
Hari ini tepat hari dimana hari pertunangan Liah dan Valley diadakan disalah satu Hotel milik keluarga Valley. Tak banyak yang datang, mungkin hanya keluarga terdekat saja. Liah nampak cantik menggunakan mini dress tanpa lengan dan sepatu sneakers putih. Kini dia berada di luar hotel dengan perasaan khawatir. Acara hampir mulai namun keluarga Valley tak kunjung datang. Beberapa kali ia menelpon Valley namun hanya berdering tak diangkat.
"Mama.." Lirih Liah.
"Tenang oke." Ucap Amel tersenyum sambil mengecup dahi Liah.
Tringg..
Liah mengerinyitkan dahi melihat pesan dari Valley yang tadi sempat tak aktif ponsel nya. Dia membaca pesan itu dengan hati yang sudah campur aduk kek es teler end es doger.
Valleyrn Filbert.
Saatnya lo tau kebenarannya Liah, gue sengaja nggak datang demi kebenaran ini. Temui Elang di rumah sakit Adijaya sekarang atau lo gak bakal bisa ketemu dia selamanya! Maaf from Valley♥
Mata Liah berkaca-kaca melihat pesan dari Valley, dia manatap sang kakak, Papa dan Mamanya bergantian. Namun mereka semua hanya memalingkan wajah karena sudah tau kebenarannya.
"Kalian semua tau kebenarannya tapi merahasiakan ini dari Liah. Kenapa??" Ucap Liah dengan nada tinggi dan deraian air mata.
"Nggak gitu dek, ini semua bukan gue atau yang lain rencanain. Tapi ini semua kemauan Elang sendiri!"
__ADS_1
Hati Liah sudah hancurr, dia tak menyangka kenyataan ini. Ia kira Elang adalah pria brengsek yang cuma memberikan harapan palsu. Namun, ternyata dia menyembunyikannya karena ada penyakit yang belum diketahuinya.
"Dengan ini malah makin membuat gue benci diri sendiri karena udah memfitnah Elang."
Leo menundukan wajah nya, "Temui dia, kalung yang lo pake jadi jawaban!" Singkat Leo.
Liah mengangkat wajahnya tinggi, dia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Selama ini, setiap detik setiap menit setiap waktu.. dia bertemu dengan orang yang ia sayang dimasa lalu. Anak laki laki tampan yang selalu datang disaat ia membutuhkan. Anak laki laki tampan dan baik yang memberikan kalung untuk salam perpisahan. Tanpa sepatah kata apa pun Liah langsung berlari menuju mobil tanpa memperdulikan panggilan Amel dan Alshad.
Dengan melajukan mobil diatas rata-rata. Dia sampai di rumah sakit dengan mata sembab. Dia berlari ke resepsionis, dan seperti dugaannya, pihak keluarga Elang merahasiakan kamar Elang saat ini.
"Maaf mbak, kami dilarang memberi tahukan kamar pasien."
"Maaf ini rumah sakit, mohon jangan ribut!" Ucap Resepsionis kembali.
"Gue beli rumah sakit lo brengsekk!!" Umpat Liah kesal.
Resepsionis memanggil securiti untuk menyeret Liah keluar dari loby rumah sakit. Sebelum Securiti menangkap Liah, Liah sudah terlebih dahulu menghabisi securiti tersebut dengan menendang bagian ulu hati sehingga membuat nya sulit bernafas.
"Liah stop!"
__ADS_1
Seseorang wanita paru baya menghampiri Liah dengan wajah sendu, ia langsung memeluk tubuh Liah erat sambil menangis. Liah hanya diam tak bergeming, air matanya sedari tadi menetes membasahi pipi mulusnya.
"Tante, Liah jahat tante.." Lirih Liah yang terdengar menyakitkan.
"Nggak! Ini semua salah tante sayang, tante yang menyetujui untuk merahasiakan ini dari kamu!" Shella menangis sesenggukan.
"Elang juga menyesal udah buat kamu salah paham, Elang mau minta maaf sama kamu. Tapi..
"Tapi apa tante?!" Ucap Liah menyela perkataan Shella dengan lirih.
"Elang sekarang koma!"
Liah kembali menangis, dia membogem tembok loby rumah sakit keras hingga tembok itu sedikit mengelupas dan darah segar mengalir dari tangan mulus Liah.
"Gue bodoh! Gue jahat! Gue beg* Gue nyesel!! Maafin gue Lang!! Hikss..!!" Bahu Liah luruh kebawah, dia memeluk lututnya sendiri dan menangis.
"Tante, boleh Liah Hiks.. lihat Elang?" Ucap Liah sesenggukan.
Shella hanya menangguk tipis saat Liah ingin masuk keruangan anaknya, mereka berjalan menyusuri lorong hingga berhenti di salah satu Ruangan.
__ADS_1