
Setelah menyelesaikan sarapan pagi nya Farah dan Grace keluar dan bersiap mau berangkat, tapi di luar ternyata masih pada kumpul dan Farah melihat pak Agam dan kakak ipar nya masih ada di situ dan belum berangkat ke kantor.
"Lo, kok masih pada kumpul? Ada apa?" Tanya Farah sambil menatap mereka semua nya.
Mereka hanya saling menatap bingung harus menjelaskan nya dari mana, karena bagaimana pun itu urusan nya Farah dan dokter Arif.
"Itu non, dari semalam dokter Arif nungguin non keluar rumah sampai dokter Arif tidur di pos." Jawab pak satpam.
"Oh, biarkan saja lah pak mungkin dia mau merasakan tidur di pos satpam, Grace ayo kita berangkat." Ucap Farah tanpa menghiraukan tatapan yang penuh tanda tanya dari semua orang yang berada di situ.
Farah pamit kepada semua nya lalu pergi dengan Grace diantar pak sopir.
Begitu mobil melaju keluar, mata Farah melirik kearah pos satpam dan melihat dokter Arif sedang tertidur di atas bangku panjang yang ada di dalam pos.
"Kasihan sih melihat dia tidur di bangku panjang gitu, tapi bodo amat lah, lagian kenapa juga aku harus perduli sama dia, dia saja ngga pernah perduli dengan perasaan aku." Gumam Farah di dalam hati nya.
Melihat Farah yang sudah berangkat, pak Agam dan Steven pun langsung berangkat ke kantor nya.
Dokter Arif mulai mengerjap kan kedua mata nya ketika mendengar deru mobil yang lewat dan juga pintu pagar yang di tutup buka.
"Pagi pak dokter." Ucap satpam jaga ketika melihat dokter Arif sudah bangun dari tidur nya.
"Pagi pak, Farah sudah keluar belum pak?" Tanya dokter Arif sambil mengusap wajah nya.
"Maaf pak dokter non Farah nya sudah berangkat lima menit yang lalu." Jawab pak satpam.
"Apa! saya kan sudah bilang kalau Farah keluar kasih tahu saya." Dokter Arif kesal dengan pak satpam.
"Tadi saya mau kasih tahu dokter, tapi non Farah melarang saya."
Dokter Arif menghela nafas nya dengan kasar, "Ya sudah lah pak dan terima kasih sudah mengizinkan saya untuk istirahat di sini, kalau begitu saya permisi." Ucap dokter Arif dengan wajah kesal nya.
Dokter Arif keluar dari pos satpam lalu masuk ke dalam mobil nya.
"Sebegitu marah nya kah kamu kepada ku Farah, bego kamu Arif, kenapa juga kamu sampai melontarkan kata-kata yang membuat dia sakit hati." Gumam dokter Arif lalu melajukan mobil nya tanpa menemui orang rumah dulu.
__ADS_1
*******
Siang hari Farah berencana makan siang di kantin perusahaan, dia sudah mulai melupakan masalah nya dengan dokter Arif dan fokus dengan kerjaan nya.
"Akhir nya waktu jam makan siang juga." Gumam Farah sambil membereskan meja nya.
"Selamat siang bu." Ucap seorang ob sambil mengetuk pintu ruangan Farah.
"Siang mas, kenapa? Mau bersihin ruangan saya." Ucap Farah, karena memang ruangan nya selalu di bersihkan pada jam istirahat.
"Ini bu ada titipan buat ibu." Ucap nya sambil memberikan sebuah paper bag dari tangan nya.
"Dari siapa?" Tanya Farah sambil menatap heran, karena selama dirinya bekerja di kantor nya pak Hendrik belum pernah ada yang memberikan apa-apa kepada diri nya.
"Saya tidak tahu bu, tadi ada seorang pria yang menyuruh saya memberikan ini untuk ibu."
"Ya sudah makasih ya mas, kalau begitu ruangan saya ngga usah di bersihkan dulu saja."
"Baik bu, kalau begitu saya permisi."
Farah mengambil secarik kertas yang terselip di dalam paper bag lalu membaca nya.
"Aku mohon habiskan makanan nya, kamu jangan telat makan nanti kamu pingsan lagi, aku ngga mau kamu kenapa-kenapa, selamat beraktifitas ya sayang, Maafkan aku yang sudah membuat hati kamu terluka.
"Sayang? ngga salah, aku yakin ini dari dokter Arif." Gumam Farah sambil kembali menyimpan makanan yang tadi dia pegang.
Tidak berapa lama sebuah pesan masuk ke ponsel nya, Farah melihat dan membaca nya.
"Makan nya di habiskan, kamu ngga boleh telat makan nanti pingsan lagi, jaga selalu kesehatan kamu, maaf kan aku yang sudah membuat hati kamu terluka."
Seperti itu lah isi pesan yang ternyata dari dokter Arif.
Farah melihat kata permintaan maaf nya dokter Arif di ponsel nya, tapi tidak ada satu pun yang dia jawab.
Farah menyimpan kembali ponsel nya lalu mengambil dan menatap makanan yang di kirim dokter Ricard.
__ADS_1
"Kamu pikir aku akan luluh hanya dengan sekotak makanan ini, tidak akan dokter, saya sudah terlanjur sakit hati oleh anda." Gumam Farah lalu membuka makanan nya.
Bibir Farah sedikit tersenyum melihat isi di dalam kotak makanan itu yang ternyata makanan kesukaan nya.
"Dari pada mubazir mending aku makan saja lah, lagian sayang juga kalau di buang makanan ini kan ngga punya salah, yang punya salah itu yang kirim." Gumam Farah lalu mulai menikmati makanan nya sampai habis tak bersisa.
Sedangkan dokter Arif semakin gelisah di buat nya, dia terus memikirkan Farah dan terus melihat ponsel nya barangkali ada satu pesan yang di kirim Farah untuk diri nya.
"Ayolah Farah sekali saja kamu respon pesan aku." Gumam dokter Arif.
"Argh, ternyata begini rasa nya tidak di respon oleh orang yang kita suka."
Dokter Arif terus menerus bergelut dengan pikiran nya sendiri hingga dia memutuskan untuk mengambil libur beberapa hari sampai pikiran nya tenang kembali.
Sore ini mobil dokter Arif sudah berada di depan kantor nya pak Hendrik, dia sengaja menunggu Farah keluar.
Ke dua mata nya tidak berkedip dan terus menatap pintu utama perusahaan pak Hendrik.
Setelah beberapa menit dokter Arif menunggu, terlihat seorang wanita cantik yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikiran nya.
"Itu dia, dokter Arif langsung melajukan mobil nya dan berhenti tepat di depan Farah.
Dokter Arif keluar dan membuka kan pintu mobil untuk Farah.
Farah terdiam dan pura-pura tidak melihat dokter Arif di hadapan nya.
Farah melihat seorang pria yang mengendarai motor melintas di hadapan nya dengan pelan.
"Risman, saya nebeng ya." Teriak Farah sambil menghampiri Risman salah satu karyawan nya pak Hendrik bagian gudang.
Risman yang di panggil pun berhenti dan melihat ke arah Farah.
"Bukan nya ibu sudah ada yang menjemput, kenapa ikut sama say?" Tanya Risman sambil melirik ke arah dokter Arif.
"Sudah biarkan saja, hari ini saya mau pulang sama kamu aja." Tanpa pikir panjang dan tanpa perduli dengan perasaan dokter Arif Farah naik ke atas motor nya Risman.
__ADS_1
Risman yang merasa ngga enak mulai melajukan motor nya setelah mengangguk kan kepala nya sambil menatap dokter Arif.