
Valley sengaja mengajak Liah berlarian dibawah derasnya hujan sore. Senyum Valley terbit saat melihat tawa Liah lepas. Yah, walau Valley tau bahwa tawa Liah hanya Fake untuk menyenangkan hatinya.
"Kejar gue, kalau bisa ntar gue cariin mangsa 2 malam ini buat lo!!" Ucap Liah mengelap wajahnya kemudian berlari.
"Awas lo kalau kena!!" Balas Valley tersenyum dan mengejar Liah.
Sementara di tempat lain, Leo mendapat info dari mata mata miliknya tentang Elang. Tangan Leo mengepal tangannya kuat dan langsung tancap gas menuju lokasi.
"Bos, sekarang dia berada di Hotel Perwirajaya bersama seorang cewek!"
"Apa dia adikku?" Rahang Leo mengeras saat menyangkut kebahagian adiknya.
"Bukan bos, tapi beberapa saat lalu Nona Liah baru saja datang dan keluar dengan penampilan yang tak baik!" Lapornya.
"Shitt!!"
Leo menutup panggilan sepihak, dia memutar laju mobil menuju lokasi. Dia tak bisa mengampuni Elang begitu saja atas apa yang baru diperbuatnya dengan adik kesayangannya. Bahkan Leo saja belum pernah membuat Liah menangis.
Sesampainya disana Leo melakukan hal yang sama seperti Liah saat berhadapan dengan resepsionis. Dia menuju kamar Elang dengan amarah yang memuncak. Dia berhenti di kamar yang dituju kemudian mendobraknya.
Brakk!!!
"Brengsekk!!"
Bughh.. Bughh.. Bughh..
_________________________________
Liah menancapkan pisau terakhir di tubuh seekor banteng yang tak lagi berbentuk, gadis itu melampiaskan amarahnya ke hewan. Entah lah, biasanya gadis ini akan menangis saat menyangkut tentang kematian hewan.
"Apa yang gue lakuin??"
Tangan Liah bergetar saat menyadari ia telah membunuh hewan dengan sadis. Gadis itu kembali menangis saat melihat banteng tersebut menatapnya seperti menahan sakit.
__ADS_1
"Maa.. Maafin gue yah," Gumam Liah mengambil handphone nya.
"Hallo, dengan dokter Hans?" Ucap Liah dari telpon.
"Iya, ada apa nona? harimau nya mau lahiran lagi??"
"Emm bukan, cepat kemari dalam waktu 10 menit atau nyawa lo jadi taruhannya!" Ancam Liah mematikan telpon sepihak.
"Tolong bertahan lah, maaf yah!" Gumam Liah meneteskan air mata kemudian mengelus kepala banteng tersebut.
Di ambang pintu, Valley tertawa keras saat melihat sifat absurd Liah kembali datang. Liah menatap horor sahabat nya.
"Kenapa ketawa sih?"
"Hahahaha!! Gue masih ingat saat hari raya qurban. Lo bahkan gak mau keluar mansion cuma gara gara ada orang nyembelih hewan di masjid pinggir Mansion hahaha!!" Valley tergelak mengingat kejadian konyol Liah beberapa tahun kemarin.
Liah bahkan berdiam di kamar dan menangis saat mendengar teriakan hewan yang akan disembelih.
"Ketawa aja teross!!" Ketus Liah kesal.
"Bukannya gitu Valley, gini nih. Coba lu pikir, hewan gak bisa mengeluh saat disakitin. Dia juga biasanya digunakan untuk monyet percobaan di dunia manusia. Coba kalau kita ada diposisi mereka. Kan kasihan!" Ucap Liah kembali menangis.
Valley menjadi kelagapan sendiri, dia salah ngomong saat ini. Liah akan gampang menangis saat hal hal yang menyangkut hewan dan juga orang orang yang disayanginya.
"Ehh.. jangan nangis, aduhh... cengeng banget sih lo!" Gerutu Valley mendekap tubuh Liah.
"Yah lo sih ngingetin Hikss.. sama hewan qurban hikss.. " Ucap Liah sesenggukan.
"Astaga.."
Pikiran Liah berkecamuk saat selesai menangis, gadis itu menatap kosong mini bar yang ada didepannya. Dengan langkah cepat Liah berjalan kesana kemudian membuka tutup botol anggur merah serta meneguk habis dalam satu tegukan, melihat itu Valley hanya menganga dibuatnya. Liah bukan tipe gadis yang suka minum minuman alkohol. Namun, cara Liah meminum minuman tersebut membuat Valley terkejut.
"Hei hei heii.. sudahh, lo gak tau efek nantinya!! Lo belum pernah minum heii!!" Valley panik dan merebut botol kedua Liah yang tersisa setengah.
__ADS_1
"Gue benci sama dia, hehehe kalau dia bisa mendua kenapa gue nggak bisa!" Ucapnya ngawur.
"Lah kan ngawur!" Gerutu Valley menggendong Liah menuju kamar pribadinya.
"Valley, dia datang." Valley mengangkat sebelah alisnya.
Biasanya seseorang yang dalam pengaruh alkohol akan berbicara jujur. Siapa dia? Siapa yang datang?? ~Valleyrn Filberto.
"Valley, gue jahat! Gue jahat!" Gumamnya lagi.
"Gue sayang sama lo!" Lirih Valley mengecup dahi Liah sekilas.
Valley menyelimuti tubuh Liah sampe sebatas leher, ia kemudian keluar dari kamar Liah. Saat di luar, dia dikejutkan dengan keberadaan dokter Hans yang dengan wajah sendu.
"Eh, dokter mengagetkan saja!" Ucap Valley mengusap dada nya.
"Bagaimaja ini? Banteng yang diperintahkan nona Liah mati!" Ucap Hans sedih membuat Valley tepok jidat.
"Liah manggil dokter cuma buat banteng??" Tanya Valley tak habis pikir.
"Masalahnya disini nyawa saya jadi taruhan!" Kesal Hans.
"Ck, merepotkan! Dokter tapi tak bisa apa apa!" Cibir Valley kemudian memanggil salah satu mafioso.
"Tolong lo kuburin banteng itu dengan layak, dan pastikan keluarga yang ditinggalkan dalam keadaan tercukupi!" Titah Valley membuat Hans tepok jidat.
Kalau gini, masih mending Nona Liah! ~Hans Deione.
"Baik tuan."
"Eh jangan lupa, panggil sodaranya buat menggantikan posisi saudara yang mati. Ntar gue kasih nomor telponnya!" Tambah Valley lagi membuat Hans dan mafioso bergedik ngeri.
Boss... sudah tak lagi sehat! ~Mafioso.
__ADS_1
Habis ini kayaknya gue beralih ke dokter manusia aja! ~Hans Deione.