
Tiga hari juga Amel berada dirumah sakit walaupun menurut Amel rasa sakit yang ada ditangannya tak sebanding mengerikannya membunuh orang. Dan Amel berada dirumah sakit selama tiga hari juga karena paksaan oleh Alshad yang tak mengizinkannya pulang. Mau tak mau Amel menuruti kemauan Alshad jika tidak, Alshad akan memberi tau Mommy, Daddy, dan kakaknya dirumah. Karena sampai saat ini yang tau hanya sahabat terdekat Amel dan Alshad dkk. Dan untungnya hari ini Amel diperbolehkan untuk pulang.
"Nona dijaga kesehatannya ya. Jangan lupa obatnya dihabiskan agar cepat sembuh!" Tutur dokter Frans.
"Iya dokter pasti." Ucap Amel sembari tersenyum.
"Tuh dengerin apa kata dokter, lo sih kalau sampai dirumah pasti obatnya pasti lo ceburin toilet kan?" Ucapan Alshad mampu membuat Amel melebarkan matanya.
"Lo kalau ngomong- Suka bener!" Ucap Amel memelankan suaranya saat suka bener membuat dokter yang ada disana tertawa lepas.
_____________________________
Skip pagi hari Amel mengerjap ngerjapkan matanya karena sinar sang surya menembus kaca dan gorden yang sedikit membuka membuat sang empunya kamar perlahan bangun, saat bangun Amel masih teringat kemarahan Mommy nya yang tau Amel terkena luka tembak dibagian bahu.
"Mommy kalau marah serem juga ya? Baru aja pulang kok Mommy udah tau kalau gue kena tembak? Apalagi pelakunya udah dibunuh dengan tangan Mommy sendiri." Gumam Amel pelan sambil membayangkan Mommynya yang marah dikala membunuh musuhnya.
Amel beranjak dari kasur empuknya, mengambil handuk lalu masuk kekamar mandi, hanya butuh waktu 15 menit Amel selesai mandi dan memakai seragam. Tak lupa membawa buku catatan semua mapel karena niatnya hari ini akan menyusul ulangan dadakan walau pun Amel bisa lulus tanpa ulangan.
"Good Morn all!" Sapa Amel saat sudah dimeja makan.
__ADS_1
"Morning too sayang!" Jawab mereka serempak membuat Amel hanya tersenyum berada ditengah keluarga yang sangat menyayanginya.
"Dek nanti berangkat harus sama abang dan gak boleh ada bantahan!" Ucap Lindra kekeh dihadiahi anggukan pasrah oleh adiknya.
"Oiya sayang, gimana kemarin di negara C?" Tanya Opa.
"Baik kok Opa, Amel dapet juara lagi tapi juara 2 kalah sama cowok dari negara B!" Ucap Amel tersenyum membuat semuanya tersenyum senang.
"Daddy bangga sama kamu, usia muda mu sangat mencetak rekors di keluarga Gemalafana!" Ucap Ryan tersenyum.
"Yaudah Dad, Mom, Oma, Opa, Amel berangkat dulu ya Assalamualaikum." Ucap Amel lalu digandeng Lindra.
"Waalaikumsalam!" Jawab mereka serempak.
"Kamu menang lomba terus trophie nya dimana?" Tanya Lindra penasaran.
"Oh itu Amel ngga tau kak, Katanya pak Dwi nanti habis ulangan gitu bang!" Ucap Amel pelan.
"Oh gitu ya.." Balas Lindra membuat Amel menaikan sebelah alis.
__ADS_1
"Lo kenapa sih bang kok banyak diem. Lo marah sama gue??" Ucap Amel tak tahan situasi canggung.
"Hufftt.. menurut lo gue harus gimana dek, orang yang lo sayangi suka sama orang lain??" Ucap Lindra akhirnya jujur.
"Pffttt hahahaa jadi karena cewek karena hahahaa, kalau gue sih tinggalin aja dia berarti bodoh ngga pilih abang ganteng gue!" Ucap Amel menggoda kakaknya.
"Hahaha bisa ae lo!" Balas Lindra akhirnya tertawa.
"Emang siapa bang?" Ucap Amel kepo.
"Siapa maksud lo gimana?" Ucap Lindra linglung.
"Allah, sumpah gue punya kakak kok linglung gini sih!! Siapa yang lo suka bang?" Ucap Amel kesal membuat Lindra terkekeh.
"Oh itu Shafira." Ucap Lindra tersenyum getir.
"Shafira?? Shafira Bernadheta maksud lo??" Ucap Amel kaget.
"Iya kenapa emang??" Ucap Lindra.
__ADS_1
"Woeehh selera lo tinggi juga." Ucap Amel membuat Lindra kesal.
Okeh habis ini gue mau kasih kalian para Readers cerita sedih dulu ya baru ntar happy ending. Jangan lari ya man teman ntar tau kabar galau lari huaa๐ฃ๐ Okh jan lupa like, komen dan vote nya jangan lupa thnk you lope yu al๐