
Angin Malam dingin berhembus menerpa rambut coklat milik Amel, saat ini ia sedang membawa gitar kesayangannya dibalkon kamarnya. Rambut panjang Amel ikut terbang searah dengan angin yang menerbangkan rambutnya. Malam hari yang sunyi, mewakili hati seorang gadis yang tengah merasakan kesedihan yang mendalam ini. Banyak yang bilang kalau terlalu alay bin lebay? biarkan. Karena hati manusia tidak bisa ditebak.
Ia mulai memetikan senar senar gitar kesayangannya. Sambil bernyanyi, mengambil nafas lalu membuangnya berlahan.
~Kenanglah Aku..
Karamnya cinta ini.
Tenggelamkanku di duka yang terdalam
Hampa hati.. terasa..
Kau tinggalkan ku meski ku tak rela.
Salahkah diriku hingga saat ini?
Ku masih mengharap kau tuk kembali.
Mungkin suatu saat nanti.
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku.
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu.
Karamnya cinta ini.
Tenggelamkanku di duka yang terdalam
Hampa hati.. terasa..
Kau tinggalkan ku meski ku tak rela.
__ADS_1
Salahkah diriku hingga saat ini?
Ku masih mengharap kau tuk kembali.
Mungkin suatu saat nanti. hiks..
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku. hiks..
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu.
Jrengg!!
Petikan terakhir membuat Amel tak bisa melanjutkan nya berlama lama lagi, air mata yang ia pendam akhirnya turun juga setelah menyanyikan lagu tersebut. Tanpa ia sadari beberapa pasang mata sedang melihatnya dari kamar dan ikut merasakan kesedihan yang dialami Amel.
"Dek, lo jangan terlalu larut dalam kesedihan dek, kasian Ronald." Ucap Lindra.
"Iya sayang kamu harus ikhlas, kasihan Ronald disana." Ucap Marisa, sedangkan Ryan hanya bisa mengelus sayang rambut putri nya.
"Sayang ini juga bukan kemauan Ronald nak, Ronald tiada atas kehendak tuhan, karena mungkin tuhan lebih menyayangi Ronald." Ucap Marisa tersenyum.
"Hiks.. hiks.. maafin gue Ronald." Ucap Amel lirih.
"Udah lah dek, btw tadi lo main gitar enak juga, kapan kapan duet lah ma gue." Ucap Lindra berusaha menggoda adiknya.
"Paan sih orang lu ngga bisa maen gitar sok sok an ngajak gue duel." Ucap Amel ketus membuat semua tersenyum, Amel sedikit lupa tentang masalahnya.
"Bodo penting ganteng." Ucap Lindra pd.
"Ganteng kok jomblo." Cibir Amel lalu pergi mengambil snack di kulkas kamarnya.
"Dih kalau ngomong pedes amat." Ucap Lindra
__ADS_1
"Tanya Daddy!" Ucap Amel singkat.
"Loh loh kok daddy ikut ikutan?" Ujar Ryan bingung.
"Mommy dulu ngidam apaan sih?" Tanya Lindra kesal akhirnya Ryan paham.
"Hahaa daddy tau, nih pasti efek ngidam bakso yang dulu dalemnya ada sambelnya itu mungkin." Ucap Ryan tertawa, sedangkan Marisa hanya cengengesan
"Iya ya mungkin efek. Wkwkwkw." Ujar Marisa sambil terkekeh.
Sedangkan diluar kamar, Amel dengan amarah yang membludak sedang menelpon seseorang untuk menuntaskan amarahnya kali ini. Dia sudah tak bisa menahannya lagi.
"Hallo Queen?"
"Cari dia sekarang waktu lo 2 × 24 jam dimulai sekarang!" Ucap Amel dingin.
"Tapi dia tak meninggalkan jejak Queen."
"Periksa CCTV yang ada diTKP suruh Roy lacak, gue curiga itu bukan kecelakaan biasa." Ucap Amel datar dingin.
"Ss.. siap Queen."
"Oke cepat atau lo gue bunuh!" Ucap Amel lalu memutuskan sepihak.
Tut.
Maaf karena gue ngga percaya atas kematian lo Nald. Gumam Amel pelan lalu masuk kamar lagi.
"Habis dari mana sayang?" Tanya Marisa
"Diluar tadi mau ambil barang tapi lupa jadi balik lagi deh." Ucap Amel bohong ia lupa kalau sang mommy bisa tau.
Mommy tau nak, mungkin berat bagi kamu. Setidaknya lupakan luka, buka lembaran kehidupan baru!
__ADS_1
"Oh yaudah kamu tidur gih dah malam." Ucap Marisa lalu mencium kepala Amel.
Apa aku salah pendapat menjadikan Amel penguasa mafia ku?