Iam Queen Mafia Girl

Iam Queen Mafia Girl
Season 3~KETELITIAN LIAH


__ADS_3

Setelah mendapatkan cilok, Liah dan Elang duduk disebuah bangku taman yang jauh dari kerumunan. Karena jujur, Elang maupun Liah tak suka keramaian yang menurut mereka bisa menyebabkan pusing. Tapi, kedua bocah tersebut sering membuat keramaian.


"Lang!" Panggil Liah disela makannya.


"Apa?" Singkat Elang menoleh sekilas.


"Lo kenapa jadi orang dingin banget, padahal, kalau lu cerewet sih enak diajak ngomong!" Ucap Liah yang hari ini agak mellow.


"Nggak tau!" Jawabnya singkat,


Liah mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Dia menoleh, menatap lekat Elang yang duduk disampingnya dengan damai sambil memperhatikan bintang malam yang berkelip indah saat ini.


"Hufftt.. lo masih ingat ucapan gue waktu pertama kali masuk?" Elang menoleh kearah Liah yang sepertinya serius dalam berbicara.


"Hah, yang pingin ngebuat gue narik kata-kata gue yang gak bakal suka sama lo?" Ucap Elang datar diangguki Liah.


"Humm, dan menurut lo. Gimana kalau gue mundur teratur!" Elang terkejut dan langsung menatap Liah dalam.


"Kenapa?" Gumamnya tanpa sadar.


"Ntah!" Jawabnya singkat dengan pandangan kosong.


Liah memejamkan mata, mencoba berkonsentrasi dalam keadaan saat ini. Dia memperhatikan sekitar, dan tak lama kemudian dia membuka mata nya lebar lebar. Dia segera menarik Elang hingga jatuh kepelukannya, sedetik kemudian suara tembakan terdengar ditelinga keduanya.


"Elang!" Pekik Liah menarik Elang hingga terjatuh.


Brukk..


Dorr,!


Liah memejamkan mata saat wajah Elang sangat dekat dengannya. Mungkin hanya satu senti mukanya dengan muka Elang saling berdekatan dengan Elang menindih tubuh Liah. Elang terkejut saat mendengar suara tembakan yang mengarah kearahnya. Untung nya ketelitian Liah sangat baik, sehingga pelurunya hanya mengenai pohon.


Elang dapat mendengar detak jantung Liah yang sangat cepat. Dia buru-buru bangun dari atas tubuh Liah kemudian membawa Liah ketempat aman.


"Lo nggak apa apa kan?" Tanya Elang khawatir yang melihat siku Liah berdarah.


Liah menggeleng pelan, "I'am fine." Singkat nya membuat Elang terkejut.


Ni bocah kenapa, sifatnya kok gini? nggak se cerewet tadi?


"Siku lo berdarah!" Elang menarik lembut tangan Liah walau nada bicaranya datar.


Liah menarik sikunya kembali, “Gue nggak apa apa!” Jawabnya singkat sambil melihat sekitar.

__ADS_1


"Kita aman, gue pesen sama lo. Jangan lepasin musuh! lebih baik kurung di markas atau bunuh!" Ucap Liah datar membuat Elang benar benar terkejut.


"Markas? maksud lo apaan?" Ucap Elang bingung.


"Snow White, dan luka yang ada didahi lo itu ulah gue!" Singkat Liah berjalan memdahului Elang membuat Elang sangat terkejut.


"Jadi Liah? Leader Black Lion!" Gumamnya langsung berlari mengejar Liah yang sudah jauh.


Tanpa berkata apapun, Elang menggendong Liah dari belakang membuat Liah reflek mengalungkan tangannya dileher Elang.


"Lepasin oi, turunin. Gue jatuh ntar lo dibunuh sama kakak gue!" Ucapnya kembali absurd membuat Elang senang.


"Nggak, lo diem aja." Ucapnya datar membuat Liah merotasikan mata malas.


"Cih, mencari kesempatan dalam kesempitan astetew!!" Cibir Liah membuat Elang kesal dan menurunkan Liah secara perlahan.


"Sakit tau, siku gue kena dada lo!" Kesal Liah memegangi siku nya.


"Mangkanya lo ikut gue!" Ucap Elang dingin membuat Liah mau tak mau mengikuti Elang.


Elang menggandeng tangan Liah menuju rumah nya, dia mengetuk pintu sebelum masuk. Dan saat membuka pintu, suara macam toa masjid yang kebanyakan kemasukan oli pun terdengar, membuat Liah terkedjoet.


"TONG! JAM BERAPA INI TONG.. MALEM MALAM DISURUH BELI CILOK KAGAK PULANG PULANG!!" Teriak Shella membuat Elang menutup kedua telinganya, sedangkan Liah hanya meringis.


Liah tersenyum dan menyalami mama nya Elang, "Enggak kok tan, saya teman sekelas Elang disekolah!" Ucapnya ramah sambil tersenyum.


"Lagian, tadi katanya suruh ngarungin anak orang, bawa pulang, dikawi-


" Ssttt... " Shella mendekap mulut anaknya yang suka asal ceplos.


"Hehehe..kagak kok, ayoo masuk nak!" Ucap Shella menuntun Liah menuju ruang keluarga.


Elang melihat wajah Liah yang biasa saja saat luka ditangannya tersenggol Mamanya. Bahkan meringis atau mengaduh sedikit pun tidak.


"Mama, tangan Liah itu luka. Sekarang mau Elang obatin dulu!" Ucap Elang mencegah Mamanya.


"Yaudah bawa kamar sana, tapi jangan macem macem. Ngerusak anak orang, gua pastiin aset lu jadi sup!" Liah terkekeh melihat interaksi anak dan orang tua tersebut.


Elang menggandeng tangan Liah menuju kamarnya, Elang masuk kemudian menutup pintu, serta mendudukan Liah ditepi ranjang miliknya. Dia mengambil P3K yang ada dikotak obat miliknya.


"Sini gua lihat luka lo!" Ucap Elang manarik pelan tangan Liah.


Elang mulai membersihkan lukanya dengan Alkohol, seharusnya kalau luka yang sudah terkena angin, akan sedikit perih saat terkena Alkohol atau obat merah. Elang melihat wajah Liah yang hanya memejamkan mata, membiarkan Elang mengobati lukanya.

__ADS_1


Elang's Pov.


Ekspresi wajah ini seperti 'Diaa' gadis kecil cantik dan imut yang gue temuin di sekolahan dengan tangan berdarah, gadis yang pertama kali membuatku penasaran atas sosok kuatnya. Gadis kecil yang tak mengeluh saat gua obatin lukanya.


Gadis perpustakaan yang tak sampai mengambil buku dan kesal hingga menggembungkan pipinya karena merasa dia pendek.


"Oh ayolah, percuma cantik kalau pendek! "


Kata-kata gadis itu melintas dipikiran gua, gadis cantik yang gua beri kalung persahabatan saat gua mau berangkat ke negara D sama Mama sama Papa. Tapi apa mungkin Liah itu adalah gadis itu? Tapi tidak mungkin, karena gadis kecil itu berjarak satu tahun dari gua. Sungguh membingungkan.


"Lang oi!"


"Ah Eh, kenapa?" Lamunan gue membuyar dan langsung menatap dalam netra miliknya.


"Ngelamunin apaan sih, ngelamunin kang sabun colek lima ratusan dapet piring?" Ucapnya ngawur makin membuat gua tak percaya, karena sikap 'dia' sangat lah polos. Bukan seperti Liah yang absurd.


"Nah kan, kesambet demit nya mohon toge m*mpus kau!" Ucapnya kesal.


"Apaan sih, nih udah selesai." Matanya melihat luka nya yang telah gua balut kasa.


"Okeh, thanks. Em.. gua boleh minta tolong anterin pulang nggak?" Tanya nya dengan muka memelas.


"Nggak!" Ketus gue.


"Cih, yang bawa kesini siapa hayo?" Ucapnya menoel pipi gue.


Plakk..


"Jangan pegang pegang!" Rupannya ucapan gue hanya dibuat angin lewat dengannya.


"Lang, gue minta maaf sama luka yang gue buat. Dan semoga lu bisa ngerahasiain identitas gue!" Ucap nya menunduk dalam.


"Its ok, lagian gue yang mulai nyerang dulu!" Jawab gue santai.


Dia mengangguk kemudian berdiri dari duduknya menuju keluar kamar.


"Eh mau kemana lo?"


"Pulang lah!" Balasnya dongkol


"Naek apaan?"


"Onta!"

__ADS_1


"Cih, gua anterin!"


__ADS_2