih like and komentar nya makasih😊
__ADS_1