Iam Queen Mafia Girl

Iam Queen Mafia Girl
TEMBAKAN BERUNTUN SEASON 2~REVISI


__ADS_3

"Hahahahaha kalian nggak boleh bahagia! Hanya gue yang boleh sama Alshad nggak ada yang lain!" Ucap Bella Histeris sambil mencondongkan pistol nya kearah Amel.


"Raisa Amartabella!!" Pekik Marisa.


"Tidak lebih tepatnya Ferlandia Wagiswari Amartabella." Ucap Bella menekan kata Amartabella.


Semua tamu undangan disana terkejut sekaligus takut melihat ada senjata api yang dapat menghilangkan nyawa saat itu juga. Alshad ingin menutupi tubuh Amel namun dengan segera dicegah Amel segera, apapun itu Amel ingin melindungi seseorang yang udah hadir di hidup nya. Dia pun pasrah apabila nyawanya diambil oleh sang kuasa yang terpenting orang orang disampingnya berbahagia. Ryan telah menyelamatkan Marisa begitu juga Lindra dengan Jenny, membawanya ketempat aman, saat akan menyelamatkan Amel dan Alshad seruan dari Bella terdengar.


"Hahaa mau nyelametin jala*g hohoho tidak semudah itu." Ucap Bella beralih mencondongkan kearah Ryan.


Tuhan jika ini saatnya hambamu kembali saya pasrah, semoga semua bahagia. Batin Amel mengambil nafas dalam.


"Tidak!! Jangan kau sakiti keluarga ku, bunuh aja gue, gue nggak takut!!" Ucap Amel menantang Bella sedangkan Alshad mengirim pesan kepada anak buahnya segera kemari.


"Tidak kah kau ingat, bagaimana Mommy kesayangan lo merebut semuanya dari Mama gue??" Ucap Bella sinis.


"Bukan Mommy yang merebutnya, tapi Mama lo yang nganggap mommy merebut semuanya!" Ucap Amel santai


"HAHAA MATI AJA LO!!" Teriak Bella.


Dorr..


Dorr..


Dorr...


Brukh.

__ADS_1


Peluru berturuntun dilepaskan oleh Bella tepat pada jantung dan perutnya, dua tembakan diperut satu di jantung membuat tubuh Amel ambruk di pelukan Alshad dengan lumuran darah.


"AMELL!!!"


"HAHAHAA DENDAMKU DAN MAMA TERBALASKAN HAHAA!!!" Teriak histeris Bella saat sudah dibawa anggota gangster Alshad.


"Hahaha aku pamit tidur sebentar ya Kak?" Ucap Amel pelan dan pertama kali memanggil Alshad sebutan Kak.


"Nggak dunia mu masih panjang kamu nggak boleh tidur nggak sayang jangan, kita baru aja jadian." Histeris Alshad meneteskan Air mata lalu menggendong Amel ala bridal style ke mobilnya diikuti semuanya.


"Jangan nangis ntar jelek hahaha, cuma bentaran doang kok kak, aahh..ak..aku cuma ngantuk." Ucap Amel terbata lalu tak sadarkan diri.


"Nggak sayang, tahan kamu kuat!!" Ucap Alshad tak bisa menahan air matanya.


Alshad menggendong Amel lalu memasukan tubuh Amel dimobil, dibaringkan berlahan tubuh Amel dan kepalanya diletakkan dipahanya. Lindra tanpa sepatah kata apapun masuk lalu duduk di kursi pengemudi menancap gas tinggi hingga hanya memerlukan waktu 5 menit dalam jarak 1,5 km.


"SUSTER!! DOKTER!! CEPET BANGSAAT!!!" Umpat Alshad tak tahan karena saat ini Amel tak sadarkan diri.


Dengan berlari tergopoh gopoh pegawai rumah sakit menghampiri dengan mendorong brankar. Alshad meletakkan tubuh Amel di Brankar lalu ikut mendorong sambil sesekali meneteskan air mata. Ditempat lain Lindra mengurus semua kebutuhannya dengan cepat.


"Sayang tolong kamu kuat!" Ucap Alshad dengan fake smile nya.


"Mohon maaf keluarga pasien diharap tenang kami akan melakukan operasi!" Ucap suster lalu menutup pintu Alshad duduk dengan deraian air mata.


"Hiks... kalau dulu bukan karena aku ini semua nggak terjadi. Bodoh!! Gue bodoh!!" Ucap Marisa menutupi kedua matanya lalu bersandar di dinding dan duduk.


"Nggak sayang jangan salahkan diri sendiri, anak kita anak kuat sayang!" Ucap Ryan serak menahan tangis.

__ADS_1


Beda dengan Lindra, dia duduk berdiam. Tak ada yang tau kecuali Jenny yang duduk disampingnya kalau Lindra menangis dalam diam.


Maafin abang dek, abangmu bodoh!! Bodoh!! Nggak bisa jagain lo sebagai tanggung jawab abang! Batin Lindra sambil meneteskan air mata.


"Kak, jangan nangis. Kakak harus kuat!" Jenny duduk bertumpu lutut mengusap air mata Lindra.


"Nggak kok nggak nangis!" Ucap Lindra senyum terpaksa.


"Kakak boleh nangis, lepaskan beban kakak, nggak baik dipendam Jenny ada disini!" Ucap Jenny memeluk Lindra entah apa yang membuat nya menjadi dewasa.


Lindra menangis menjadi jadinya di pelukan Jenny tidak bisa, sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, semua mencucur bak air dipipa yang bocor Jenny hanya bisa mengelus pelan punggung Lindra dengan lembut memberikan ketenangan bagi Lindra. Lindra menangis lama dilakukan Jenny hingga lengan baju Jenny basah. Sedangkan Alshad dia memilih diam atau egonya yang menguasai tubuhnya melakukan hal hal diluar batas.


Satu jam berlalu, semua menatap lampu diatas pintu ruang operasi yang tak kunjung berubah warna membuat semua larut dalam pikiran. Marisa dengan tatapan kosong berderai air mata. Ryan yang mati matian menahan tangis, Lindra yang sesenggukan di pelukan Jenny, juga Alshad yang melamun, menangis juga memikirkan hal balas dendam.


Tring!! Lampu operasi berubah hijau.


Ceklek!!


Seorang dokter senior keluar bercucuran keringat, dan menampakan wajah lesu. Dihujami kekawatiran.


"Maaf!"


Cieee yang lagi nunggu🤣, maap maap segini dulu ya😃. Jangan lupa like, komen, share and Vote😉. Dukungan kalian berarti bagi author thnk you☺


Join GC author walaupun isi penghuninya hampir sengklek semua😲 tapi asik kok😆.


Okeh salam hangat author DeviDy😁

__ADS_1


__ADS_2