
Semenjak menampar pipi dokter Arif tadi sore, Farah tidak keluar kamar lagi, dia termenung dan menatap langit-langit kamar nya.
Terdengar suara ponsel nya terus berbunyi, tapi Farah hanya melirik melihat siapa yang menghubungi nya.
"Mau apa kamu menghubungi ku, bukan aku ini wanita murahan, dasar laki-laki sok suci." Gumam Farah sambil menyimpan kembali ponsel nya.
Tidak berselang lama terdengar suara pesan, Farah pun langsung membuka nya yang ternyata dari dokter Arif yang menyatakan permintaan maaf nya atas apa yang sudah terjadi sore tadi, dan dokter Arif juga mengatakan kalau dirinya ada di depan rumah pak Agam saat ini.
Farah langsung menuju jendela kamar nya, Farah mengintip dari balik tirai jendela, kebetulan posisi kamar Farah di samping kamar nya Grace.
Dengan perlahan dan hati-hati Farah menyibak sedikit tirai jendela nya, Farah melihat dokter Arif lagi berdiri sambil menatap ke arah kamar nya, karena memang kamar Farah seorang yang lampu nya masih menyala.
"Mau ngapain dia di situ, bodo amat lah mendingan aku tidur saja, aku sudah sakit hati dengan ucapan nya." Gumam Farah lalu kembali ke tempat tidur dan membaringkan tubuh nya setelah mematikan lampu kamar dan berganti dengan lampu tidur.
Farah tidak perduli dengan dokter Arif yang sedang berdiri di depan rumah pak Agam, Farah sudah terlanjur sakit hati oleh ucapan dokter Arif.
Farah terus berguling ke kanan dan ke kiri, mata nya dia pejamkan tapi pikiran nya terus kepada dokter Arif, Farah memang sakit hati dengan ucapan dokter Arif, tapi dirinya juga memikirkan dokter Arif yang sedang berada di luar tengah malam seperti sekarang, apalagi angin nya sedikit kencang.
Dengan sekuat tenaga Farah melupakan bayangan wajah dokter Arif, dia tidak mau lemah karena hanya dengan dokter Arif yang sedang berdiri di luar.
Lambat laun Farah menghilangkan wajah dokter Arif dalam ingatan nya dan tertidur pulas sambil memeluk guling.
Sedangkan dokter Arif yang masih setia berdiri masih setia menatap rumah besar pak Agam, para penjaga rumah pak Agam melihat kasihan kepada dokter Arif, tapi mereka tidak mau ikut campur dengan urusan penghuni rumah nya.
"Farah aku mohon angkat telepon nya." Gumam dokter Arif sambil terus menghubungi no Farah.
Hari sudah larut dan dokter Arif masih berdiri di posisi nya sejak awal membuat seorang satpam menghampiri nya.
"Pak dokter, lebih baik pak dokter pulang saja, karena saya yakin kalau non Farah sudah tidur, lampu nya saja sudah di matikan." Ucap salah satu satpam jaga sambil menunjuk ke arah kamar Farah.
__ADS_1
Dokter Arif menatap kamar Farah, "Ngga pak, saya mau di sini saja, saya tidak akan pergi sebelum saya bertemu dengan Farah." Jawab dokter Arif sungguh-sungguh.
Satpam jaga hanya menggelengkan kepala nya, dia ngga habis pikir sama dokter Arif yang rela berdiri di luar hanya demi seorang perempuan.
"Kalau begitu pak dokter istirahat di pos saja, biar ngga pegel, nanti kalau non Farah keluar saya akan membangunkan pak dokter." Ucap nya, para pekerja yang bekerja di rumah pak Agam memang sudah mengenal dokter Arif, karena dokter muda ini adalah dokter keluarga nya pak Agam.
"Baiklah pak kalau begitu, tapi saya mohon kalau Farah keluar kasih tahu saya." Ucap dokter Arif.
"Baik pak, nanti saya langsung bangunkan bapak jika non Farah keluar dari kamar nya."
Dokter Arif mengalah dan masuk ke pos satpam, dokter Arif merebahkan tubuh nya yang lelah di bangku panjang yang ada di pos satpam tersebut dan tidak membutuhkan waktu yang lama dokter Arif pun tertidur karena kelelahan.
******
Pagi hari Farah membuka kedua mata nya, dia teringat akan sosok dokter Arif yang semalaman berdiri di luar, Farah langsung bangun dan turun dari tempat tidur lalu menghampiri jendela kamar nya.
"Ternyata kamu tidak sungguh-sungguh pak dokter, aku kira mau seperti yang ada di film-film romantis berdiri di luar rumah sampai pagi, walaupun hujan turun dia akan tetap berdiri sampai hati aku luluh, tapi ini malah pergi begitu saja." Gumam Farah lalu kembali menutup tirai nya.
"Sudah lah Farah, lupakan dokter Arif, sekarang kamu fokus dengan cita-cita kamu." Ucap Farah lalu pergi ke kamar mandi.
Setelah di rasa sudah rapih dengan penampilan nya, Farah siap-siap berangkat kerja tapi sebelum nya Farah ikutan sarapan dulu dengan keluarga pak Agam.
"Pagi semuanya, wah tumben masih pagi begini sudah kumpul di sini?" Tanya Farah sambil duduk di kursi nya.
"Kita sengaja berangkat pagi, kan dua hari lagi kita mau ada acara, dan hari ini kita usahakan kerjaan kita selesai semua nya." Ucap pak Agam.
"Oh iya ya, berarti aku juga harus menyelesaikan kerjaanku, mana kemarin aku ngga masuk lagi, ya sudah aku nebeng sama kakak ipar boleh?" Ucap Farah sambil menikmati sarapan nya.
"Kamu diantar pak sopir aja sekalian antar Grace ke sekolahan nya bagaimana? Jadi Grace ada teman nya." Ucap Steven.
__ADS_1
"Baiklah, makasih ya kak." Ucap Farah.
Raya menatap Farah dari semenjak Farah masuk ke ruang makan, banyak yang ingin di tanyakan Raya kepada Farah perihal semalam, tapi Raya merasa ngga enak karena di sana ada suami dan mertua nya, Raya pun mengurungkan niat nya untuk bertanya kepada Farah.
"Papah berangkat ya mah." Ucap pak Agam setelah selesai dengan sarapan nya.
"Aku juga berangkat ya sayang." Steven berdiri dan pamit kepada istri nya.
Raya dan bu Maria serta Gustav yang berada di dalam gendongan Raya mengantarkan nya sampai depan rumah.
"Lo mah, bukan nya itu mobil nya dokter Arif?" Tanya pak Agam yang membuat semua mata menatap nya.
"Iya pah, tapi kok dokter Arif nya ngga keluar ya." Ucap bu Maria sambil menatap heran mobil dokter Arif.
"Pak, sini sebentar." Teriak Steven kepada salah satu satpam jaga.
"Iya den ada yang bisa saya bantu." Ucap pak satpam.
"Bukan kah itu mobil nya dokter Arif, terus dokter Arif nya kemana?" Tanya Steven.
"Pak dokter masih tidur di pos den, mau saya bangunkan tapi kasihan seperti nya nyenyak banget tidur nya." jawab pak satpam.
"Apa!" Teriak mereka semua secara bersamaan.
"Kenapa dokter Arif tidur di pos?" Tanya bu Maria.
"Semalam dokter Arif ingin menemui non Farah, tapi seperti nya non Farah sudah tidur, saya suruh pulang tapi dokter Arif tidak mau pulang sebelum bertemu dengan non Farah, jadi saya suruh istirahat di pos saja."
Pak Agam, bu Maria, Steven dan juga Raya hanya diam sambil saling menatap heran.
__ADS_1