
Grace tidur dan suhu tubuh nya semakin panas, bu Maria sangat khawatir lalu memanggil dokter keluarga ke rumah nya.
Kini dokter sedang memeriksa Grace, terlihat wajah khawatir dari bu Maria yang terus menatap wajah cucu nya itu.
"Bagaimana dokter?" tanya bu Maria dengan wajah khawatir nya.
"Dia tidak apa-apa, hanya demam biasa." dokter Sani memberikan obat penurun panas nya.
"Tapi tidak ada yang serius kan dok?"
"Tidak ada, ini hanya demam biasa yang sering terjadi pada anak-anak."
Tidak lama Grace membuka mata nya dan menatap wajah dokter.
"Mamah, aku ingin bertemu dengan mamah."
Dokter wanita itu terdiam dan melihat gerakan isyarat dari Grace dengan seksama.
"Bu Maria, seperti nya dia lagi kangen sama mamah nya, jadi pertemukan saja mereka, mungkin kalau bertemu dengan ibu nya dia akan sembuh." dokter Sani memberikan saran kepada bu Maria.
"Tapi saya tidak akan mempertemukan mereka dok, saya masih sakit hati dengan perempuan itu." bu Maria kesal kenapa juga obat Grace harus ibu nya.
Dokter Sani adalah dokter keluarga pak Agam, jadi dia sudah tahu cerita tentang Brenda.
"Sayang, apa kamu mau bertemu dnegan mamah Brenda?" tanya dokter Sani dengan bahasa isyarat nya.
"Tidak." Grace menggeleng, karena dia memang tidak mau bertemu dengan Brenda, yang dia inginkan hanya bertemu dengan Raya.
Dokter Sani terdiam kening nya berkerut, perasaan dirinya tadi tidak salah mengartikan bahasa isyarat yang di berikan Grace, tapi ketika di tanya kok Grace ngga mau bertemu dengan Brenda.
"Bu dokter tadi melihat isyarat yang kamu berikan, kamu ingin bertemu mamah sayang? Apa bu dokter salah lihat tadi?" tanya dokter Sani dengan bahasa isyarat nya.
"Aku ingin bertemu dengan mamah Raya bu dokter?"
"Mamah Raya? siapa mamah Raya?" dokter Sani menatap bu Maria.
"Dia seorang wanita yang pernah mengantarkan Grace pulang, Grace sangat dekat dengan nya sampai-sampai Grace memanggil nya dengan panggilan mamah." bu Maria menceritakan nya kepada dokter Sani.
__ADS_1
"Kalau begitu anda harus membawa wanita yang bernama Raya itu kehadapan Grace, mungkin wanita itu akan menjadi obat untuk Grace."
"Baiklah nanti saya akan menghubungi Stev agar dia mencari Raya ke tempat kerja nya."
Setelah dokter Sani memeriksa dan memberikan obat turun panas buat Grace, dokter Sani pun pamit pulang.
"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang, cepat sembuhya sayang."
"Terima kasih dokter."
Setelah dokter Sani pulang bu Maria langsung menghubungi Stev dan memberitahukan keadaan Grace.
*
*
"Mau kemana?" tanya Fajar sambil menarik tangan Selena.
"Sudah siang aku mau pulang." Selena berdiri dan mengambil tas selempang nya.
"Bagaimana dengan tawaran ku?' Fajar mencium telapak tangan Selena dengan lembut.
"Kalau kamu berubah pikiran, datang saja ke sini." teriak Fajar dengan senyuman di bibir nya.
Ponsel Fajar berdering, ternyata Raya yang menghubungi nya, dan Fajar pun mengabaikan telepon dari Raya, dan menaruh kembali ponsel nya di atas meja.
Fajar tersenyum mengingat kejadian semalam, dirinya merasa kini hidup nya lebih berwarna.
"Ngga biasa nya kamu mengabaikan telepon ku mas, ini kan jam istirahat ngga mungkin mas Fajar masih sibuk dengan kerjaan nya." gumam Raya.
Raya berpikir kalau akhir-akhir ini Fajar berubah dan dirinya merasa kalau Fajar mulai menjauh, tapi Raya tidak mau menduga-duganya karena dirinya juga ngga ada bukti apa-apa tentang Fajar.
Baru saja duduk di ruangan nya terdengar ponsel Steven berdering mengagetkan nya, Steven langsung menerima panggilan yang ternyata dari ibu nya.
"Iya mah, kenapa?" ternyata yang menghubungi nya bu Maria.
"Tolong kamu cari dan bawa Raya ke rumah, Grace tubuh nya semakin panas."
__ADS_1
"Apa hubungan nya tubuh Grace yang panas dengan Raya?" Steven mengerutkan kening nya.
"Dia terus-terusan memanggil-manggil nama Raya, barusan juga dokter Sani menyarankan untuk menemukan Grace dengan Raya, mamah mohon sama kamu Stev, bawa Raya ke rumah, semua ini demi anak kamu, demi Grace."
"Baiklah mah, nanti aku hubungi pak Hendrik." Stev memutuskan sambungan telepon nya setelah memastikan kepada ibu nya.
"Ada-ada saja, masa iya anak yang lagi sakit bisa sembuh hanya bertemu dengan orang." gumam steven lalu mencari kontak Selena.
Steven bukan nya mencari kontak pak Hendrik, tapi jempol nya malah mencari kontak Selena.
"Halo sayang, kamu dimana?" tanya Steven setelah sambungan telepon nya di terima.
"Aku baru sampai rumah mas." Selena keceplosan bicara kepada Steven.
"Mampus, kenapa aku bilang kalau aku baru pulang, bodoh kamu Selena." bathin Selena sambil memukul-mukul pelan kepala nya.
"Kamu pulang dari mana? Habis bertemu Grace? Tapi mamah kok ngga bilang apa-apa barusan."
"Ngga mas, aku barusan dari mini market depan beli pembalut." Selena berbohong sambil mengelus dada nya.
"Oh, aku kira kamu dari mana? tapi jadi kan kamu ke rumah menemui Grace?"
"Maaf mas, hari ini hari pertama aku datang bulan, perut ku sakit." Selena pintar mencari alasan.
Steven paham karena dulu Brenda istri nya suka sakit kalau hari pertama datang bulan.
"Ya sudah kamu istirahat saja, tapi aku ngga bisa nengok kamu ya sayang, soalnya Grace lagi demam."
"Iya mas ngga apa-apa, ya sudah mas aku istirahat dulu ya." Selena kesal dengan Steven yang terus memprioritaskan Grace.
"Lagi-lagi Grace, lagi-lagi bocah bisu itu, awas kamu bocah bisu, kalau ayah kamu menikah dengan aku, jangan harap kamu akan mendapatkan kasih sayang Steven lagi, aku yang akan membuat ayah kamu menjauhi dan membenci kamu." Selena tersenyum lalu membaringkan tubuh nya.
Bibir Selena tersenyum kala dirinya mengingat kejadian di apartemen Fajar.
"Fajar, Kamu sangat gagah dan kuat, kamu bisa membuat aku melayang, tidak seperti Steven, bisa nya cuma cium bibir doang, ah seandainya semalam yang melakukan Steven, aku pasti sangat bahagia sekali, aku bisa langsung menikah dengan nya dan mempunyai anak dari Stev, dan aku akan menjauhkan kamu dari si anak bisu itu."
Selama ini Selena hanya mencintai Steven, karena Steven selalu memberikan apa yang Selena mau, tapi Selena tidak mau menerima kehadiran Grace, karena menurut nya Grace adalah anak yang bisa meng hancurkan kehidupan nya.
__ADS_1
Selena sangat kesal sekali kalau sudah menyangkut dengan Grace, Steven lebih menyayangi Grace dari pada diri nya.
"Pokok nya aku akan membuat kamu di jauhi oleh ayah kamu, dan hanya aku yang di prioritaskan bukan anak bisu itu."