
Dengan tergopoh-gopoh Amel dan Alshad berlari menghampiri Liah yang masih mual, Amel melepas jubahnya yang penuh dengan darah ke sembarang tempat, kemudian memeluk anaknya.
"Loh kenapa ini, kok bisa gini?" Ucap Amel memijit tengkuk Liah.
"Nggak tau Ma, setiap lihat mayat tanpa kepala pasti gitu.. Hoekkk.. " Ucap lemas Liah.
"Astaga.. putri mafia kok gini sih?" Ucap Amel geleng geleng kepala.
"Apa mungkin gara-gara Liah udah lama gak bunuh orang Ma?" Pertanyaan Leo membuat Amel dan Alshad menatap kearahnya.
"Iya, terakhir kali mungkin Liah membunuh orang waktu kecil, lalu pindah ke negara B!" Ucap Alshad mengangguk angguk.
"Bisa jadi, dan untuk penyembuhannya.. kamu berlatihlah, nanti kan ada satu penghianat. Nah Liah bisa bunuh itu!" Ucap enteng Amel membuat Alshad geleng-geleng kepala.
"Iyaa Ma!" Jawab singkat Liah kemudian digendong Leo masuk mobil untuk ke markas BL.
"Mama sama Papa nggak ikut?" Tanya Liah yang sudah sedikit segar.
"Nggak, Mama sama Papa mau disini aja dulu. Kalian kesana kalau sudah selesai kembali kesini, kita pulang ke mansion!" Ucap Amel diangguki Liah dan Leo.
Leo mengambil alih mobil kemudi, Leo menjalankannya ke Markas utama Black Lion. Ditengah jalan ada mata-mata yang tak sengaja dilihat Liah.
"Oik, berhenti dulu Bang!" Ucap Liah mengamati pergerakannya.
"Apaan sih lo, masih 100 meter lagi dek." Ucap Leo ingin menginjak pedal ditahan Liah.
"Ada mata-mata, buka sedikit kaca mobilnya!" Ucap Liah diangguki Leo.
Liah mengeluarkan senapan jarak jauh miliknya, bisa bisanya penjagaan dimarkas kurang terjaga, hingga ada yang memata-matai markas BL dengan aman. Dia membidik kaki orang tersebut kemudian menarik pelatuknya.
Dorr..
Tepat sasaran membuat orang tersebut kaget dan kesakitan mencoba kabur namun tak bisa.
"Kena, bang urus.. didashboar ada obat bius satu!" Ucap Liah menimbulkan senyum smirk milik Leo.
"Makasih adikku sayang!" Ucap Leo dibalas deheman oleh Liah.
"Hmm!" Leo segera turun sambil membawa kain yang sudah diberi obat bius.
Leo berjalan santai sambil melangkahkan kaki, membuat orang misterius tersebut ketakutan. Liah melihat seseorang lagi yang akan membidik Leo dari belakang membuat Liah terkejut kemudian menembak orang tersebut tepat pada jantung.
"HOI SIALAN!" Teriak Liah keluar mobil kemudian menarik pelatuknya.
Dorr...
"Mmpos.. gitu sok mau nembak orang, Cih!" Desis Liah kemudian masuk mobil meninggalkan Leo yang sedang mengelus dada lega.
__ADS_1
"Untung kagak mati." Gumam Leo langsung mengurus orang tersebut meninggalkan mayat temannya yang tak jauh darinya.
_____________________
Liah masuk markas dengan emosi, dia menembak kaca atas menimbulkan kehaduhan sehingga para mafioso langsung berkumpul.
"Kalian kemana saja? Dimana penjagaan diluar markas?" Ucap Liah yang sedikit samar karena menggunakan masker.
"Maaf Queen!"
"Kalian tau kalau ada penyusup yang berhasil melewati batas awal?" Hardik Liah membuat semua terdiam.
"50 orang keluar sekarang, sterilkan keadaan luar, ada banyak penyusup yang sudah masuk. Dan berikan keamanan didepan perbatasan!" Titah Liah tak terbantahkan diangguki mafioso yang ketakutan.
Liah kemudian masuk keruangannya, dia terkejut saat melihat Viani, Neona, Celsea dan Valley yang tertidur di kasur nya dengan damai.
"Ehmm.. kegaduhan tadi nggak membuat mereka bangun!" Kesal Liah kemudian mengambil toa.
"HOII... BANGUN ADA PENYUSUPP!!" Teriak Liah kesal kemudian mereka bangun dengan tergopoh-gopoh mengambil senjata.
"Dimana? kapan?" Ucap Valley setengah sadar.
"Liah lo ngerjain kita ya?" Ucap Celsea mengucek matanya.
"Yang bercanda siapa ogeb. Sekarang pake masker atau topeng kalian, gue tunggu diruang bawah tanah segera!" Titah Liah diangguki semuanya.
"Selamat datang Nona muda!" Ucap penjaga ruang bawah tanah dibalas deheman oleh Liah.
"Hmm.. dimana Leo meletakkan 'dia" Ucap Liah datar.
"Diruangan sebelah kanan nona, mari saya antar!" Ucap mafioso.
"Tidak perlu, terima kasih." Singkat Liah kemudian masuk keruangan bertuliskan B2.
Disana sudah ada seseorang yang duduk lemas ditempatnya beserta luka cambuk dan sayatan ditubuh nya membuat Liah makin tersenyum smirk.
"Liah, lo mau main sendiri atau sama kita?" Tanya Celsea yang melihat manik mata Liah yang berubah ungu.
"Panggil Leo, dia akan main sama gue. Kalian introgasi mata-mata di B4 lalu bunuh!" Dingin Liah membuat lainnya mengangguk pasrah dan pergi.
Liah mendekati orang tersebut dengan langkah kaki pelan membuat orang tersebut ketakutan dan menunduk. Liah mengangkat dagu orang tersebut dengan pisau miliknya.
"Siapa yang menyuruhmu menjadi penghianat?" Ucap Liah datar namun lembut.
Orang tersebut hanya diam ketakutan hampir membuat Liah iba namun karena ia menahan hasrat darah yang sudah lama tak ia dapat kan membuatnya tak mengenal kata iba.
"Jawab atau gue lukain anak istri lo!" Ancam Liah mengelus pistol yang ada ditangan kirinya.
__ADS_1
"Maa.. Maaf nona, Sebenarnya saya adalah anggota Snow White, karena ketua saya sangat baik, jadi saya mengabdi untuk membantunya mencari identitas anda dan saudara anda nona." Jawab nya jujur membuat Liah menghembuskan nafas kasar.
"Lo tau kan, isu ketua Black Lion dan Black Swan?" Ucap Leo datar.
"Mereka tak melepaskan penghianat!" Jawabnya menunduk takut.
"Hahaha bahkan kau sudah tau!" Ucap Liah setengah mengejek lalu menyayat tubuh orang tersebut.
"Tahanlah.. ini nggak akan sakit!" Bisik Liah tertawa senang.
Leo tersenyum miring kemudian memotong jari-jari orang tersebut membuatnya berteriak kesakitan.
tukk..tukk..tukk..
"AAAAHHH.. BUNUH SAJA AKU!" Teriaknya.
Jari jari tersebut kini telah hilang, Leo tersenyum melihat hasil karyanya. Sedang kan Liah, anak tersebut tersenyum manis ketika darah tersebut muncrat kekeningnya.
"Apa lo mau tau wajah gue dan kembaran yang asli sebelum lo tiada?" Ucap Leo sinis kemudian membuka topeng miliknya, begitu juga Liah yang membuka maskernya.
"Bagaimana, mau lapor pada ketua mu?" Ucap Liah tersenyum manis, orang tersebut bahkan terpana sebelum meninggal karena kehabisan darah.
"Huanjay udah mati aja, baru mau gue mutilasi!" Ucap Liah kecewa.
"Gak apa apa yang penting lo gak mual lagi!" Ucap Leo kemudian mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Liah namun Liah hindari.
"Oi, tangan lo penuh darah mau pegang inces!" Ucap Liah membuat Leo kesal.
"Inces.. inces.. mana ada inces yang kelakuannya begini?" Kesal Leo dibalas kekehan oleh Liah.
Mereka asik bercanda, kemudian Viani, Celsea dan Neona kembali dengan muka ditekuk.
"Oi nape lu tong!" Ucap Liah bersandar didinding.
"Valley keterlaluan, kita belum dapet inpo udah main dibunuh aja tuh orang!" Kesal Neona.
"Hooh padahal gue mau bikin sate jari buat gue kasih ke orangnya sendiri!" Timpal Celsea.
"Tau tuh!" Viani makin kesal.
"Eh enak aja lu bilang gue yang bunuh, oi dianya aja yang lemah, baru disayat dikit aja mampos!" Bella Valley tidak terima.
"Gimana kagak mampos, orang lo nyayat pas nadi nya O'on!" Kesal Celsea membuat Liah dan Leo geleng geleng kepala.
"Yaudah si gak apa apa. Kita makan makan, gue traktir deh!" Ucap Leo membuat Liah berbinar.
"Ayoo!"
__ADS_1