Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Firasat


__ADS_3

"Nenek." Teriak Grace begitu melihat nenek nya sedang duduk dan bersandar di sofa ruang keluarga.


"Cucu nenek sudah pulang? Bagaimana senang sayang jalan-jalan nya?" Tanya bu Maria sambil memeluk erat Grace.


Farah duduk di depan bu Maria sambil memperhatikan interaksi nenek dan cucu nya itu.


"Senang banget nek, apalagi tadi ada mamah juga ikut jalan-jalan." Ucap Grace.


"Benarkah? Terus kenapa mamah nya ngga diajak pulang sayang." Bu Maria pura-pura ngga tahu di depan Grace.


"Kata mamah nanti kalau urusan nya sudah selesai, mamah akan pulang."


Bu Maria menatap Farah, sedangkan Farah hanya mengangguk kecil.


"Oh iya nek, tadi Grace naik motor nya kak Farah, seneng banget pokok nya."


"Kamu tidak takut sayang naik motor? Kan ngga ada jendela nya."


"Tidak lah nek, ternyata naik motor itu enak, dan hari minggu Grace dan aunty mau jalan-jalan lagi keliling naik motor." Terlihat kalau Grace memang sangat bahagia dengan hari ini, dia sangat antusias ketika bercerita.


"Tapi kamu harus hati-hati ya nak, kamu harus pegangan sama aunty."


"Iya nek."


"Kamu sekarang makan dan istirahat ya, kan seharian sudah jalan-jalan, pasti nya capek."


"Grace suah makan nek, sudah kenyang, tadi makan banyak sama mamah, iya kan aunty?'


"Iya, tadi Grace makan nya banyak kok." Ucap Farah.


"Bi, tolong temani Grace di kamar nya." Teriak bu Maria.

__ADS_1


Bi Siti yang mendengar suara bu Maria langsung menghampiri nya, "Baik nyonya, ayo non kita ke kamar."


"Nenek, aunty, Grace masuk ke kamar dulu ya." Ucap Grace.


"Iya sayang." Bu Maria mencium kedua pipi dan kening Grace.


"Kamu tidur yang nyenyak ya sayang." Farah pun mencium seluruh wajah Grace.


Bu Maria tersenyum, dia melihat kalau Farah pun seperti nya menyayangi Grace dnegan tulus.


"Nak, terima kasih sudah mau membawa Grace bertemu dengan Raya, mamah yakin semua ini adalah rencana kamu." Ucap bu Maria setelah kepergian Grace.


"Itu sudah menjadi kewajiban aku juga mah, bagaimana pun kak Raya sudah salah paham dengan semua nya, setelah aku melihat dan mendengar beberapa kali video nya, aku percaya kalau kak Steven memang di jebak dan tidak melakukan nya."


"Jadi kamu sudah melihat rekaman nya juga."


"Sudah mah, kak Steven tadi pagi mengirimkan nya, dan nanti nya akan menjadi bukti untuk kak Raya, mudah-mudahan kak Raya luluh hati nya ketika melihat semua video yang mamah kirim tadi."


Bu Maria memang merekam Steven di waktu Steven di rawat di rumah sakit tadi dan mengirim nya ke ponsel Farah.


"Itu yang mamah akan bicarakan sekarang sama kamu." Ucap bu Maria dengan wajah serius nya.


Farah menatap wajah bu Maria dengan serius dan menunggu bu Maria berbicara selanjut nya.


"Dokter mengatakan kalau ibu harus membawa Raya ke dokter bukan Steven." Ucap bu Maria.


"Lo, kan yang sakit kakak ipar, kenapa jadi kakak yang harus di bawa ke dokter?" Tanya Farah dengan wajah heran nya.


"Jadi begini, dokter mengatakan kalau Steve mengidap sindrom couvade atau kehamilan simpatik, karena sudah di cek lab pun ngga ada penyakit apa pun di tubuh Stev, dengan ada nya gejala yang di rasakan oleh Stev dokter mengatakan ada kemungkinan istri Stev lagi hamil." Bu Maria menjelaskan apa yang di ucapkan dokter siang tadi.


"Berarti perkiraan aku benar, soal nya semalam juga kakak mengalami yang kakak ipar rasakan." Bathin Farah sambil fokus mendengar cerita dari bu Maria.

__ADS_1


"Sekarang ibu tanya sama kamu, apa kamu melihat Raya pusing, mual dan muntah hingga wajah nya pucat?" Tanya bu Maria membuyarkan lamunan Farah.


"Semalam kakak merasakan seperti yang kakak ipar rasakan, dan aku pun sudah merasakan nya kalau kakak sedang hamil, makanya tadi pagi aku sudah membeli tespack, tapi belum di kasih ke kakak, soal nya aku baca penggunaan yang akurat itu sehabis bangun tidur di pagi hari."


"Ngga salah mamah memilih bicara sama kamu, kamu memang cocok menjadi seorang pengacara,." Bu Maria merasa senang karena Farah sudah melangkah lebih dulu.


"Besok aku kabari lagi setelah kakak menggunakan tespack nya."


"Baiklah nak, pokok nya mamah serahkan semua nya sama kamu, mamah percaya kamu bisa menyelesaikan masalah mereka." Ucap bu Maria sambil tersenyum, tangan nya menggenggam erat tangan Farah.


Bu Maria sangat bahagia sekali malam ini, walaupun Raya belum bisa memaafkan anak nya.


Terdengar suara ponsel Farah dari dalam tas nya.


"Angkat saja nak, siapa tahu penting." Ucap bu Maria.


Farah mengangguk lalu membawa ponsel dan menerima panggilan nya yang ternyata dari Raya.


"Sebentar ya bu." Farah meminta izin untuk menerima panggilan, bu Maria mengangguk.


"Aku sangat beruntung sekali bisa bertemu dengan keluarga kalian, entah apa jadi nya hidup kami semua tanpa keluarga kalian, kamu yang masih muda saja sudah bisa membantu kakak kamu yang sedang punya masalah, papah tidak salah untuk memberikan biaya buat kamu selama kuliah, mamah banyak berhutang budi pada keluarga kalian, tanpa Raya Grace tidak akan seperti sekarang." Bu Maria bicara dalam hati selama Farah menerima panggilan nya.


"Baiklah mah, aku akan membantu semampu aku untuk menyelesaikan masalah kakak dan kakak ipar." Ucap Farah setelah menutup telepon nya.


"Terima kasih ya nak, kalau ngga ada kamu entah sama siapa lagi mamah meminta bantuan."


"Mamah tenang saja, aku yakin semuanya akan kembali seperti dulu, kalau begitu aku pamit, barusan kakak bilang minta di belikan rujak, mana sudah malam beli dimana coba."


"Apa! malam-malam begini Raya mau makan rujak, dugaan dokter itu pasti benar." Bu Maria sangat kaget sekaligus bahagia mendengar Raya ingin makan rujak.


"Iya mah, tadi pagi saja kakak beli mangga muda, padahal dia ngga suka makan mangga muda selama ini."

__ADS_1


"Ini sudah pasti Raya sedang hamil, ah mamah sangat bahagia sekali, oh iya nak, tadi kan Steven beli rujak dua bungkus, tapi yang satu nya ngga di makan katanya sudah kenyang, jadi kamu bawa saja buat Raya, mungkin Steven beli dua ada firasat kalau yang satu bungkus ini buat istri nya." Ucap bu Maria sambil memberikan bungkusan rujak nya.


"Ah, terima kasih mah, jadi aku ngga perlu keliling nyari rujak ini, kalau begitu Farah pulang ya mah." Farah mencium telapak tangan bu Maria lalu pergi dengan bibir tersenyum karena yang di inginkan kakak nya sudah dia dapatkan tanpa mencari dan mengeluarkan uang, itulah yang ada di pikiran Raya saat ini.


__ADS_2