
"Maksud lo 4 Leader Snow White itu siapa aja?" Tanya Elang penasaran.
Liah mengambil nafas panjang, "Gue mau jelasin kalau organisasi kita bisa damai." Ucap Liah dingin.
Elang menatap khawathir ke arah Liah, mood nya benar benar jatuh saat ini. Elang takut kalau sewaktu-waktu ego Liah kembali bangkit, bisa saja dia yang terbunuh saat ini, karena Liah membawa pisau lipat.
"Gue gak pernah cari musuh Liah, gue cuma penasaran sama Leader Black Lion setelah Tante Amel yang ternyata Mama lo!" Ucap Elang bersandar di tembok.
"Hmm." Hanya deheman yang keluar dari bibir nya.
Elang yang hanya diam menatap Liah, dia pun menjadi frustasi karena tak bisa keluar dari gudang ini, harusnya dia yang menyelamatkan Liah, bukan Liah yang menyelamatkan kan nya. Dia beberapa kali mendobrak pintu tersebut namun hasilnya tetap nihil.
Brakk.. Brakk..Brakk.. Dugh!!
"Cih, ini pintu apa pagar beton sih?" Kesal Elang setelah menonjok pintu, dia duduk berjongkok karena kelelahan.
"Lo sendiri ngapain nonjok-nonjok pintu segala, kasihan pintunya kali!" Ucap datar Liah tanpa menatap Elang.
"Kalau nggak gitu, kita gak bisa keluar." Ucap Elang kesal.
"Siapa bilang, lo lihat sono belakang lo!" Ucap Liah datar memalingkan wajah.
"Hah, kenapa lo gak bilang kalau ada jendela dari tadi?? Tau gini gue gak ngabisin tenaga buat ngedobrak pintu." Ucap Elang dongkol sedongkol dongkolnya namun hanya dilirik Liah.
"Lo gak nanya," Sinis Liah.
"Gue mohon, lo jangan jauhin gue!" Ucapan yang ditunggu tunggu Liah akhirnya terlontar dari bibir Elang.
"....."
"Liah, gue suka sama lo!" Ucap Elang pelan.
__ADS_1
"Gak denger, gue merem." Ucap datar Liah.
"Gue serius Liah, Gue suka sama lo!!" Ucap Elang setengah berteriak.
"Oh," Jawab singkat Liah memejamkan mata.
"Oh doang?" Ucap Elang tak habis pikir.
"Kepala gue pusing, Elang. Lo nggak tau seberapa sakitnya gue dan Leo waktu nahan emosi biar nggak kelepasan." Bentak Liah kesal, saat ini benar benar sakit sekali kepalanya.
"Okeh, maaf." Ucap Elang mengalah.
Elang berjalan mendekati Liah, kemudian duduk disamping Liah, Liah mendengar suara kaki yang mendekat kearahnya, dan dalam hitungan detik.
Hap!
Tangan Elang yang berusaha memegang dahi nya pun Liah tangkap sempurna tanpa membuka mata membuat Elang makin tersenyum manis.
"Ketelitian lo perlu diakui!" Ucap Elang lembut membuat Liah perlahan melunak.
"Sini deh kepala lo, baring di paha gue!" Ucap Elang menarik tubuh Liah perlahan.
Semacam hipnotis, Liah mengikuti perkataan Elang. Liah membarinkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Elang, dia merasakan ada sentuhan lembut di dahinya membuat rasa pusing tersebut perlahan hilang.
"Gimana, udah enakan?" Tanya Elang lembut.
"Udah, makasih!" Ucap Liah lembut tanpa membuka mata.
"Gue harap lo nggak ngejauhin gue." Ucap Elang membuat Liah membuka kedua matanya dan langsung merubah posisinya menjadi duduk.
"Gue gak ngejamin." Ucap datar Liah dihadiahi hembusan nafas kasar oleh Elang.
__ADS_1
"Gue nggak ada hak buat ngatur hidup lo, gue nggak berhak buat kasih sifat manis ke lo, gue nggak berhak deket sama lo. Tapi, hari ini semua hak itu bakal gue dapetin kalau lo mau." Elang menjeda perkataan nya, dia mengambil nafas dalam sebelum menggenggam kedua tangan Liah.
"Liah, will you my special girlfriend?" Ucap Elang dengan tatapan serius.
Liah hanya diam mematung, ada rasa bahagia dihatinya. Namun, dia takut akan menghianati perasaannya dengan sang kakak kelasnya dulu. Hatinya sungguh sakit jika mengingat anak laki laki yang menolongnya dulu. Namun, saat ada didekat Elang, ada rasa nyaman yang sama seperti anak laki laki tersebut membuat Liah tersenyum dan memantapkan hatinya.
"Yes I Will, Deandra Elang Sadewa." Ucap Liah berkaca-kaca.
Dengan rasa senang, Elang tersenyum dan memeluk erat tubuh Liah. Dia seakan tak ingin melepas Liah begitu saja dari hidupnya. Bahkan jika hanya satu hari saja tak bertemu Liah, Elang akan gila. Alay bin Lebay sih kalau menurut orang, biarkan saja. Toh mereka yang menjalankan hibungan. Pikir Elang.
"Terima kasih!" Ucap Elang mengecup dahi Liah.
"Humm, sekarang kita keluar dari sini!" Ucap Liah mengambil jepit kawat dirambutnya membuat Elang dongkol.
"Tuhan, punya pacar satu kok gini amat sih??" Ucap Elang frustasi dibalas cengiran oleh Liah.
"Lah siapa suruh lo kagak nanya apa gue bawa jepit kawat, kalau lo nanya kita kan dari tadi bisa keluar dari sini!" Ucap Liah membuat wajah Elang makin dongkol.
"Iyah, makasih lo ya." Ucap Elang datar karena kesal.
Liah terkekeh melihat wajah Elang yang kesal dengan ulahnya, hatinya sangat senang saat game yang dilakukan agar membuat Elang peka ternyata berhasil. Dia dengan hati yang berbunga-bunga membuka gembok yang mengunci jendela tersebut dengan jepitan kawat miliknya.
Klekk..
"Terbuka!!" Girang Liah kemudian memanjat jendela.
"Elang ayo, atau lo mau gue kunciin dari luar?" Kesal Liah kemudian melompat ke bawah dengan ketinggian satu meter setengah.
"Dasar, pacar gak ada akhlak!" Kesal Elang kemudian menyusul Liah.
Bughh.
__ADS_1
"Ah.. akhirnya bisa keluar." Ucap Elang mendesah lega.
"Siapa dulu dong, gue gitu loh!" Ucap Liah bangga.