Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Menjemput Farah


__ADS_3

Farah diantarkan pulang sampai ke depan rumah pak Agam, saking bahagia nya Farah sampai lupa sama motor nya sendiri.


Sambil berdendang ria Farah masuk ke dalam rumah, dia lupa kalau diri nya numpang di rumah mertua kakak ipar nya.


Mereka yang lagi berkumpul di ruang keluarga menatap nya dnegan penuh tanya.


"Bahagia banget, seperti yang habis kencan." Ucap Raya sambil menatap Farah yang baru datang.


"Eh, maaf, aku kira ngga ada siapa-siapa." Ucap Farah lalu mencium tangan semua yang ada di ruangan tersebut kecuali Grace dan Gustav.


Mereka semua hanya menggelengkan kepala nya dengan kelakuan Farah.


"Hai keponakan nya aunty, kalian berdua belum tidur." Ucap Farah sambil membelai kepala kedua nya, Farah duduk di dekat Grace.


"Belum aunty sebentar lagi, aunty kok pergi nya lama sekali biasa nya ngga selama ini?" Tanya Grace sambil menggoyangkan tangan Farah.


"Aw." Teriak Farah yang merasakan sedikit nyeri di tangan nya.


"Kamu kenapa dek? kayak yang menahan sakit?" Tanya Farah sedikit khawatir.


"Tadi pagi kecelakaan, tapi ngga apa-apa kok." Jawab Farah.


"Apa!" Teriak semua nya bersamaan.


"Kecelakaan bagaimana?" Tanya pak Agam sambil menatap Farah.


"Tapi kamu ngga apa-apa kan, coba mamah lihat." Ucap bu Maria sambil menyingkap kemeja Farah.


"Kok bisa, memang nya kamu sedang melamun bawa motor nya?" Tanya Steven.


"Kan kakak sudah bilang jangan naik motor dek, bahaya." Ucap Raya sambil menggendong Gustav.


"Ya ampun motor ku." Teriak Farah.


Farah bukan nya menjawab semua pertanyaan mereka yang mengkhawatir kan nya, Farah sendiri malah teringat motor nya.


"Farah."


"Adek."


Teriak mereka semua, mereka heran dengan Farah yang seperti nya lebih khawatir sama motor nya.


"Maaf, tapi kan motor itu motor kesayangan aku." Jawab Farah sambil menunduk setelah Farah sadar dengan kesalahan nya barusan.

__ADS_1


"Sudah, kamu jangan memikirkan motor kamu, sekarang ceritakan bagaimana cerita nya kamu bisa kecelakaan?" Tanya Steven.


"Tadi pagi pas lagi di jalan tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabrak motor Farah, dan Farah terguling dan jatuh, tapi Farah langsung di bawa ke rumah sakit kok langsung di tangani oleh dokter, dan tahu tidak yang menabrak Farah itu siapa?" Itu adalah pertanyaan yang konyol menurut mereka semua, karena mereka mau tahu dari mana orang mereka saja tidak melihat kejadian nya.


Dengan refleks kepala mereka menggeleng sambil menahan kekesalan nya.


"Sini Farah kasih tahu, yang sudah menabrak Farah tadi pagi itu adalah dokter Arif."


"Apa!" Teriak mereka serempak hingga membuat Gustav yang hampir tertidur dipangkuan Raya menangis karena kaget.


"Kenapa pada berteriak, Gustav jadi nangis kan," Ucap Farah.


Raya langsung menenangkan Gustav agar tidak menangis.


"Ya kita semua kaget lah, kok bisa kebetulan seperti itu ya, apa kalian memang berjodoh." Ucap bu Maria sambil tersenyum.


"Seperti nya sih iya bu, tapi dokter Arif itu masih dingin dan datar, masa begitu aku jatuh dan terluka dia hanya diam saja berdiri, udah gitu ngajak ke rumah sakit tapi aku harus jalan sendiri, ngga ada romantis-romantis nya, seperti nya harga satu senyuman pun mahal buat dia." Ucap Farah.


"Kamu ini nak, dokter Arif itu anak baik, dia memang seperti itu dari dulu, dia dingin sama perempuan kecuali sama ibu dan adik nya." Ucap bu Maria.


"Tapi papah yakin kalau kamu bisa merubah nak Arif, dan papah setuju kalau kamu sama nak Arif." Ucap pak Agam sambil tersenyum.


"Ah papah ini bisa saja, aku kan belum selesai kuliah." Ucap Farah malu-malu.


"Ya kalau semua pada setuju sih aku mau-mau saja."


"Kamu ini dek." Ucap Raya.


Semua nya tersenyum sambil menggelengkan kepala nya.


Semenjak kehadiran Raya dan Farah, rumah pak Agam berasa hidup, apalagi dengan kekonyolan Farah sang calon pengacara.


******


Seperti biasa pagi hari Farah selalu sibuk menyiapkan semua nya, pagi ini dia ada meeting bersama pak Hendrik untuk menemui klien mereka.


"Terus aku berangkat ke kantor nya naik apa? Motor aku saja entah dimana dokter tampan menyimpan nya." Gumam Farah sambil berjalan menuruni tangga dan menuju ke ruang makan.


Terdengar oleh Farah kalau semua nya sudah berkumpul di ruang makan.


Begitu Farah masuk dia di kagetkan dengan seseorang yang akhir-akhir ini membuat nya bahagia walaupun sikap nya masih datar.


"Dokter." Gumam Farah.

__ADS_1


"Ayo nak kita sarapan." Ajak bu Maria.


"Pagi semua nya, pagi pak dokter, siapa yang sakit?" Tanya Farah sambil duduk di depan dokter Arif.


"Memang nya kalau saya kesini harus ada yang sakit dulu." Jawab dokter Arif tanpa melihat ke arah Farah.


Bu Maria saling menatap dengan Raya, mereka tersenyum melihat keduanya.


Farah tidak memperdulikan ucapan dokter Arif, dirinya sibuk dengan makanan yang ada di depan nya.


"Ya pikir saja sendiri, seseorang yang memakai pakaian dokter datang ke rumah orang lain kalau bukan untuk periksa untuk apa lagi coba, mana mungkin kan untuk mengajak salah satu penghuni nya untuk menikah." Ucap Farah santai.


"Ya sudah kalau kalian mau berdebat lanjutkan, papah mau berangkat, nak Arif om berangkat kerja dulu, nikmati saja sarapan nya."


"Aku juga berangkat ya sayang." Ucap Steven.


"Ya sudah mamah ngantar papah ke depan dulu." Ucap bu Maria.


"Grace berangkat sama papah saja ya sayang." Ucap Raya.


"Iya mah."


Mereka semua pergi meninggalkan ruang makan dan menyisakan Farah dan dokter Arif saja.


"Oh ya pak dokter sekarang saya ingat kenapa pak dokter berada di sini pagi ini." Ucap Farah.


Dokter Arif sedikit mengernyitkan kening nya, "Kenapa?"


"Mau mengantarkan motor saya kan? Ah terima kasih pak dokter, soalnya pagi ini saya mau ada ketemu klien dengan pak Hendrik." Ucap Farah sambil berdiri karena sudah menyelesaikan sarapan nya.


"Kunci motor nya mana?" Tanya Farah sambil mengulurkan tangan nya.


"Kan motor nya masih saya titip di ibu warung yang kemarin." Ucap dokter Arif santai.


"Terus pak dokter datang kesini mau apa? Ya sudah terserah pak dokter saja lah, aku sudah siang." Ucap Farah lalu melangkah kan kaki nya.


Tapi baru juga selangkah, kaki nya sudah berhenti lagi karena mendengar ucapan dokter Arif.


"Saya kesini menjemput kamu."


Farah kaget dan tidak percaya mendengar nya hingga seketika menghentikan langkah nya dan membalik kan kembali tubuh nya menatap dokter Arif.


"Apa saya tidak salah mendengar?" Tanya Farah sambil menatap heran dokter Arif yang terkenal dingin.

__ADS_1


"Jangan banyak bertanya." Ucap dokter Arif sambil menarik tangan Farah membuat bibir Farah tersenyum.


__ADS_2