Ibu Sambung Buat Anakku

Ibu Sambung Buat Anakku
Demi Adik Bayi


__ADS_3

"Nek, mamah dan papah kok masih belum keluar kamar juga sih, terus Grace pergi sekolah sama siapa?" tanya Grace dengan wajah di tekuk nya.


"Bagaimana kalau Grace berangkat sekolah nya sama kakek saja, kakek juga ingin sekali-kali mengantarkan cucu kakek yang cantik ini." Ucap pak Agam dengan bibir tersenyum, pak Agam tidak mau kalau Grace merajuk.


"Benar yang dikatakan kakek, kalau begitu nenek juga akan ikut mengantarkan cucu nenek ini, pulang nya nanti kita beli ice cream dan cokelat sekalian buat mamah juga, biar mamah nya cepat punya adik bayi." Bu Maria terus membujuk Grace agar mau diantar mereka berdua.


Bu Maria paham dengan apa yang sedang terjadi antara Steven dan Raya, bu Maria hampir menyerah dengan sikap kedua nya, tapi pagi ini tidak biasanya mereka melewatkan jam sarapan juga bangun siang dan melupakan Grace.


"Baiklah demi adik bayi Grace mau diantar kakek sama nenek." Grace pun berdiri dan mengambil tas nya.


Pak Agam dan bu Maria saling menatap dan tersenyum, tanpa menunggu Grace berubah pikiran pak Agam langsung berdiri dan mengambil tas kerja nya.


"Grace pamit sama papah dan mamah dulu."


"Tidak usah nak, kalau Grace pamit berarti adik bayi nya akan lama lagi hadir nya." Lagi-lagi adik bayi yang menjadi andalan bu Maria.


"Ya sudah, ayo kakek kita berangkat." Grace berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil pak Agam.


Rumah sudah sepi, hanya tinggal beberapa pekerja pak Agam yang sedang bersih-bersih.


Sementara Grace pergi sekolah dengan diantar pak Agam dan bu Maria, Steven dan Raya baru keluar dari kamar mandi.


Raya menyiapkan baju santai buat suami nya, Raya sendiri hanya memakai kaos oblong dan juga celana pendek membuat Raya seperti anak remaja.


Steven menatap tajam ke arah Raya, dia tidak suka kalau ada yang sampai melihat paha mulus istri nya itu.


"Kenapa mas menatap ku seperti itu?apa ada yang salah dengan pakaian aku?" tanya Raya sambil menatap kembali penampilan nya.

__ADS_1


"Kalau keluar rumah kamu jangan pakai baju seperti ini." Steven mulai mengoreksi penampilan Raya istri nya.


"Aku hanya mau, Grace." teriak Raya lalu berlari menghampiri kamar Grace.


Dirinya baru ingat kalau pagi ini belum menyiapkan kebutuhan Grace, Raya masuk ke dalam kamar Grace dan terus mencari nya, di rasa Grace tidak ada di kamar nya, Raya berlari dan masuk ke ruang makan.


"Pagi non, cari siapa?" tanya bi Siti yang sedang membersihkan meja makan.


"Grace kemana bi?" Raya bertanya dan mata nya melihat ke sekeliling mencari Grace.


"Non Grace sudah berangkat sekolah non bersama tuan dan nyonya.":


Raya terdiam lalu duduk di salah satu kursi.


"Maafkan mamah sayang, pagi ini mamah tidak membantu kamu menyiapkan keperluan kamu, ini semua gara-gara papah kamu." Bathin Raya dengan tangan menyentuh pelipis nya.


"Kenapa? pusing?" Steven bertanya sambil ikut duduk di samping Raya.


"Raya mengambil piring kosong dan mengisi makanan untuk suami nya. "Aku tidak membantu dan mengantar Grace ke sekolah, ini semua gara-gara kamu mas."


"Kok mas yang di salahin?" tanya Steven yang tanpa dosa.


"Sudah tahu kita bangun kesiangan, pakai acara mengulangi lagi." Ucap Raya dengan wajah di tekuk nya.


Steven tersenyum melihat wajah kesal istri nya, "Sudahlah sayang, jangan di pikirkan, yang penting Grace sudah berangkat sekolah." Panggilan Steven membuat Raya sedikit kaget dan menatap Steven.


"Ngga salah manggil aku sayang." gumam Raya.

__ADS_1


"Ngga, kamu kan istri aku jadi aku berhak memanggil kamu dengan panggilan sayang." Rupanya Steven mendengar ucapan dari Raya walaupun Raya bicara dengan nada pelan.


Hati Raya sangat senang dan bahagia sekali mendengar nya, tapi sebisa mungkin Raya bersikap biasa di depan Steven.


Sebenar nya Raya sudah bisa melupakan Fajar dan mulai menerima kehadiran Steven yang sekarang menjadi suami nya, tapi Raya tidak mau terlalu banyak berharap karena dirinya belum tahu dengan perasaan Steven yang sesungguh nya.


Mereka berdua menikmati sarapan nya dalam diam, mereka terus bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


"Seperti nya aku sudah jatuh cinta sama kamu Raya, aku bersyukur memiliki kamu yang sangat penyayang dan perhatian sama aku dan Grace, papah dan mamah tidak salah sudah menikahkan kita berdua, tapi sepertinya kamu belum bisa melupakan mantan pacar kamu itu.." Bathin Steven degan mata melirik ke arah Raya.


"Aku sekarang sudah bisa melupakan mas Fajar, dan seperti nya aku sudah mulai jatuh hati sama kamu mas, tapi aku tidak mau banyak berharap, karena aku takut kecewa dan sakit hati, aku tahu kalau kamu pasti masih belum bisa melupakan mbak Selena dari hati kamu, dan untuk semalam, aku melakukan nya hanya karena kewajiban semata, tapi tidak dengan apa yang kita lakukan sebelum kita mandi, aku melakukan nya dengan perasaan sehingga aku menikmati nya dari pada semalam." Bathin Raya dengan bibir sedikit tersenyum.


"Kenapa tersenyum? Ingat yang semalam ya?" bisik Steven yang melihat bibir Raya tersenyum.


"Apa sih mas, mesum pagi-pagi, aku tidak terlalu banyak berharap sama kamu mas, aku sadar diri kalau kita menikah hanya karena sedikit terpaksa, apalagi mas yang belum bisa melupakan mbak Selena dari hati mas."


Steven langsung menyimpan sendok dan garpu lalu menatap Raya, "Aku atau kamu yang belum bisa melupakan masa lalu, seperti nya kamu belum bisa melupakan si Fajar mu itu."


"Aku sudah melupakan dan mengubur dalam-dalam masa lalu ku bersama mas Fajar, jadi mas jangan menyebut nama nya lagi di hadapan ku." Raya sangat kesal dengan Steven yang sudah menganggap nya masih belum bisa melupakan Fajar.


"Jadi kamu sudah melupakan pria brengsek itu, ini berarti kesempatan aku untuk mengatakan perasaan aku yang sebenar nya." Bathin Steven dengan sangat bahagia.


"Tapi kenapa kamu masih memanggil nya dengan mesra begitu, ingat! Hanya aku yang boleh kamu panggil dengan panggilan mas, tidak ada pria lain yang di panggil mas lagi." Steven kesal karena mendengar Raya memanggil Fajar pakai kata-kata mas.


"Mas ini kenapa sih? Semalam bilang kalau aku ngga boleh tertawa di depan laki-laki lain, sekarang aku ngga boleh manggil mas kepada pria lain, aku heran mau nya mas itu apa sih." Raya kesal dan meninggalkan Steven sendirian.


"Dasar perempuan, begitu saja marah, sensitive sekali sih jadi orang." Steven berdiri dan nyusul Raya ke kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2