Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Sindrom Couvade


__ADS_3

"Bagaimana dok, sakit apa suami saya ini?" Tanya Farah kepada dokter Hanif.


Dokter Hanif hanya tersenyum, dokter Arif tidak sakit apa-apa nyonya, tensi darah dan yang lain nya sudah saya periksa dan semua nya normal dan baik-baik saja." Jawab dokter Hanif.


"Tapi dia mengeluh pusing dok, dan tadi setelah sarapan dia juga muntah-muntah, badan nya lemas dan wajah nya pun pucat." Ucap Farah dengan penuh rasa khawatir.


"Nyonya tenang saja, mungkin ini gejala bawaan dari janin yang sedang anda kandung."


"Apa!" Teriak Farah kaget, untung mereka berdua lagi berbicara di ruang tamu, Farah sengaja mengajak dokter Hanif bicara di ruang tamu karena tidak mau mengganggu suami nya yang sedang beristirahat.


"Ya, saya kira semua gejala yang dialami dokter Arif karena bawaan dari janin yang anda kandung, jadi saya menyarankan anda datang ke dokter kandungan untuk memastikan nya."


"Sebenar nya saya juga sudah menyadari nya sih dok, bahkan tadi pagi saya meminta adik ipar saya untuk membelikan tespack, apa suami saya terkena sindrom couvade dok?" Tanya Farah yang memang sedikit banyak nya sudah mengetahui tentang kehamilan.


"Ya, kemungkinan dokter Arif mengalami sindrom couvade, ya sudah nyonya kalau begitu saya permisi, biarkan saja dokter Arif beristirahat dulu untuk saat ini."


"Baik dok, terima kasih banyak."


Farah kembali masuk ke dalam kamar nya setelah kepergian dokter Hanif.


Farah melihat suami nya sedang terlelap tidur, bibir nya tersenyum, Farah tidak menyangka suami nya yang dulu datar dan cuek, kini mengalami sindrom couvade, setahu dia seorang suami yang mengalami nya berarti dia sangat menyayangi dan mencintai istri nya.


Farah tidak ingin membuang waktu nya, selagi suami nya tertidur dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.


******


Hari ini Farah tidak keluar kamar sama sekali, diri nya sudah seperti punya seorang bayi saja.


Untuk mengisi waktunya Farah menghubungi Raya kakak nya dan berbincang dengan Grace dan Gustav yang sudah mulai berbicara.


"Kak." Panggil Asya dengan pelan.


Farah menoleh ke arah suara lalu menghampiri nya.


"Ini yang kakak pesan." Ucap Asya sambil memberikan dua buah tespack.


"Banyak amat Sya, satu aja kan cukup."

__ADS_1


"Biar akurat, jadi tes saja sama kedua nya, kenapa jam segini kakak sudah tidur? kakak sakit?" Tanya Asya sambil melirik ke arah dokter Arif yang masih berada di bawah selimut.


"Dia lagi ngidam." Bisik Farah.


"Apa!" Tanpa sadar Asya teriak sehingga membuat dokter Arif terbangun.


"Ada apa sih dek teriak-teriak, ganggu saja." Ucap dokter Arif sambil menatap adik nya.


Farah yang melihat suami nya terbangun langsung menyembunyikan tespack yang ada di tangan nya.


"Maaf kak, tadi aku kaget mendengar kakak sakit." Ucap Asya berbohong.


"Kakak hanya pusing dan ingin istirahat saja, jadi kamu jangan berisik." Ucap dokter ARif lalu masuk lagi ke dalam selimut.


Entah kenapa hari ini dokter Arif ngga mau lepas dari selimut dan bawaan nya ngantuk terus.


Farah memberi kode kepada Asya untuk berbicara di luar kamar.


"Mau kemana kamu sayang?" Tanya dokter Arif.


"Ya sudah jangan lama-lama."


"Iya." Farah keluar dengan Asya yang menahan tertawa nya.


Asya langsung berlari ke ruang keluarga dan tertawa terbahak-bahak di sana.


"Kamu kenapa sih Sya?" Tanya Farah yang heran dengan Asya.


"Kakak lucu, seperti nya dia bukan kakak aku deh." Ucap Asya dalam tawa nya.


"Hus, kamu ini, dia itu dokter Arif kakak kandung kamu, kamu kok bisa-bisa nya bicara seperti itu."


"Lagian ya kak, dulu kakak itu dingin, datar, senyuman nya mahal sekali seperti orang yang sangar, tapi barusan kok imut sekali seperti anak kecil yang lagi manja." Ucap Asya dan kembali tertawa dikala dia mengingat kelakuan kakak nya.


Farah tersenyum karena apa yang diucapkan Asya barusan benar ada nya.


"Sudah ah, kakak mau ngambil minum dulu, nanti kakak kamu merajuk lagi, dan untuk tespack nya makasih ya adik ipar ku yang cantik."

__ADS_1


"Tumben amat bilang aku adik ipar cantik, jangan-jangan ada mau nya lagi."


"Kakak ipar mu ini ngga perlu membayar tespack nya kan?" Ucap Farah sambil memainkan kedua alis nya.


"Ya ampun sudah nyuruh, sekarang minta gratis lagi." Ucap Asya pura-pura kesal.


"Kan ini juga buat memastikan keponakan kamu."


Terdengar suara ponsel Farah yang dia simpan di saku baju nya.


"Mas Arif." Gumam nya.


"Nah kan bayi gede nya sudah merengek." Gumam Asya.


"Iya mas." Ucap Farah setelah menerima panggilan nya.


"Kenapa lama sekali sih sayang, kamu kemana aja?"


"Iya mas iya, ini juga lagi ngisi air minum nya, sebentar lagi aku juga kembali ke kamar kok."


Farah menghela nafas nya, dia ngga habis pikir dengan suami nya sekarang.


"Sudah kak buruan sana ambil air minum nya nanti keburu merajuk lagi tuh bayi gede." Ucap Asya.


"Kamu ini Sya ada-ada saja, ya sudah kakak ambil ar minum dulu ya." Farah pun langsung menuju dapur dan mengambil air minum nya ke dalam botol.


"Kak, aku kasih tahu mamah dan papah ya." Ucap Asya yang kini masih duduk di ruang keluarga.


Farah yang mau melangkahkan kaki nya naik tangga pun berhenti dan menoleh kepada Asya.


"Jangan dulu, biar kakak cek dulu ke dokter kandungan, kalau semua itu sudah jelas baru kita kasih tahu semua nya." Ucap Farah.


"Baiklah, tapi aku orang pertama yang harus tahu ya kak."


"Pasti nya adik ipar sayang, ya sudah kakak mau ke kamar nanti kakak kamu nelepon lagi." Farah melanjutkan langkah nya menuju ke dalam kamar nya.


Asya hanya mengangguk sambil menatap punggung Farah, dirinya tidak menyangka teman beda jurusan itu akan menjadi kakak ipar nya.

__ADS_1


__ADS_2